Monthly Archives: September 2009

Tepat Tengah Malam Aku Menulis

Hujan deras dan petir yang bergemuruh kini mulai reda. Perlahan masih terdengar suara rintik hujan. Sudah malam, tapi aku belum tidur. Di dada ini ada debaran jantung yang keras sekali. Kenapa ya? Apa karena pengaruh kopi yang kuminum tadi? Kalau dipikir, mungkin saja. Belakangan, sesudah minum kopi, jantung ini berdebar kencang! Ah, aku tidak mau kisahku sama dengan nenekku. Sepertinya aku tidak sanggup kalau harus benar-benar meninggalkan kopi serta makanan-makanan berkolesterol yang enak itu. Tunggu dulu, masih ada faktor lain. Sudah lebih dari setengah tahun (mungkin hampir setahun) aku tidak ikut pelajaran olahraga. Olahragaku hanya berdiri di bis umum sambil menunggu adanya kursi kosong yang bisa diduduki. Namun, aku tidak mau mengambi mata pelajaran itu di semester depan atau semester depannya lagi. Tapi kalau terpaksa, ya mau bagaimana lagi.

Ada yang mau kuceritakan. Bukan tentang diriku, tapi orang lain. Waktu itu aku pergi ke rumah saudara nenekku yang katanya masih tunggal buyut. Maksudnya masih satu buyut. Pertama datang ke rumahnya, kulihat ada anak perempuan dengan rambut sebahu sedang main komputer. Lalu seorang lelakiberusia 50-an menyambut kami dan menyuruh kami masuk. Aku dan lain duduk di ruang tamu. Panas? Bukannya kipas angin itu menyala? Lelaki tadi menyuruh kami pindah ke ruang tengah. Katanya di sini panas. Syukurlah, aku tidak tersiksa dengan kepanasan.

Aku pindah. Di sini dinginnya terlalu kontras dengan tadi. Apa mungkin merek kipas anginnya yang berbeda? Tak tahulah. Lelaki tadi mulai memperkenalkan dirinya. Ternyata dia pernah menjadi murid nenekku. Dia memperkenalkan istrinya. Juga memperkenalkan anak perempuan tadi. Hei, itu anak laki-laki! Tapi rambutnya gondrong. Pasti anak ini baru saja lulus SMA dan sedang kuliah. Tebakanku benar. Aku melihat foto-foto yang dipasang di dinding. ‘Nggak nyangka ya, di sini anak-anaknya alay semua,’ kataku dalam hati. Astaghfirullah, teganya berkata seperti itu.

Sebenarnya, aku sendiri masih belum dapat mendefinisikan orang yang bagaimana yang disebut alay. Aku sering mengobrol dengan teman-teman yang lain, bibir ini mengucap lirih kata alay. Mereka langsung menoleh dan berkata,”Huss, jangan ngomong alay!”. Eh ya, maaf.

Para orang tua itu masih mengobrol dengan asyiknya dalam Bahsa Jawa. Aku diam saja, lha wong kulo boten saget Boso Jowo. Aku mengerti sedikit-sedikit apa yang mereka bicarakan. Lelaki tadi menceritakan tentang kelima anaknya, yang sulung itu perempuan dan sudah menikah. Yang ketiga sudah lulus kuliah, masih pengangguran, dan sedang mencari pekerjaan. Yang keempat mahasiswa ekonomi di sebuah univeristas swasta, sudah semester sembilan, dan belum juga lulus. Sedangakn bungsu adalah anak yang tadi kukira perempuan.

Ada yang dilewatkan. Bagaimana dengan anak kedua? Sebelumnya kulihat ada stiker bertuliskan OYTES. Pasti maksudnya itu SETYO. Mungkin saja itu anak kedua.

Selanjutnya aku mendengar teriakan dari belakang. Keras dan berulang-ulang. Dari kamar di belakangku, pastilah ia si Setyo itu. Tebakanku benar lagi.

