Jalan Lurus, Kamu Ada di Mana?

Pagi yang cerah. Selalu cerah. Kalau tidak cerah, aku akan tetap menyebutnya cerah. Hari libur selalu cerah. Secerah hari matahari (Sunday).

Aku bangun lebih pagi dari biasanya. Ya Allahu Rahman, terima kasih telah membangunkanku. Setelah shalat aku pergi berselancar di internet.

Aku masuk ke semua aplikasi pesan instan yang kupunya. Meski ratusan orang online, aku jarang mengobrol karena jarang ada orang yang menyapa. Mentari pagi semakin tinggi. Tiba-tiba ada pesan pop-up.

Junita
Za…

Izzata
Junita…

Junita
gak ke sekolah?

Izzata
gak

Junita
libur ya?

Izzata
iya
kamu sendiri gak sekolah?

Junita
uda tadi
sekarang udah pulang

Izzata
lagi ngapain?

Junita
lagi ol aja
bosan nih

Izzata
sama

Junita
main yuk

Izzata
main apa?

Junita
main ke smp yuk

Izzata
yuk

Junita
ya udah
aku ke rumahmu sekarang

Izzata
oce deh

Junita
aku dandan dulu

Izzata
iya

Izzata
eh, udah berangkat blm?

Junita
tunggu ni lagi siap2

Izzata
iya

Izzata
kok masih online?

Izzata
Nita…

***

“Za, itu ada temanmu main ke sini,” suara Yu Nani membuyarkan pikiranku. Aku langsung ganti baju. Setelah beres aku keluar.

“Kok udah dateng? Perasaan masih ol,” kataku.
“Nggak tahu deh. Langsung berangkat yuk!”
“Oh, naik motor. Sampai sekarang aku belum mahir mainnya.”

***

Sampai di sekola, kami dilarang satpam untuk masuk. Kan alumni. “Gimana nih?”. “Parkir aja depan ruko, Nit.”

Kami masuk dengan takut. Kok jadi takut gini ya? Supaya rasa takut hilang, kami mencoba jajan es di kantin. Jadi ingin SMP lagi.

Setelah habis, kami menaruh gelas kami. Pergi dengan percaya diri untuk bertemu gurunya. Kami salim pada setiap guru yang dilewati. Mereka menanyakan kabar kami Yang paling penting dan harus diingat, yang pertama mereka ucapkan : “cantik-cantik ya…”

Kami naik ke lantai dua. Waktu di tangga, ada adik kelas yang kaget melihatku. Pasti pikirnya, tumben aku mau datang ke sini. Nita menerima telepon, sedangkan aku berdiri di atas beranda melihat lapangan. Seorang guru memanggilku masuk. Aku masuk dan menyalimi guru-guru yang ada di sana. Ditanyai hal-hal seputar sekolah.

Tak lama Nita masuk juga. Ia juga ditanya hal yang sama denganku. Aku hanya melihat-lihat, tiba-tiba orang yang kuhindari lewat ruangan ini.

“Mario, ke sini!” panggil Bu Cahaya. Panggilan itu makin membuat pusing hatiku. Ingin rasanya sembunyi. Tapi di mana?

“Mario kangen nggak?” Bu Cahaya bicara lagi. Tentu saja yang ditanya kaget seperti kesetrum listrik. Apa-apaan sih guru ini. Kenapa pakai tunjuk aku segala? “Udah putus ya? Dasar anak-anak.” Huft, terserah ibu deh.

Nita berkata padaku bahwa tadi Ifah menelepon dan mengajak kami ke mal. Kupikir tidak ada salahnya aku ke sana. Toh, di rumah juga nggak ada kerjaan.

***

Akhirnya kami sampai meski pun jalannya putar-putar karena tidak tahu jalan. Kami langsung naik lantai ke bioskop. Selesainya urusan cari mencariIfah, kami lalu menemukannya. ia duduk di kursi meja. Di depannya hanya ada satu orang lelaki. Begitu datang, aku menggoyang-goyangkan kepalanya.

“Sama siapa aja?”
“Seperti yang lu lihat.”

Hah! Ada apa dengan Ifah? Dia hanya berdua ke bioskop ini. Apa yang dia pikir? Bagaimana kalau aku dan Nita tidak datang ke sini? Aku memperhatikan kode pakaian mereka. Pakaian putih-putih seragam sekolah dengan jaket abu-abu. Jaket mereka berwarna sama! Apa kepergian mereka ke sini juga sudah direncanakan? Lelaki itu mengangkat kepalanya yang sedari tadi terbenam di meja.

“Nggak perlu dikenalin, kan?” tanya Ifah.

Azim. Satu sekolah dengan Ifah. sementara Nita mengantri karcis, pikiranku melayang lagi. Mengingatkanku pada pertemuan beberapa minggu setelah SMP.

