Berbagai Teori Tentang Orang Bodoh

Bismillahirrahmanirrahim

Dari dulu, saya bertanya-tanya, mengapa ada jahiliyah? Apakah mereka benar-benar bodoh? Mengapa mereka sangat menentang orang-orang beriman? Apa hanya karena takut pengikutnya menjadi sedikit? Mengapa bias ada orang-orang yang sampai akhir hayatnya tak juga beriman walau telah ditunjukkan berkali-kali jalan keselamatan? Mengapa ada orang-orang yang mengkultuskan nabinya padahal jelas-jelas nabinya berkata bahwa ia hanya manusia? Mengapa ada orang-orang yang sangat semaunya sampai harus mengaku-aku kalau dia tuhan? Dan masih banyak pertanyaan lainnya.

Jahiliyah itu artinya bodoh. Tapi sangat tidak mungkin jika bodoh yang dimaksud itu tidak bisa calistung, berpendidikan rendah, atau orang-orang dengan intelegensia di bawah rata-rata. Coba kita lihat, perbuatannya adalah buah karya dari taktik yang tidak sembarang.

Saya jadi ingat obrolan tadi, seorang teman saya berkata, “Kenapa ya, orang pintar yang gue tahu itu kebanyakan jadi orang jahat?” Untuk beberapa kejap kami terdiam, masing-masing menggumamkan doa, “Izinkanlah aku menjadi orang pintar, tapi janganlah Engkau membuat aku menjadi orang jahat.”

Memang, beberapa orang pintar itu akan menjadimorang yang jahat. Contohnya metode ilmu kalam, yaitu menempatkan akal sebagai hakim tertinggi kebenaran. Sayang tidak ada batasan. Semua mengklaim kebenaran di pihaknya setelah memikirkan hakikat tentang tuhan , manusia, kebenaran, alam, dan kehidupan. Mimpi besar mereka, menyingkap hakikat ketuhanan justru menghasilkan berbagai pemikiran aneh yang sifatnya akal-akalan.

Pakar Ilmu Kalam, Muhammad ibn ‘Abdul Karim Asysyahrastani berkata, “Telah kujelajahi balai-balai pendidikan ilmu kalam itu seluruhnya, dan kuarahkan mataku di antara rambu-rambunya. Namun yang kutemui hanyalah orang yang duduk bertafakur kebingungan, atau gemeretak giginya karena menyesal.”

Semoga kita tidak terlalu meninggikan akal kita sehingga menjadi orang-orang jahiliyah. Berikut beberapa teori tentang jahiliyah.

1. Teori Bapak Kebodohan
Ia bernama ‘Amr ibn Hisyam, lebih dikenal sebagai Abu Jahl, beberapa orang memanggilnya Abul Hakam. Itu artinya ia masuk dalam lingkaran pemerintahan (hukumah), memiliki hikmah kebijakan (Hakiim) dan memiliki kewenangan legislasi dan yudikasi karena kecerdasan dan ilmunya (Haakim).

Jahiliah bisa lahir dari rahim ketidaktahuan yang diiringi persangkaan, kedunguan dan logika yang dipaksakan, kesalahpahaman yang diwarisi temurun, tapi tak jarang dari oknum berpengetahuan yang sombong dan gengsi, atau kekuasaan menindas yang tak ingin kehilangan posisi.

2. Teori Perantara
‘Amr ibn Luhay, dikenal sebagai orang yang penuh kebajikan, penuh derma dan shadaqah, serta apresiatif dalam urusan agama. Suatu hari ia pergi ke Negeri maju bernama Syam, pulangnya ia membawa Hubal (patung berhala) yang alirang menyembah barhalanya diikuti dataran Hijjaz sampai Yaman. Bergabung dengan Manata, Lataa, dan Uzza. Ia juga melakukan penggalian berhala kaum Nuh yang konon di sekitar Jiddah, dia berhasil. Bahkan ritual haji pun diubah sehingga dibuat niatnya menjadi karena berhala. Dia bias membuat banyak daerah menjadi penyembah berhala hanya sebab melihat negeri maju yang menyembah berhala dan menganggap itu kebenaran.

3. Teori Logika Perantara
Menurut teori ini, “Allah adalah Dzat yang menciptakan kita. Dia itu Maha Tinggi, Maha Mulia, dan Maha Suci. Kita hanya makhluk rendah, hina, dan penuh noda. Sungguh tak pantas makhluk yang rendah, hina, dan penuh noda, menengadah langsung. Jadi kita butuh perantara.”

