Dilema Palestina

Jakarta – Oleh : M. Aji Surya*

Gempuran Israel terhadap wilayah Gaza yang mengakibatkan seribuan korban sipil tak berdosa akhir-akhir ini sama sekali tidak bisa dibenarkan dari perspektif apapun. Apakah itu dari angle hukum internasional, agama, tradisi, konvensi maupun moral. Serangan balik itu secara jelas bersifat eksesif, massif, penuh motif dan dalam batas-batas tertentu bisa dimisalkan dengan pembunuhan massal atau genosida.

Apalagi serbuan angkatan darat yang dimulai pada hari Sabat kemarin mengingatkan kita pada arogansi Israel terhadap kedaulatan wilayah Libanon beberapa waktu lalu. Ketika keamanannya terusik, maka ganjaran yang harus diterima sang pelaku haruslah jauh lebih berat. Seolah ada sebuah message yang ingin disampaikan, “jangan pernah bermain-main ama gue jika elo kagak mau babak belur”. Tidak perlu asas keseimbangan apalagi keadilan. Persis seperti preman pasar Kebayoran Lama yang lahan parkirnya hendak diserobot.

Belajar dari pengalaman sejarah sejak berdirinya Israel yang kemudian mengakibatkan “konflik saudara” dengan Palestina, maka terdapat kemungkinan berlakunya konsep tumbu entuk tutup atau the dream comes true. Ungkapan Jawa ini sebenarnya lebih menggambarkan adanya sebuah asa yang tiba-tiba menjadi kenyataan. Serangan roket oleh Hamas yang mungkin hanya dimaksudkan untuk menunjukkan taringnya, ternyata mendapat sambutan ganas dari Israel yang memang berkehendak untuk ekspansi. Karenanya, jangan pernah kaget bila hasil kesepakatan yang akan diteken kemudian akhirnya hanya membuat peta Palestina semakin ciut dan terkurung.

Perang tanding tanpa banding itu kemungkinan besar akan terus berlangsung sebagai suatu wujud dari usaha mengenyahkan bangsa Palestina secara terpola, perlahan tapi pasti (vide peta Palestina dari waktu ke waktu). Keberanian Israel yang luar biasa tersebut sebagaimana dimaklumi merupakan konsekuensi logis dari konstelasi politik di tingkat internasional, regional dan lokal yang sedang berlangsung.

Berakhirnya Perang Dingin yang telah menjadikan Amerika the only single super power adalah kemenangan Israel tiada tara. Apalagi negeri Paman Sam tersebut dalam 8 tahun terakhir dipimpin oleh Partai Republik yang memiliki gen dan kebijakan hajar bleh. Simbiomutualisme antara keduanya terpadu dengan apik dan teraplikasikan tanpa kritik berarti. Bahkan, negara berdaulat pun bila dianggap sebagai ancaman bisa ditekuk sejak dini (pre-emptive strike) dengan alasan para pemimpinnya adalah sohib-sohib para setan yang terkutuk (baca konsep Poros Setan).

Di sisi lain, mantan adidaya Rusia –suksesor resmi Uni Soviet- yang sedang bermetamorphosa menjadi negara demokratis jelas sangat sibuk dengan urusan dapur sendiri, antara lain meredam perpecahan internal lebih dalam, pembangunan sistem hingga urusan meningkatkan kesejahteraan rakyat dalam kerangka welfare state. Pelemahan ini jelas telah membuat Israel tambah pede, tidak memiliki rasa takut apalagi khawatir terhadap sepak terjangnya terhadap Palestina. Apapun yang dibuatnya selalu mendapatkan back-up di berbagai fora. Rancangan Resolusi DK PBB yang bersifat mengecam (condemn) Israel misalnya, dibuat mati suri oleh ancaman veto.

Negara-negara di dunia yang sangat gerah dengan premanisme Israel terus merangsek dengan beragam proposal namun semua itu tidak banyak bermakna ketika ditentang oleh kelompok adidaya. Gelombang protes di banyak negara dianggap angin lalu dan diyakini akan reda dengan sendirinya setelah kehabisan suara dan kelelahan. Perasaan HAM tidak terusik dengan ratusan korban sipil yang bergelimpangan. Radar transendental juga tidak nyambung melihat matinya anak-anak tak berdosa.