Istri lelaki tadi masuk kamar mencoba menenangkannya. Nenekku juga masuk, melihatnya. Aku bangkit dari duduk lalu berdiri di pintu kamar. “Ini ada nenek dari Tegal,” ujar sang ibu. “Ndeso!” jawab sang anak. Nenekku tersenyum dan mendoakan agar ia cepat sembuh. Sang anak meminta kerupuk. Si ibi keluar, “Masuk aja Dek, nggak pa-pa kok.” Aku menggeleng. Si ibu tadi kembali lagi dengan membawa beberapa kerupuk dan memberikan pada anak itu. Sang anak mengucapkan matur suwun dan terima kasih, berulang-ulang, keras, dan cepat. Apa iya, keluarga ini memakai Bahasa Jawa sebagai bahsa rumahnya? Setiap kali memulai menggigit, sang anak mengucapkan bismillahirrahmanirrahim dengan cara yang sama dengan sebelumnya.Tak terdengar jelas, seperti gumaman. Akhirnya semua yang berada di kamar itu disuruh keluar karena ia ingin khusyuk saat makan kerupuk.

Begitu malang nasib lelaki tadi dengan istrinya. Satu-satunya anak yang semangat kuliah, harus terkena penyakit otaksaat mengerjakan skripsinya. Bagiku itu kerasukan jin, namun jinnya kuat sekali. Lelaki paruh baya itu juga menambahkan, sejak 3,5 tahun yang lalu, tiba-tiba anak ini bisa Bahsa Jawa, dan belakangan suka ngomong kasar. Berbeda sekali dengan dulu, ia adalah anak yang penurut, pendiam, dan tidak bisa Bahasa Jawa. Ditemukan cairan di kepalanya yang membuat syaraf-syarafnya terganggu. Dokter angkat tangan, begitu juga pengobatan alternatif.

“Dulu saya seorang pelaut, yang jarang sekali di rumah. Kini saya sudah pensiun dan bingung mau melakukan apa. Tuhan seperti berkata, anakmu sakit, kau di rumah saja untuk merawatnya.”

Keceriaan di rumah ini perlahan menghilang.

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Aaargh…

Nulis apa ya? Kok jadi hilang ide gini sih? Keberatan nama dong…

Ngomong-ngomong liburannya tinggal seminggu lagi. Yah, cepat sekali. Sebenarnya saya ada PR, tapi gimana yah? Mmm

Yampun, gak jelas banget tulisannya…

Dari kemarin-kemarin saya masih merenung dengan lirik lagu ini:

Satu cerita tentang manusia
Coba ‘tuk memahami arti cinta
Benarkah cinta di atas segalanya
Hanyakah itu satu-satunya

Yang menjadi alasan untuk menutup mata
Tak melihat dunia yang sesungguhnya
Dan menjadi jawaban atas semua tanya
Yang kita harap mampu mewujudkan sebuah akhir bahagia

Buka mata hati telinga
Sesungguhnya masih ada yang lebih penting dari sekedar kata cinta
Yang kau inginkan tak selalu
Yang kau butuhkan mungkin memang yang paling penting
Cobalah untuk membuka mata hati telinga

Adakah kau rasakan kadang hati dan fikiran
Tak selalu sejalan seperti yang kau harapkan
Tuhan tolong tunjukkan apa yang ‘kan datang
Hikmah dari semua misteri yang tak terpecahkan

Yang jadi masalah itu, lirik ini saya kirim ke seseorang, dan orang itu sepertinya kesal, marah, benci. Apa memang harus begini? Sering bikin sakit hati. Memang benar minta maaf itu susah rasanya. Susah banget, mungkin ego saya terlalu tinggi. Tapi katanya lebih susah memaafkan. Saya mau minta maaf, tapi takut.

