Tepat Tengah Malam Aku Menulis

Hujan deras dan petir yang bergemuruh kini mulai reda. Perlahan masih terdengar suara rintik hujan. Sudah malam, tapi aku belum tidur. Di dada ini ada debaran jantung yang keras sekali. Kenapa ya? Apa karena pengaruh kopi yang kuminum tadi? Kalau dipikir, mungkin saja. Belakangan, sesudah minum kopi, jantung ini berdebar kencang! Ah, aku tidak mau kisahku sama dengan nenekku. Sepertinya aku tidak sanggup kalau harus benar-benar meninggalkan kopi serta makanan-makanan berkolesterol yang enak itu. Tunggu dulu, masih ada faktor lain. Sudah lebih dari setengah tahun (mungkin hampir setahun) aku tidak ikut pelajaran olahraga. Olahragaku hanya berdiri di bis umum sambil menunggu adanya kursi kosong yang bisa diduduki. Namun, aku tidak mau mengambi mata pelajaran itu di semester depan atau semester depannya lagi. Tapi kalau terpaksa, ya mau bagaimana lagi.

Ada yang mau kuceritakan. Bukan tentang diriku, tapi orang lain. Waktu itu aku pergi ke rumah saudara nenekku yang katanya masih tunggal buyut. Maksudnya masih satu buyut. Pertama datang ke rumahnya, kulihat ada anak perempuan dengan rambut sebahu sedang main komputer. Lalu seorang lelakiberusia 50-an menyambut kami dan menyuruh kami masuk. Aku dan lain duduk di ruang tamu. Panas? Bukannya kipas angin itu menyala? Lelaki tadi menyuruh kami pindah ke ruang tengah. Katanya di sini panas. Syukurlah, aku tidak tersiksa dengan kepanasan.

Aku pindah. Di sini dinginnya terlalu kontras dengan tadi. Apa mungkin merek kipas anginnya yang berbeda? Tak tahulah. Lelaki tadi mulai memperkenalkan dirinya. Ternyata dia pernah menjadi murid nenekku. Dia memperkenalkan istrinya. Juga memperkenalkan anak perempuan tadi. Hei, itu anak laki-laki! Tapi rambutnya gondrong. Pasti anak ini baru saja lulus SMA dan sedang kuliah. Tebakanku benar. Aku melihat foto-foto yang dipasang di dinding. ‘Nggak nyangka ya, di sini anak-anaknya alay semua,’ kataku dalam hati. Astaghfirullah, teganya berkata seperti itu.

Sebenarnya, aku sendiri masih belum dapat mendefinisikan orang yang bagaimana yang disebut alay. Aku sering mengobrol dengan teman-teman yang lain, bibir ini mengucap lirih kata alay. Mereka langsung menoleh dan berkata,”Huss, jangan ngomong alay!”. Eh ya, maaf.

Para orang tua itu masih mengobrol dengan asyiknya dalam Bahsa Jawa. Aku diam saja, lha wong kulo boten saget Boso Jowo. Aku mengerti sedikit-sedikit apa yang mereka bicarakan. Lelaki tadi menceritakan tentang kelima anaknya, yang sulung itu perempuan dan sudah menikah. Yang ketiga sudah lulus kuliah, masih pengangguran, dan sedang mencari pekerjaan. Yang keempat mahasiswa ekonomi di sebuah univeristas swasta, sudah semester sembilan, dan belum juga lulus. Sedangakn bungsu adalah anak yang tadi kukira perempuan.

Ada yang dilewatkan. Bagaimana dengan anak kedua? Sebelumnya kulihat ada stiker bertuliskan OYTES. Pasti maksudnya itu SETYO. Mungkin saja itu anak kedua.

Selanjutnya aku mendengar teriakan dari belakang. Keras dan berulang-ulang. Dari kamar di belakangku, pastilah ia si Setyo itu. Tebakanku benar lagi.

Istri lelaki tadi masuk kamar mencoba menenangkannya. Nenekku juga masuk, melihatnya. Aku bangkit dari duduk lalu berdiri di pintu kamar. “Ini ada nenek dari Tegal,” ujar sang ibu. “Ndeso!” jawab sang anak. Nenekku tersenyum dan mendoakan agar ia cepat sembuh. Sang anak meminta kerupuk. Si ibi keluar, “Masuk aja Dek, nggak pa-pa kok.” Aku menggeleng. Si ibu tadi kembali lagi dengan membawa beberapa kerupuk dan memberikan pada anak itu. Sang anak mengucapkan matur suwun dan terima kasih, berulang-ulang, keras, dan cepat. Apa iya, keluarga ini memakai Bahasa Jawa sebagai bahsa rumahnya? Setiap kali memulai menggigit, sang anak mengucapkan bismillahirrahmanirrahim dengan cara yang sama dengan sebelumnya.Tak terdengar jelas, seperti gumaman. Akhirnya semua yang berada di kamar itu disuruh keluar karena ia ingin khusyuk saat makan kerupuk.

Begitu malang nasib lelaki tadi dengan istrinya. Satu-satunya anak yang semangat kuliah, harus terkena penyakit otaksaat mengerjakan skripsinya. Bagiku itu kerasukan jin, namun jinnya kuat sekali. Lelaki paruh baya itu juga menambahkan, sejak 3,5 tahun yang lalu, tiba-tiba anak ini bisa Bahsa Jawa, dan belakangan suka ngomong kasar. Berbeda sekali dengan dulu, ia adalah anak yang penurut, pendiam, dan tidak bisa Bahasa Jawa. Ditemukan cairan di kepalanya yang membuat syaraf-syarafnya terganggu. Dokter angkat tangan, begitu juga pengobatan alternatif.

“Dulu saya seorang pelaut, yang jarang sekali di rumah. Kini saya sudah pensiun dan bingung mau melakukan apa. Tuhan seperti berkata, anakmu sakit, kau di rumah saja untuk merawatnya.”

Keceriaan di rumah ini perlahan menghilang.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s