Akhirnya, apa yang bisa diupayakan oleh masyarakat internasional yang masih memiliki hati nurani adalah memberikan bantuan kemanusiaan melalui berbagai mekanisme sambil menyerukan perdamaian yang adil. Kegiatan semacam ini tidak akan mendapat tentangan dari negara manapun selama tidak menghambat target politis Israel.

Di tingkat regional, kecaman terhadap Israel yang muncul ke permukaan dalam berbagai pertemuan telah menjadi semacam auman singa tak bertaring. Tidak menakutkan tapi malah menggelikan. Bani Israel sudah sangat fasih mengetahui bagaimana carut marutnya persatuan negara-negara sekitarnya. Meskipun Israel menjadi common enemy tetapi di sisi lain adalah common friend yang akhirnya menimbulkan sikap ambivalensi. Apalagi di masa lalu, perang melawan Israel hanya mengakibatkan kebuntungan seperti yang dialami oleh Mesir.

Memang, masih terdapat beberapa negara di kawasan yang berpotensi untuk memberikan bantuannya kepada Hamas dalam bentuk lebih luas, namun tetap saja mereka dalam posisi wait and see sambil mengkalkulasi untung dan ruginya. Dus, kekejaman Israel hanya mampu menyulut sebatas kemarahan dan kegeraman, tetapi tidak memunculkan persekutuan.

Babak belurnya persatuan di kalangan negara Arab juga terefleksi dari kenyataan domestik Palestina sendiri. Setelah meninggalnya Yasser Arafat , antara Hamas dan Fatah semakin tidak akur. Meskipun terdapat pemerintahan bersama, namun pada tataran riil Palestina terbelah menjadi dua yang sangat susah disatukan. Perbedaan visi dan garis perjuangan menjadikan mereka sulit berkolaborasi dan sering saling tuding. Padahal tanpa persatuan maka kemenangan hanya sebatas angan-angan dan sesuai peribahasa yang mereka amini: al ittihad asasun najah.

Kalau kita mau jujur, melihat kompeksitas permasalahan dan kepentingan dari masing-masing pihak, implementasi persatuan akan merupakan bagian paling alot dan barang paling mahal dalam perhelatan bangsa Arab dari dulu hingga kini.

Dengan demikian, maka elemen yang paling esensial untuk mereduksi niat buruk dari Israel hanyalah menegakkan persatuan. Persis seperti saat Indonesia menjunjung tinggi persatuan nasional dari Sabang sampai Merauke untuk melawan penjajah. Common enemy harus dijadikan alat perekat aneka perbedaan untuk mencapai kemenangan sejati.

Di Indonesia sendiri, pembelaan masyarakat dan pemerintah terhadap penderitaan Palestina selalu tegas dan konsisten dari waktu ke waktu. Sikap ini tentu sangat terkait dengan pengalaman kesejarahan dan penghayatan dari Dasasila Bandung yang menggelorakan kemerdekaan bangsa-bangsa di dua benua. Menurut catatan, dari 116 bangsa peserta KTT Asia Afrika 1955 hanya Palestina yang hingga kini belum merdeka secara penuh. Rasa pahit dan getir diinvasi oleh pihak asing telah menghasilkan jiwa patriotisme bangsa Indonesia.

Nah, yang penting kita perhatikan saat ini adalah, pengerahan massa besar-besaran membela Palestina akhir-akhir ini jangan sampai ditunggangi oleh kepentingan jangka pendek kelompok tertentu, apalagi hanya dipakai sebagai komoditi stimulan pemilu tahun 2009. Sungguh, derita Palestina harus disikapi dengan hati nurani dan keberanian berekspresi, bukan yang lainnya. Hal ini mahapenting agar masyarakat kita tidak keseringan terjebak pada agenda yang tidak diketahuinya.

Keterangan Penulis:
*) Penulis adalah alumni Pondok Modern Gontor, Jawa Timur, kini tinggal di Moskow
(gst/es)

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s