Leyeh-Leyeh dan Pencarian Makna Hidup

Ibnu Sina pernah berkata, “Sesungguhnya kewajiban itu lebih banyak daripada waktu.” Setelah bertanya ke sana dan ke mari akhirnya ada yang menjawab,

“Karena waktu itu terus berlalu tanpa menunggu perubahan realita.”

[103:1] Demi masa.

[103:2] Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,

[103:3] kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Satu hal yang saya inginkan untuk saat ini yaitu menghabiskan waktu untuk berleyeh-leyeh. Mendapat liburan panjang, tidak ke mana-mana, tidur-tiduran sesuka hati, hingga online sepuasnya. Kata teman saya, “Membosankan sekali hidup seperti itu.”

Leyeh-leyeh, memang kurang familiar di masyarakat. Bisa juga disebut santai-santai, malas-malasan, tidak melakukan sesuatu. Saking berharganya kegiatan leyeh-leyeh, seorang penulis pernah menulis di bukunya menyebutkan leyeh-leyeh sebagai the art of doing nothing.

Leyeh-leyeh, kerap dirindukan orang-orang yang selalu merasa disibukkan oleh urusannya. Meneriakkan dalam hati pada Minggu malam, “I HATE MONDAY!” juga tersenyum sedikit pada akhir pekan, “Selamat datang hari libur, semoga dirimu tak lekas pergi.”

Saya ceritakan kisah ini pada ibu. “Makanya, kalau sekolah jangan di situ. Kan dulu nggak ada yang nyuruh kamu sekolah di situ. Mama dulu udah nyuruh sekolah di sekolah masmu aja. Eh, kamu malah ngotot. Ya udah rasakan akibatnya. Kamu nggak bisa pindah ke sekolah lain karena programnya beda.” Mmm, karma tidak menjadi anak penurut.

Saya ceritakan kisah ini pada teman. “Orang yang sukses itu, orang yang bangun di saat orang lain terlelap.”

Dan aku pun menyadari, entah kapan itu, waktu saya akan berhenti. Setiap saya memikirkan waktu, ajal terasa kian dekat. Dekat sekali. Saya selalu takut jika Dia bertanya,”Untuk apa saja kau gunakan waktu yang Kuberi?” Semoga lisan ini mampu menjawab, “Untuk berbadah kepada-Mu Ya Tuhanku”.

Makin terasa. Datangnya malaikat Izrail. Semoga kita semua tidak seperti yang disebutkan, “Yang paling bahaya adalah tulul aman yaituselalu cari dunia, panjang angan-angan, tamak pada dunia, serta merasa selalu hidup di dunia…”

Ya Alloh, matikan kami dalam khusnul khotimah.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s