Nglaju Nglaju Perahu Nglaju

Kulihat Perahu Laju
Membawa Anganku Serta
Mengarung Pulau-pulau
Laut Lepas
Laut Senusantara

Eh, tapi sekarang bukan mau membahas Perahu Laju. Yang mau dibahas itu nglaju. Apa itu nglaju? Seingat dulu di SD, nglaju itu artinya perpindahan penduduk yang dilakukan setiap hari, biasanya karena pekerjaan. Waktu SD saya pikir, “Wah, kasihan juga ya orang-orang yang nglaju, pasti sampai rumah capek banget.” Waktu SD, wawasan saya masih sempit (memang sekarang sudah luas?) jadi kurang begitu paham maksud dari kata ini. Mata ini lalu melanjutkan membaca buku pelajaran Orang-orang yang melakukan nglaju biasanya bertempat tinggal jauh dengan lokasi bekerja. “Kalau lokasi bekerjanya jauh, kenapa harus mencari tempat kerja yang jauh? Atau kenapa nggak pindah rumah aja?” Maklum, waktu kecil saya suka pindah-pindah karena pekerjaan bapak yang beberapa tahun sekali mutasi. Saya baca lagi. Biasanya dilakukan oleh orang-orang yang bertempat tinggal di pinggiran metropolitan. Contohnya, orang-orang yang berdomisili di Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi biasanya bekerja di Jakarta. “Kasihan ya, kayak di kotanya nggak ada lapangan pekerjaan.”

Sekian tahun kemudian, saya baru mengerti kata ini. Lulus SD, saya melanjutkan sekolah di Jakarta. Saya tidak tahu mengapa harus sekolah di Jakarta, padahal sebelumnya saya bersekolah di Tangerang. Kata orang-orang sih, di DKI itu gratis (matreee). Setelah itu lagi-lagi saya melanjutkan sekolah di sana. Sekarang saya mulai paham, kalau dulu saya tetap di Tangerang, maka mutu pendidikan yang didapat kurang bagus. Bukan mau menjelek-jelekkan, SMA Tangerang yang terdekat sangat jauh dari rumah, apa lagi kalau yang bagus rata-rata ada di pusat kota.

Tiap hari pulang pergi, apa nggak capek? Jawaban sejujurnya sih capek. Waktu SMP, jarak rumah ke sekolah itu kira-kira 3 km (itu sih dekat ya?), jadi tidak terlalu capek. Waktu SMA, jarak rumah ke sekolah itu belasan km (nggak ngitung). Kalau berangkat, sebaiknya jangan lebih dari jam enam pagi, kalau lewat dari itu, anda termasuk orang-orang yang tidak beruntung. Sudah menjadi rahasia umum kalau Jakarta itu macet. Kalau pulang, biasanya akan memakan waktu satu jam. Sekali lagi, itu kalau beruntung. Yang sering terjadi, kita harus menunggu angkutan cukup lama. Kalau pun ada, belum tentu bisa naik karena biasanya penuh. Kalau sudah naik, kadang-kadang di tengah jalan sopir menurunkan penumpang dan menyuruh naik yang lainnya. Jangan harap dapat tempat duduk, jumlah kursi tidak mencukupi. Jika naik angkutan sekitar jam lima sore ke atas, maka waktu yang terpakai bertambah dua atau tiga kali lipat. Pokonya, yang sabar ya.

Ngekos? Iya sih, banyak teman-teman saya yang meilih untuk kos. Tapi itu karena mereka tinggal jauh sekali. Rata-rata biaya kos sejuta per bulan. Saya pernah wawancara anak IPB, katanya asrama di sana nggak sampai sejuta satu semesternya. Tapi masih lebih enak tinggal di rumah.

Sekianlah. Mau tidur dulu.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s