Fa Aina Tadzhab?

Di suatu sore yang mendung, saya melihat adik lelaki saya membawakan tas kakak. Karena tasnya terbuka, saya dapat mengintip isinya. Yang menarik perhatian adalah buku biru yang tebal dan nampak masih baru. Saya pun mengambil dan membukanya. Halaman pertama berisi syair-syair Bahasa Inggris. Semuanya berisi harapan. Salah satu baitnya berbunyi,

Just be the sunshine in the morning day
Give it shine to the world let everyone to see
Just be the quiteness in the night
When many people cry when many people pray

Saya pun makin tertarik membukanya, di suatu halaman saya menemukan sebuah tulisan yang ditulis besar- besar

FEUI 2011
We are the yellow jacket.
Tuliskan mimpimu secara nyata!!!

Hanya itu. Hanya itu yang dapat saya baca karena kemudian buku itu direbut oleh yang punya. Hanya itu dapat membuat hati ini tersentak. Kaget. Saya pun bertanya pada diri saya, “Apa mimpimu yang sudah kautulis?”. “Hanya dua lembar yang ada di dinding kamar,” jawabku. Kemudian saya bertanya lagi, “Lalu, bagaimana setelah kau lulus? Maka ke mana kamu akan pergi wahai Izza?”. “Belum tahu,” dan saya pun berpaling ke jendela.

Sering saya dibuat bingung atas diri saya sendiri. Jadi, apa yang kini kauharapkan? Buku yang berisi mimpi-mimpi sudah tidak pernah diisi lagi sejak kembang api tahun baru ini. Saya bingung hendak menulis apa. Mengingat semua yang ditulis akan terjadi, membuat tangan urung menggoreskan pena. Hanya bisa minta diberikan yang terbaik oleh Allah SWT. Tapi hidup tanpa harapan serasa mati.

Saya pun jadi teringat dengan nasehatnya, “Lebih baik kamu sekolah tiga tahun saja, bisa mendalami pelajaran. Jika kamu ditakdirkan menjadi bintang, sekolah dua tahun atau tiga tahun itu sama saja. Maka, apa pun yang terjadi, tetaplah menjadi anak baik: nurut sama papi.” Orang yang ditakdirkan menjadi ayah saya itu berkata sambil menepuk dadanya. Benarkah saya bukan anak baik? Saya itu orang jahat ya?

Beberapa hari yang lalu, saya melihat-lihat profil facebook saya. Saya baru sadar ada dua nama yang berwarna hitam di daftar kakak-adik. Biasanya yang satu bernama Azka G. S. Elam dan yang satu lagi orang yang menghapus saya. Juga biasanya saya akan menggumam, dulu dia yang minta dianggap saudara tapi sekarang malah dia yang tidak menganggap saya itu saudaranya. Tapi saya kaget setelah melihat namanya, Elam Hanya Insan Biasa. Lho? Ini kan kakak kandung saya? Parah sekali kalau saya tidak dianggap adiknya. Saya pun mengetik namanya di kotak pencarian, tidak muncul. Wah, ini lebih parah lagi. Malah dihapus dari daftar temannya. Saya coba melacaknya. Tidak ketemu. Mungkin sudah ganti nama. Setelah itu saya mengecek orang-orang yang juga ada di daftar kakak-adiknya. Namanya selalu berwarna hitam. Kesimpulannya satu, akunnya telah tiada. Saya pernah tahu kalau emailnya tidak berlaku lagi, apa itu penyebabnya?

Kemudian saya matikan komputer dan mencarinya, “Eh, kamu facebook-nya nggak ada lagi ya?”. “Iya, ditutup sementara. Ada urusan,” jawabnya dengan santai. Ditutup sementara, pantas saja tidak ketemu. Wah, dia sanggup menutupnya. Padahal banyak orang yang menganjurkan saya menutup akun facebook tapi saya tidak mau dan beralasan sayang. Sedangkan kadang apa yang disayangi akan membunuh perlahan siapa yang menyayanginya. Intinya saya sama saja mempersilakan dibunuh secara perlahan.

Ketika saya memikirkan ini, papi bertanya, “Kamu lagi nungguin hujan ya?”.
Saya mengiyakan. Kemudian rintik-rintik hujan mulai membasahi kaca jendela.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s