Pokoknya inti dari tulisan kali ini, saya mau ngerjain PR. (Amalan sebulan + idul fitri)

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Aaargh…

Nulis apa ya? Kok jadi hilang ide gini sih? Keberatan nama dong…

Ngomong-ngomong liburannya tinggal seminggu lagi. Yah, cepat sekali. Sebenarnya saya ada PR, tapi gimana yah? Mmm

Yampun, gak jelas banget tulisannya…

Dari kemarin-kemarin saya masih merenung dengan lirik lagu ini:

Satu cerita tentang manusia
Coba ‘tuk memahami arti cinta
Benarkah cinta di atas segalanya
Hanyakah itu satu-satunya

Yang menjadi alasan untuk menutup mata
Tak melihat dunia yang sesungguhnya
Dan menjadi jawaban atas semua tanya
Yang kita harap mampu mewujudkan sebuah akhir bahagia

Buka mata hati telinga
Sesungguhnya masih ada yang lebih penting dari sekedar kata cinta
Yang kau inginkan tak selalu
Yang kau butuhkan mungkin memang yang paling penting
Cobalah untuk membuka mata hati telinga

Adakah kau rasakan kadang hati dan fikiran
Tak selalu sejalan seperti yang kau harapkan
Tuhan tolong tunjukkan apa yang ‘kan datang
Hikmah dari semua misteri yang tak terpecahkan

Yang jadi masalah itu, lirik ini saya kirim ke seseorang, dan orang itu sepertinya kesal, marah, benci. Apa memang harus begini? Sering bikin sakit hati. Memang benar minta maaf itu susah rasanya. Susah banget, mungkin ego saya terlalu tinggi. Tapi katanya lebih susah memaafkan. Saya mau minta maaf, tapi takut.

Pokoknya inti dari tulisan kali ini, saya mau ngerjain PR. (Amalan sebulan + idul fitri)

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Satu Hari di Hari Raya

Ada yang kurang di lebaran kali ini. Apa ya? Nanti aja deh ngebahasnya. Lebaran tahun ininggak mudik. Ada yang tahu kenapa? Oh, nggak tahu ya? Ya udah, saya jawab sendiri aja. Ada bayi mungil di yang baru hadir di keluarga kami. Benar-benar mungil, dan sering sekali menangis. Kalau tidak menangis ya tidur. Jadi nggak mungkin kami membawanya pulang kampung. Terus ngapain dong? Tau nih, GJ…

Diawali dengan bangun tidur, alhamdulillah belum shubuh. Sholat, setelah itu mandi. Tumben mandinya rajin, nggak disuruh dulu. Eh, adzan deh, yeh cepet banget banget sih malamnya? Ya udah, sholat shubuh. Habis itu enaknya ngapain ya? Akhirnya diri ini memutuskan untuk online. Yampun, dasar! Kemudian, saya makan. Ada ketupat sama rendang tuh. Wah, udah sebulan nggak makan nih. Makannya banyak banget. Nyuci piring deh. Yu Tari-nya minta cuti, jadi biasanya saya yang dapat tugas ini.

Sholat Ied dilakukan di Masjid Nurul Iman. Dekat sih, jadi kesandung juga sampai. Pulangnya, saya nungguin siapa aja yang akan bertamu. Yes, dapat tamu juga. Siapa mereka? Yu Tari sama suaminya. Ya gpp deh. Saat mama menawarkan kue, baru sadar, “Lho, podho yo kuene?”. Ya iyalah, belinya aja sama mereka. Selesai mengobrol, mereka pamit.

Biasanya, kalau lebaran itu suka ada anak-anak kecil yang datang ke rumah untuk mencoba kue-kue. Saat pamit, sang pemilik rumah memberi uang kepada anak-anak tersebut. Saya tunggu, tapi tetap saja tidak ada. Ya sudah deh, saya saja yang jadi anak kecilnya. Saya makan sendiri kue-kuenya. Nggak sendiri sih, kakak dan adik juga ambil kuenya.

Selanjutnya kami pergi jalan-jalan. Lama sudah perjalanan, sampailah kami di Danau Lido. Ingat ya, namanya Lido bukan Lide. Di sana ngapain ya? Ya udah tidur-tiduran aja biar enak.

Pulang ke rumah, sudah malam. Sebenarnya saya online dulu sebelum tidur.

Hari Rayanya begitu saja. Atau saya yang menceritakannya dengan tidak baik? Ya sudahlah.

*Blog ini diketik dengan merenung sambil mendengar lagu Buka Mata Hati Telinga yang diulang-ulang.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Wah, Mau Lebaran Nih!