***

“Fah, kamu tulis di pesan katanya kamu lagi ada masalah,” kataku.
“Makanya, gue suruh lu ke sini buat dengerin.”
“Ya udah”
“Kenal Kak Azim, kan?”
“Iya, dulu aku pernah iseng add MSN dia. Tapi habis itu nggak pernah ngobrol.”
“Dia sering SMS-in gue.”
“Ya udah, nggak usah dibales.”
“Tapi nggak enak.”
“Dulu pertamanya gimana?”
“Dia kan ikut ekskul yang sama kayak gue. Sejak itu dia sering SMS. Gue takut, Za.”
“Habis itu?”
“Masa’ pacarnya Kak Azim baik banget sama gue.”
“Baik gimana?”
“Jadi waktu itu gue ada acara di sekolah. Pas pulang Kak Azim nawarin pulang sama dia. Dibonceng. Tapi gue langsung aja naik motornya Ida. Tahu nggak malamnya? Pacarnya Kak Azim bilang kalau pulangnya kesorean, pulang bareng Kak Azim aja. Kan gue jadi nggak enak.”
“Susah ya jadi anak SMA.”
“Dulu waktu mau SMP, kirain SMP itu gimana-gimana, nggak tahunya biasa aja. Waktu mau SMA, kirain SMA itu biasa aja, nggak tahunya gimana-gimana.”

***

“Masih satu setengah jam lagi nih,” kata Nita.
“Shalat dulu yuk,” ajak Ifah.

Setelah shalat Nita mengajakku makan. Ifah tidak ikut. Nggak tahu ke mana. Sedangkan makanku jadi lama sekali karena kebanyakan melamun.

Selanjutnya aku dan Nita pergi ke toko buku. Masih ada satu jam. Kami hanya berputar-putar sampai akhirnya Nita mengingat sesuatu.

“Oh iya, kenapa gue nggak nyari kado buat Junior ya?”
“Kado? Junior?”
“Dia kan bentar lagi ultah.”
“Kapan?”
“Besok lusa.”
“Junita dan Junior. Sama-sama lahir di bulan Juni.”
“Eh, pas banget ya? Gue baru nyadar.”

Aku melamun lagi. Yang kuingat Nita dan Junior pernah bertengkar. Kenapa bisa jadian? Apa benar istilah cinta tak kenal dengan logika?

“Junior SMS. Katanya yang bisa dilihat setiap hari.”
“Fotomu aja.”

Aku membayangkan jauh lagi ke belakang. Waktu aku, Nita, dan Ifah konferensi. Entah awalnya bagaimana, tahu-tahu kami membahas soal pacar pertama. Nita dan pacar pertamanya hanya berjalan dua minggu. Katanya orang itu pelit. Sampai-sampai naik angkot pakai bayar sendiri-sendiri. Sedang Ifah mempunyai pacar dari luar negeri. Kenal dari situs jejaring sebelum Friendster dan Facebook booming. Putus bebrapa hari kemudian gara-gara Ifah melihat foto orang itu, gendut. Sementara aku dan Mario hanya bertahan tiga hari. Kesimpulannya kami berusaha untuk tidak pacaran lagi.

“Gue bingung cari apaan. Pindah ke toko lain ya.”

Aku mengiyakan. Pandanganku beralih lagi. Aku tidak kuat waktu itu. Jantungku berdebar-debar sepanjang waktu setelah aku menerima tembakan dari Mario. Ajaibnya, jantungku kembali normal setelah putus. mungkin ini gara-gara melanggar komitmenku sendiri. Komitmen yang dibuat jauh setelah aku remaja. Tidak akan pacaran sebelum menikah.

***

Kini kami menonton film t
ersebut. Nita telah membeli buku diary yang katanya akan diisi fotonya dari bayi hingga sekarang. Judulnya Metamorfosis. Ifah duduk di samping Kak Azim. aku tak tahu di mana.

Film yang kami tonton banyak adegan ciumannya. Aku dan Nita sering sekali menutup mata. Ah, tumpukan dosaku menggunung tinggi sekali. Ya Ghofur, tolong ampuni hambamu yang hina ini.

***

Setelah selesai kami pulang. Di depanku Ifah dan Kak Azim jalan beriringan. Bahkan sampai sekarang aku belum menemukan alasan mengapa mereka jalan berdua. Tiba-tiba mereka membelok. Aku baca tulisan di atasnya : Musholla.

“Nit, kita nggak shalat dulu?”
“Nanti aja deh, takutnya telat ujian les.”

Hah! Siapa sekarang yang lebih mulia? Mereka yang shalat di awal waktu atau aku yang menunda-nunda? Kebingunganku tidak berhenti sampai di situ. Ketika aku membuka kotak masuk di facebook dan menemukan pesan dari Mario.

Za, aku tahu kamu pasti gak mau sama aku lg,tapi hati aku mash inget sama kamu aja,terserah kamu mau blg aku tkg maksa dsb,tapi aku inget kamu aja..gmn nih?

Jalan lurus, kamu ada di mana?

*Berdasarkan kisah nyata. Semua nama diganti kecuali saya. mohon maaf jika membuat tersinggung.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s