Penggemar

Bel sudah berbunyi, sedangkan saya masih ada di lantai bawah. Huft! Kelas selanjutnya ada di lantai empat. Tertatih saya mulai menaiki tangga. Setelah sampai di ruang ter sebut, saya mulai mencari bangku kosong. Berkali-kali saya memutari namun belum juga menemukan. Dicari sekali lagi, akhirnya ada yang kosong. Di sebelahnya ada tas hitam. Mmm…sepertinya yang duduk di sebelahku nanti anak cowok. Yah sudahlah, daripada tidak dapat.

Yang duduk di sebelahku pun datang. “Latansa duduk di sini ya? Ya udah deh, gue pindah sebelahnya Yangyang aja,” katanya. Saya mengiyakan. Kebetulan gurunya belum datang, saya ambil buku dan menaruhnya di atas meja. Ketika akan membuka, sejenak saya membaca karya-karya tulis di meja. Apa ini? Ada sebuah tulisan dibuat dari jepretan staples bertuliskan IDE. Di depan huruf I ada bekas hurf L yang isi staplesnya sudah lepas. Siapa yang menulis ini? Biasanya saya duduk di depan, jadi tidak mungkin saya yang menulisnya.

“Hai Latansa Ide Cemerlang, duduk di sini ya?” kata teman saya yang di belakang. “Eh Japi, yang nulis ini siapa sih?” ujar saya seraya menunjuk. Dia melongok sebentar kemudian berkata, “Ciyeeeh, Latansa punya penggemar.” Saya pun hanaya tersenyum. Saya perhatikan tempat itu. Bagian kiri… Mengedarkan pandangan ke sekeliling… Biasanya yang duduk di sini cowok… Bzzzt…

Tuhan, tolong pegangi aku, biar ku tak jatuh pada sumur dosa…

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s