Iya, ternyata bentar lagi mau lebaran. Itu artinya… Ramdahannya mau habis. Sayang beribu sayang nggak dimanfaatin. Iya emang, saya saja masih main MP sampai sekarang. Coba kalau sepanjang tahun adalah ramadhan. AAAhhhh udah ah..

Selamat Hari Raya Idul Fitri
Mohon Maaf Lahir dan Bathin
Semoga kita disampaikan pada Ramdhan tahun depan
dan Ramadhan tahun ini membawa perubahan bagi kita
amin

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Saya Bingung, Saya Tak Mengerti (Yang Penting Senyum)

Saya bingung mau tulis apa. Di Media Locker banyak sekali tulisan yang setengah rampung dan entah kapan akan rampung. Biasanya buntu atau hilang mood di tengah jalan. Padahal di otak ini sudah memikirkan sampai akhir tulisannya. Saya jadi ingat Hukum Newton I disebut juga hukum kelembaman (Inersia). Sifat lembam benda adalah sifat mempertahankan keadaannya, yaitu keadaan tetap diam atau keadaan tetap bergerak beraturan.

Ternyata benar, saya harus berhenti dari keadaan hilang mood ini. Muka saya selalu masam. Tahu dari mana? Teman-teman yang bilang begitu. Kata mereka muka saya kalau diam itu seram banget. Ya, karena biasanya saya jarang ngomong dan sedikit tingkah, jadi muka saya tambah seram. Salah seorang pernah berkata, (sepertinya tidak pantas kalau disebut pernah, tapi sering, dan bukan hanya satu orang yang bilang begitu) “Senyum dong!”. Ya sudah, saya langsung senyum. Eh, malah ditambahkan, “Senyumnya jangan terpaksa gitu…” Rasanya senyum ini tulus banget deh. Tidak ada rasa keterpaksaan.

Terus, kalau ada yang minta foto bareng, saya biasanya malas ikut. Kadang-kadang sih iya. Mereka pasti bilang begini, “Latansa ikutan dong! Kan jarang-jarang kita foto bareng.” Ya sudah, ikut saja. “Mukanya jangan ditutup begitu. Nanti cantiknya hilang.” Ya sudah, nurut lagi. “Senyum dong!” Iya-in aja deh.

Dulu juga gitu, kalau teman-teman ngobrol bareng trus mereka ketawa keras banget. Tapi saya tetap diam. Kalau duduk juga agak terpisah sama yang lain. Jadi dibatasi, tempat aku duduk itu sisi murung, tempat mereka itu sisi senang.

Ya sudahlah, hukum inersianya kuat banget. Tapi tidak selamanya saya dalam keadaan diam kan?

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Yang Salah Itu Scanner, Pensil, atau Orangnya?

Nilai UTS sebagian sudah keluar. Hasilnya? Mmm, mungkin lebih baik tidak usah diceritakan.
Nah, sakarang saya mau cerita tentang sesorang yang sedang bernasib buruk. Itu lho, dia itu yakin nilai salah satu mata pelajarannya 9 ke atas. Tahu dari mana? Dia sudah memeriksa jawaban yang dia salin ke kertas lain. Aduuuh… bahasanya kaku banget ya!
Tapi, pas dia ngeliat hasilnya, nilainya malah lima komaan. Syereeem! Itu kok bisa gitu ya? Banyak yang bilang sih itu gara-gara pas ngebuletinnya yang salah. Bisa aja sih. Tapi alhamdulillah sampai sekarang saya nggak pernah ngalamin gituan meski selama ini saya kalau ngebuletin suka asal-asalan. Tapi tetep kepindai tuh… Saya juga bingung, anak yang urutan absennya di atas saya, di kertas hasil huruf-huruf namanya ngak kepindai semuanya. Bolong-bolong gitu hurufnya. Padahal saya waktu ngebuletin semua kotak nama saya isi kecuali dua kotak yang memang disisakan untuk spasi. Heeemmm… nasibku memang baik. Alhamdulillah

*Gak penting banget yah, nulis ginian…

Leave a comment

Filed under Uncategorized