Obrolan di Kopaja

Ini tentang sedikit obrolan saya saat di Kopaja P16 (Koperasi Angkutan Jakarta – bus umum jurusan Tanah Abang-Ciledug). Karena sudah lama tidak bertemu, kami mengobrol banyak sekali. Salah satu yang kami bicarakan adalah nilai-nilai Ulangan Tangah Semester (UTS) yang sudah keluar. Saya kagum dengan nilai-nilainya, rata-rata delapan puluhan. Saya tahu, sejak dulu dia memang rajin belajar, sangat berbeda dengan saya yang agak malas.

Di sekolah saya, sebelum rapor asli diberikan kepada orangtua, rapornya diperlihatkan dulu kepada murid sebagai pedoman untuk pengisian Kartu Rencana Studi (KRS). Waktu dia mengisi KRS, saya iseng masuk ke ruangannya dengan teman-teman saya yang lain. Untung Penasehat Akademik-nya bukan orang galak. Kami saling bertukar informasi tentang nilai-nilai kami, juga Indeks Prestasi (IP). Salah satu teman yang ada berkomentar, “Dia yang mati-matian belajar kok IP-nya lebih rendah dari Latansa ya? Padahal Latansa itu kan nggak rajin belajarnya.” Saya yang mendengar itu cuma cengengesan. Padahal selisih IP kami hanya nol koma nol sekian.

Balik lagi ke Kopaja. Dia bertanya tentang nilai-nilai teman saya yang sebut saja Mawar.
Dia : Kalau Mawar Mtk (matematika) –nya berapa?
Saya : Empat puluh enam.
Dia : Apa? Masa sih? Kalau yang lainnya gimana?
Saya : Ya lumayanlah.
Dia : Apa aja? Coba sebutin satu-satu. Fisika remed (remedial) gak?
Saya : Iya.
Dia : Biologi?
Saya : Ya remedlah, orang di kelasku yang nggak remed cuma satu orang.
Dia : Kimia?
Saya : Remed.
Dia : Bahasa?
Saya : Nggak tahu deh.
Dia : Bahasa Inggris?
Saya : Nggak tahu tuh, aku aja nggak tahu nilaiku berapa gara-gara kertas nilainya hilang.
Dia : Apa lagi ya pelajarannya?
Saya : PKn (Pendidikan Kewarganegaraan), Agama, Sejarah, sama TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi).
Dia : Coba sebutin deh.
Saya : PKn kayaknya remed, agama remed, sejarah sama TIK nggak.
Dia : Ya Allah, yang pasti nggak remed Cuma dua? Parah banget tuh. Kok dia mau sih masuk SCI (Siswa Cerdas Istimewa – semacam kelas akselerasi)?
Saya : Tapi menurut gue dia rajin tuh.
Dia : Iya sih, tapi kan kalau nilainya begitu mendingan masuk regular aja. Nggak pa-pa sih kalau dia punya kemauan.
Saya : Tapi kasihan juga sih.
Dia : Bisa nggak dari SCI pindah ke regular?
Saya : Bisa sih.

Kalau dipikir-pikir memang kalau keadaannya begitu lebih baik tidak usah masuk SCI. Karena kalau di SCI seperti tidak belajar. Jumlah pertemuan dengan guru sangat sedikit. Ah sudahlah, hidup memang pilihan.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s