Bukan Curcol

“Emang Perang Armageddon pakai pedang?” tanya saya.
“Aduh Dien, kamu itu anak SD atau anak SMA sih? Di mana logikamu? Sekarang kan udah ada nuklir,” kata beliau.

***

Ini bukan curcol ya, soalnya saya tidak perlu nyolong untuk ini.

Saya memang tidak lebih tinggi dari rataan teman-teman seangkatan saya. Bukan disebabkan oleh kesalahan genetika, tapi saya lebih muda setahun atau dua tahun (mungkin nanti tiga tahun) dari mereka. Jadi, kalau saya dibandingkan dengan yang seusia, maka saya ada di pertengahan.

Awal kisah ini terjadi di pulau seberang bertahun-tahun yang lalu. Seorang guru TK menaikkan saya ke nol besar tanpa konfirmasi dari orangtua saya hanya karena saya sudah bisa membaca (apa hubungannya dinaikin sama udah bisa baca???). Berhubung kejadian ini terjadi di tempat yang (maaf) kemajuannya kurang cepat, orangtua saya berpikiran begini, “Mungkin anak ini kalau dinaikkan bisa bertahan atau mungkin lebih baik dari teman-temannya. Jika suatu saat nanti dia menemui titik di mana ia tak mampu, maka ia akan diturunkan.”

Untuk beberapa tahun setelah itu, orang tua saya masih belum menemukan ‘titik di mana saya tak mampu’. Tapi keadaan berubah setelah saya tidak berada di situ lagi. Saya mulai sakit-sakitan, tapi setelah terbiasa tidak lagi. Misal, saya sekarang kelas 4, pasti bapak saya bilang begini, “Diturunin aja yah kelasnya jadi kelas 3, kan enak bisa nyantai belajarnya.” Atau kalau kenaikan kelas, “Mendingan nggak usah naik kelas, ngulang aja setahun lagi.” Tapi selalu saya jawab, “Aku masih mampu kok.”

Kemudian saya pindah lagi, lama saya tidak mendengar ‘ajakan turun kelas’. Tapi itu hanya sebentar, saya lalu jadi siswi SMP, “Enak kan, kalau masih SD, bisa santai-santai.” Menjelang kelulusan, “Harusnya kamu tuh sekarang lulus SD, bukan lulus SMP,” yah, kok jadi jauh begitu.

Keadaan diperparah ketika saya SMA. Saya ngotot nggak mau disekolahkan di sekolah kakak saya. Bandel banget, kau tahu kenapa? Saya cari sekolah yang ada kelas akselerasinya. Tapi orangtua waktu itu tidak menyadari alasan saya, mereka kira karena sekolah kakak saya satu peringkat di bawah sekolah saya (sok tahu). Tapi mereka sering berkata, ” Enakan kamu bareng kakakmu. Nggak jauh-jauh benget. Belajarnya juga agak santai.” Saya juga jadi ingat waktu pendaftaran, teman saya pernah mungucap, “Bagusan lu sekolah di sini daripada di sana. Kalau di sini kan lu kan bisa jadi anak paling pintar, di sana belum tentu.” Waktu itu saya mendaftar sendiri (tanpa orangtua, saya bebas memilih sekolah) di sekolah kakak saya (tapi pilihan pertama bukan sekolah kakak). Seharusnya kalian tahu, gue susah payah belajar supaya NEM tinggi dan bisa masuk sana, ucap saya dalam hati.

Awal SMA saya benar-benar kaget. Ternyata semua orang saat tahun pertama di situ memang mengalami hal seperti itu (coba baca blog-blog waktu awal SMA). “Lebih enak kalau sekarang masih SMP kan?” begitulah setiap hari. Di semester satu saya berusaha supaya dapat nilai tinggi supaya IPK-nya lebih dari 3. Menjawab soal-soal psikotes dengan sungguh-sungguh biar IQ-nya tinggi. Seperti janji-Nya, saya mendapatkan apa yang saya usahakan. Keadaan genting terjadi saat pengisian KRS (Kartu Rencana Studi) semester dua. Seharusnya saya langsung menulis program 34 SKS (Satuan Kredit Semester) itu langsung di sekolah dan langsung mengumpulkannya ke PA (Penasehat Akademik) karena tidak perlu tanda tangan orangtua, tapi entah mengapa saya bawa pulang untuk berdiskusi padahal saya tahu pasti mereka tidak akan memilih program itu. Memang benar, ketika saya katakan, mereka menjawab, “Yang ini pelajarannya banyak sekali, mending milih yang pelajarannya cuma enam seperti ini.” Saya tidak mau. KRS saya masih kosong sampai esoknya. Tetap saja saya memilih kelas SCI (Siswa Cerdas Istimewa–keberatan nama). Dan waw! Bapak saya nggak setuju dan minta supaya diganti (harusnya saya nggak jawab ya). Saat pengambilan rapor, ibu saya bertanya lagi, “Gimana, KRS-mu jadi diganti, nggak?” Saya balas, “Nggak usahlah biar gitu aja.”

Ibu saya tidak mau menggantinya karena beliau tidak mau disalahkan anaknya seumur hidup. Bapak saya menyuruh ganti karena kasihan. Jadi hampir setiap hari bilang, “Enak yang tiga tahun kan? Nggak usah ngoyo belajarnya. Nggak nurut sih.”

Satu lagi, ada sepupu saya yang tahun lahirnya sama seperti saya tapi dia masih kelas 8 (2 SMP). “Ya ampun, dia lulus SMP pas kamu lulus SMA? Sombong sekali kamu.” Apa coba hubungannya lulus duluan sama sombong atau nggak?

Ya ya ya, kalau saya melakukan kesalahan, “Kamu itu anak SMA bukan sih?”

Maafin aku, Pi. Tapi aku punya rencana besar setelah ini. Jangan kira ini tanpa perencanaan.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s