Berhentilah Menggangguku

Dag dig dug
Hei, kau datang lagi! Walau aku tak suka denganmu, kuucapkan selamat datang. Bukankah kau tahu aku tak suka dengan kedatanganmu? Lantas mengapa masih di sini? Pergilah, akan kuucapkan selamat tinggal padamu.

Dagi dig dug
Jadi, atas alasan apa kau masih juga berani di sini? Adakah yang menungguku? (Si)apa itu? Ataukah ada pertanda buruk setelah ini? Ketahuilah, sebaiknya kau tak pernah datang. Karena tahu atau tidaknya aku tak memberi pengaruh apa-apa. Justru malah menyengsarakanku sebab aku tidak bisa berbuat apa pun meski kutahu.

Dag dig dug
Otakku membuntu. Nafasku sesak. Kakiku terasa ringan karena lemas. Bibir pun hanya sanggup mengatup. Aku tidak bisa tidur. Memangnya ada apa di esok hari? Bukankah tidak ada alasan untukku merasa cemas?

Dag dig dug
Ah, tekanan yang kau berikan bertambah kuat. Apakah ini hanya efek pikiranku? Ataukah kondisi fisik yang mau tidak mau begini. Aku orang yang percaya dengan kekuatan pikiran. Semua yang terjadi, sebenarnya berasal dari pikiran itu sendiri. Tapi aku juga tidak memungkiri bahwa susunan genetika diwarisi turun-temurun. Lalu mana yang benar? Tekananmu membuat otakku membuntu (lagi).

Dag dig dug
“Allah, apa yang Engkau lakukan?” Ia menjawab, ”Aku sedang menyulam kehidupanmu.” Dan aku membantah,”Tetapi nampaknya hidup ini ruwet, benang-benangnya banyak yang hitam, mengapa tidak semuanya memakai warna yang cerah?” Kemudian Allah menjawab, ”Hambaku, kamu teruskan aktivitas dan jalan taqwamu, dan Aku akan menyelesaikan iradah-Ku. Pada saatnya nanti Aku akan menunjukkan hasil rencana-Ku yang indah dari sisi-Ku.”

Dag dig dug
Kenapa? Pertanyaanku sama ‘bodoh’nya laksana malaikat yang bingung atas kehadiran ciptaan dari tanah. Kenapa? Padahal di sini ada yang ‘selalu taat’. Kemudian Beliau menjawab, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” Beliau lalu memberikan pertanyaan-pertanyaan yang tak bisa kujawab tanda dangkalnya ilmu. Semakin membuatku malu.

Dag dig dug
Mungkin aku harus mencoba menerima getaran seperti ketakutan ini. Getaran yang membuat kacau badanku. Entah apa yang terjadi setelah ini. Sekali lagi, mungkin tindakan yang terbaik hanya ‘menerima’.

Dag dig dug, berhentilah mengangguku…

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s