Mengapa Penyesalan Selalu Datang Belakangan?

Kini aku di sini cuma sendiri. Sampai hati sampai begini. Mereka tak peduli. Oh, teganya! Mengapa penyesalan selalu datang belakangan? Yang namanya penyesalan selalu di akhir, tidak mungkin lebih dulu. Baiklah, tahu kenapa aku mengomel-ngomel begini? Aku lagi menyesal. Menyesal kenapa?

Yap, aku menyesal kenapa pindah ke sini. Kukira tadinya ini sekolah bagus, kulihat di peringkat akademisnya selalu begitu. Iya sih, kenyataannya memang begitu. Aku sendiri yang mau pindah ke sini. Tidak ada yang menyuruhku. Bahkan sebenarnya mama juga tidak mau. Sekarang jadi begini. Apa? Belum mengerti juga?

Pelan-pelan saja. Sebelumnya aku adalah murid sebuah SMA di dekat sini. Tidak dekat juga sebenarnya, tapi itu yang paling dekat. Aku bersekolah di situ selama kelas sepuluh. Waktu naik, aku memutuskan untuk pindah sekolah ke sini. Sejak awal aku tidak bersekolah di sini karena suatu alasan, dan alasan itu tidak mau kuberitahu. Banyak hal yang harus kulalui. Aku harus mengikuti tes mutasi, ketidakrelaan teman-temanku, bahkan mama menyarankan untuk tidak pindah.

Setelah aku pindah, aku masuk kelas IPS. Itu saran mama, katanya kalau di IPA itu berat. Pelajarannya loncat-loncat. Takutnya nanti aku jadi bingung. Mama itu guru fisika di sini, makanya tahu. Kemudian setelah saya bertemu orang-orang yang menjadi teman sekelas saya, saya jadi menyesal. Mungkin banyak yang bilang anak IPS itu anak-anak nakal, tapi kukira banyak di antara mereka orang baik. Kenyataannya di sini anak-anaknya itu selalu mengatasnamakan solidaritas. Hidup itu dijalani dengan setia, setia dan tanpa terpaksa, begitu selalu mereka bilang. Padahal kesolidannya cenderung negatif. Termasuk ini, madol sekelas.

Mengapa semua tinggalkanku? Coba pikir, ini pelajaran agama. Berapa sih, yang seagama sama aku? Sekitar dua puluhan, kan? Terus kenapa tidak ada seorang pun yang seagama, selain aku, yang ada di sini? Kuakui, gurunya Pak itu. Mengajarnya sangat membosankan. Tapi kalau begini terus bagaimana bisa maju. Masalahnya madolnya itu bukan sekali ini saja, tapi sering. Dan itu bukan pelajaran ini saja. Yang ekonomilah, yang itulah. Bahkan kelas-kelas IPS lainnya juga begitu.

Mau marah, tapinya sama siapa? Marah sama teman-teman yang madol, malah diteriakkan, “MT lu! Jangan sok alim, deh!”. Kalau aku masuk kelas sendiri pasti gurunya bertanya, “Kok Cuma kamu sendiri yang di sini?” dan terpaksa aku bilang yang sebenarnya. Setelah itu banyak guru yang tidak mau mengajar. Sepertinya harus ke Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan.

Aku menyesal telah mengorbankan banyak hal. Aku mengorbankan teman-teman lamaku, padahal mereka anak-anak baik. Aku mengorbankan banyak waktuku karena banyak jam yang menjadi kosong seperti itu, memang kuakui kalau belajar sendiri juga bisa. Aku banyak mengorbankan hidupku dengan tujuan yang tidak jelas. Kalau di IPA, Orang-orangnya tidak seperti ini. Mereka sangat giat belajar. Ada juga sih, kelas IPS yang begitu.

Tik tik tik, jarum detik bergerak terus. Sudah dua puluh menit aku di sini. Sampai sekarang tidak ada tanda-tanda kedatangan sang guru. Mungkin sudah tidak mau lagi mengajar kelas ini. Pertemuan-pertemuan sebelum ini teman-temanku juga madol. Saat ini mereka semua sudah pulang. Entahlah, mengapa tak ada sebersit pun kata maaf. Sampai kapan aku harus di sini dalam kondisi begini, jawabannya tak tahu. Aku hanya ingin tetap menjadi anak baik.

Catatan
Madol : membolos dalam pelajaran tertentu, biasanya tidak sehari penuh
MT : makan teman

Cerita seorang teman.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s