Kisah UTS

Prolog
Saya adalah seorang murid sebuah SMA di bilangan Jakarta Barat. Langsung saja, saya iri melihat jadwal UTS. Kelas-kelas lain lebih sedikit pelajarannya dan ada hari yang kosong sama sekali, sedangkan saya seminggu penuh. Ya iyalah… itu kan tergantung jumlah SKS yang diambil.

Jadwal UTS :

  • Senin : Biologi, pkn
  • Selasa : Fisika, Bahasa Indonesia
  • Rabu : Kimia, Pendidikan Agama Islam
  • Kamis : Matematika, Sejarah Umum
  • Jum’at : Bahasa Inggris, Komputer

Senin, 1 Maret 2010
Lagi dan lagi, soal biologinya pakai Bahasa Inggris. Pakai Bahasa Indonesia saja masih bingung. Padahal saya bukan murid program internasional, jika guru-guru saya ditanyai alasan memakai bahasa tersebut, jawabannya karena sekolah kita SBI (Sekolah Bertaraf Internasional.

Kalau Kewarganegaraan, saya tidak bisa. Tadinya saya kira, materinya dari buku. Iya sih, tapi soal yang keluar membuat saya bingung. Contoh: jika seorang pejabat dipecat oleh atasannya karena alasan tertentu, tetapi pejabat tersebut tidak terima, maka kasus tersebut dapat diurus di pengadilan … Alhamdulillah saya masih bisa menjawa soal yang seperti ini: Simon dan Atun ingin bercerai, keduanya sama-sama aris dan beragama Islam, maka kasus mereka dapat mengurus perceraian mereka di pengadilan… (gampang sekali).

Selasa, 2 Maret 2010
Hehe… tidak tahu kenapa soal-soal fisikanya mudah. Sangat berbeda jika dibandingkan ulangan harian. Mungkin karena faktor pembuat soal, maka bahasanya tidak sulit untuk dimengerti. Uniknya, di soal diberitahu nilai dari cos atau sin. Yang jadi masalah, kenapa hanya ditulis cos atau sin saja? Kenapa tidak keduanya? Pantas saja tidak bingung harus menggunakan cos atau sin.

Bahasa Indonesia, gimana ya? Semua pilihannya terasa betul semua. Kalau membulatkan semuanya pasti disalahkan. Ya sudah, menjawab sesuai perasaan saja.

Rabu, 3 Maret 2010
Alhamdulillah saya agak bisa mengerjakan Kimia. Yang membingungkan hanya teorinya. Reaksi Haber itu yang mana?

Waktu belajar sebelum ulangan PAI 2, saya tidak bisa belajar dengan teman-teman yang satu ruangan dengan saya. Jelaslah, agamanya saja sudah beda. Tentang soalnya, tata bahasa yang dipakai tidak bagus. Mbok ya, titik itu dikasih kalau sudah bukan satu kalimat. Komanya juga lupa dikasih dan sebaiknya dibedakan penggunaan di sebagai kata depan dengan di- sebagai awalan.

Kamis, 4 Maret 2010
Saya kekurangan waktu untuk mengerjakan Matematika. Itu saja.

Untuk sejarah, mungkin butuh membaca lebih banyak lagi. Sungguh, saya merasa sekolah di sini seperti tidak diajari. Yang ada seperti, “Nih materinya, kalian bisa punya buku apa saja atau mengambil referensi dari internet. Saya tahu kalian anak-anak pintar, pasti kalian cepat paham.” Memang diterangkan, tapi entah mengapa itu yang saya rasa. (Maaf, bukan mau menjelek-jelekkan.)

Jumat, 5 Maret 2010
Hari ini sama sekali tidak ada pelajaran eksak. Otomatis saya juga bingung mau belajar apa. Kalau Bahasa Inggris, isinya wacana. Kalau TIK, isinya perangkat, sistem bilangan, topologi, dsb. Ya sudahlah.

Epilog
Sebagian nilai sudah keluar, Fisika 2 tuntas, sedangkan Kewarganegaraan 1 dan Biologi 2 tidak. ‘Semoga kalau ujian cepat lulus’ — tanpa remedial sudah tuntas.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s