Contohnya Al Lataa, ditafsir sebagai bentuk feminine dari kata Allah. Jika datang jama’ah haji ke Makkah, maka mereka mampir ke rumah Lataa, menikmati roti, minum, dan meminta akomodasi.

Logikanya, “Mintalah hal yang remeh-temeh kepada Lataa. Minta kepada Allah tidak pantas. Pasti karena ‘jasanya’, Lataa sudah diberi banyak kewenangan oleh Allah di surga sana untuk menentukan nasib kita di dunia. Buat apa menyembah Allah kalau Lataa lebih pengertian?”

4. Teori Ajaran Nenek Moyang
Menurut teori ini, “Bapak-bapak kita berada di atas suatu nilai, dan kita akan mendapat petunjuk dengan mengikuti jejaknya. Salah satu penganut teori ini adalah Abu Thalib, biar pun Muhammad SAW menangis di sisinya untuk mengucapkan Laa Ilaha Illallah menjelang kematiannya, namun gumaman terakhirnya adalah, “Tetap pada agama ‘Abdul Muthalib. Tetap pada millah nenek moyang.” Ayat ke-170 surah Al-Baqarah berbunyi, “Apakah demikian, walau pun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui sesuatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?”

5. Teori Bukit Shafa
Suatu hari, Muhammad SAW mengumpulkan Bangsa Quraisy di Bukit Shafa, lalu menjelaskan pada semuanya bahwa ia adalah pembawa kabar gembira. Namun Abu Lahab maju sambil mengacungkan telunjuk ke wajah Rasulullah, “Binasa engkau Muhammad! Apakah untuk urusan seremeh ini kami semua kau kumpulkan!” Saat itu turun ayat, “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa!”

Untuk apa Abu Lahab marah-marah? Ini dia. Apa jadinya bisnis peribadahan pagan yang menghidupi dirinya dan penduduk Makkah jika ajaran Muhammad itu diterima? Apa jadinya jika Quraisy tak lagi menjadi pemimpin seluruh jazirah dalam system kepercayaan yang menurut mereka adalah warisan Ibrahim meski ia sendiri ragu tentang itu? Apa jadinya jika budak sekedudukan dengan tuannya? Ah, ia tak bisa membayangkan betapa kacau hidupnya kelak. Laa ilaaha illallah berarti penghapusan terhadap segala klaim yang selama ini menjadi sumber penghidupan dan kedudukannya.

6. Teori Fir’aunis
Teori ini dipelopori oleh Fir’aun : menginjak, memperbudak, menyeleweng, dan mempertuhan diri.

Salah satu penganut teori ini adalah Napoleon Bonaparte, tepatnya 1798, Napoleon menyerbu Mesir, negeri kaum muslimin. Negeri di mana Fir’aun pernah mengabadikan namanya sebagai Sang Tiran. Mungkin ada benarnya jika ada yang mengatakan bahwa dari sinilah, -dari Fir’aun-, Napoleon belajar menjadi Tiran Eropa.

7. Teori Wacana
Teori ini mencoba memproduksi pemikiran jahiliyah dengan wacana, padahal wacana selalu memegang peranan penting yang menentukan arah perjalanan suatu masyarakat.

Inayet Nahvi pernah menulis sebuah buku berjudul ADL, Censors of The Universe. ADL, kependekan dari Anti Defamation League, adalah kumpulan aktivis pro-zionis di Amerika yang memusatkan kegiatannya pada propaganda melalui pers untuk mendukung Zionisme dan menangkis semua berita yang merugikan Israel dan Zionisme.

8. Teori Kaum Musa
Teori ini seperti beberapa pengikut Musa alaihissalam, mereka membersamai Musa a.s. dalam langkah kakinya saja, belum dalam keimanannya. Bisa diartikan, hanya mengaku beriman, tapi hatinya entah ke mana.

9. Teori Ekonomi Pasar
Kata Abu Bakr Shiddiq, jika pasar memenangi Masjid, maka Masjid akan mati. Tapi jika Masjid memenangi pasar, maka pasar akan hidup.

Berhala-berhala itu namanya pasar (mall, plaza, hypermarket, supermarket, minimarket, dsb). Coba lihat, di mana-mana ia selalu ramai pengunjung. Demi mode dan trend rela bersusah payah. Hmmm… bersusah payah ditambah kepanasan.

Yah, masih banyak yang lainnya. Semoga saja kita tidak menganut satu pun dari berbagai teori ini. Tulisan ini masih banyak keurangannya, maafkan saja dan mohon dikoreksi ya.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s