Jilbab Wajib Nggak, Sih?

Peserta terakhir itu lain dengan lainnya. Jika lainnya menggunakan rok, ia malah mengenakan celana jeans yang robek sedikit. Bukan hanya penampilan yang membuatnya berbeda, tapi juga isi pidatonya.

“Kali ini saya akan membahas tentang hijab. Sebenarnya hijab itu bukan saja istilah orang islam, tapi juga istilah orang Yahudi zaman dulu,” awalnya masih biasa-biasa saja.

“Orang Arab zaman dulu suka memakai long dress dan memakai kerudung yang hanya menempel kepala. Di bagian dadanya biasanya terlihat, makanya turun ayat ulurkanlah jilbab sampai ke dadamu,” memang, kerudungnya hanya dililitkan ke punggung.

“Mungkin saya akan memberikan materi yang berbeda dengan peserta lainnya,” apa ya?

“Yang saya tahu tidak ada batasan yang jelas dalam aurat wanita,” lho kok.

“Saya tidak mengatakan pemakaian jilbab itu wajib atau tidak. Tapi saya tidak membenarkan pakaian seperti tanktop atau hotpants. Saya menganjurkan pakaian yang sopan,” air muka juri berubah.

“Kalau dibilang untuk keamanan, sebenarnya di masyarakat Indonesia saja yang mengatakan itu senonoh. Tapi kalau di barat, orang biasa saja karena mungkin sudah biasa,” kejahatan juga bisa terjadi karena kesempatan, waspadalah.

“Di al-Qur’an tidak ada dalil yang secara jelas mengatakan rambut perlu ditutupi,” bukankah tutupi semua bagian tubuhmu kecuali yang biasa tampak?

“Kita tidak bisa mengatakan orang yang tidak memakai jilbab itu kafir. Mungkin mereka punya alasan sendiri mengapa tidak berjilbab. Sekali lagi saya tidak mewajibkan atau melarang jilbab. Tetapi saya menganjurkan pakaian yang sopan,” saya menoleh ke penonton di sebelah dan menaikkan alis.

“Saya juga selama ini mencari buku-buku tentang wajib atau tidak menggunakan jilbab. Kemudian saya menemukan banyaknya pandangan tentang itu. Jadi semuanya balik lagi ke kita sendiri,” saya jadi tambah bingung.

“Bukankah di al-Qur’an itu banyak kiasan supaya kita menggunakan akal kita? Kita itu disuruh mikir,” salah satu juri tersenyum.

Saya akui persoalan ini bagai menguraikan benang ruwet yang banayak simpulnya. Topik yang paling sulit dibahas selain babusy syaithan juga babun nisa. Penutupan aurat itu selain ada di al-Qur’an juga diterangkan di banyak hadits. Ketika peserta terakhir itu turun, saya mencoba berbisik dengannya, “Eh, bukannya di hadits ada ya, yang tutupi seluruh tubuhmu…” Dia memotong, “Kecuali ini dan ini, kan?” Dia menunjuk muka dan menyentuh tangan saya. Kalau dia tahu, kenapa dia bisa berpidato seperti tadi?

“Wahai Asma’ sesungguhnya seorang wanita itu apabila telah baligh (haid) maka tidak boleh baginya menampakkan tubuhnya kecuali ini dan ini, seraya menunjukkan wajah dan telapak tangannya.” [HR. Abu Dawud]. Kalau katanya perintah untuk menutup rambut tidak diungkapakan dengan jelas, itu tidak mungkin menyebutkan, rambut itu aurat, leher itu aurat, bahu itu aurat, sekalian saja semua anggota tubuh disebut satu-satu.

Jilbab itu juga bukan untuk alasan keamananan semata. Banyak alasan lain.

Pertama, menjaga kehormatan: Hijab sebagai upaya syar’i untuk menjaga atau melindungi kehormatan, dan mencegah semua hal-hal yang mengakibatkan terjadinya kecurigaan, fitnah dan kerusakan.

Kedua, kesucian hati: “Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka”( QS. al-Ahzâb: 53)

Ketiga, Kemuliaan akhlak atau budi pekerti: Hijab mengajak untuk senantiasa berakhlak mulia, seperti: memiliki sifat ‘iffah, kesopanan, rasa malu dan ghaîrah; serta menjaga diri dari akhlak buruk dan tercela, seperti: tidak punya rasa malu, bertingkah binal, bermoral hina dan rusak.

Keempat, sebagai tanda kesucian diri: “Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu” (QS. al-Ahzâb: 59)

Keenam, menjaga al-hayâ’ atau rasa malu: Dia menyukai kepada rasa malu dan perlindungan.

Ketujuh, hijab bisa mencegah masuknya budaya tabarruj, sufûr dan ikhtilât ke dalam komunitas masyarakat Islam.

Kedelapan, hijab sebagai benteng pertahanan terhadap perzinaan dan budaya serba boleh, sehingga seorang tidak menjadi singgahan bagi laki-laki hidung belang.

Kesembilan, termasuk bagian dari ketakwaan: “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang baik.(QS. al-A’râf:26)

Masih banyak yang lainnya…

Wallahu a’lam

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s