Mengejar Peruntungan dengan Iklan Banyak

Terkadang, saya merasa majalah dahulu kala lebih bagus ketimbang yang sekarang. Pasalnya kini saya sedang kesal dengan sebuah majalah. Di sudut kiri atas majalah itu tertulis Majalah Wanita, sedangkan bagian pojok kanan atas tertulis Identitas Wanita Islami. Kalau kita membukanya, halaman pertama bergambar dua orang perempuan sedang bergaya dengan kaos muslimahnya. Setelah itu di halaman kedua berisi daftar para agen kaos muslimah tersebut. Halaman selanjutnya terdafat foto seorang laki-laki dengan berbagai jenis pakaian. Slogannya be a man, be wisdom, show up your identity. Di halaman kemudian berisi iklan pakaian anak-anak. Halaman berikutnya terdapat iklan Griya Cantik Muslimah. Begitu juga dengan halaman di sampingnya, iklan dari Ladies Moslem Clothing Company.

Huh, kalau baru buka saja sudah banyak iklannya, bagaimana perasaan pembaca? Sering dimuat dalam surat pembaca keluhan-keluhan yang tidak setuju atas penambahan iklan sedangkan harga juga ikut bertambah. Apalagi, setiap buka halaman, pasti ada iklannya. Saking geramnya, saya hitung persentase iklannya. Dari 116 halaman, halaman iklan kira-kira berjumlah 50. Karena tangan saya gatal kalau tidak menghitung pakai kalkulator, maka saya coba pakai dan hasilnya 43%. Bukankah lebih baik kalau hanya 25% saja?

Memang, ada beberapa orang yang suka melihat iklan-iklan terutama mode pakaian. Tapi mohon diperhatikan tata letaknya. Ada banyak artikel yang baru setengah tahu-tahu dipotong iklan lalu dilanjutkan lagi. Bagi saya, itu memecah konsentrasi karena antara bahasan artikel dengan iklan memang tidak nyambung. Selain itu iklan-iklannya tampak tidak diseleksi. Ada majalah lain yang kalau ada peraganya, maka wajah peraga itu disamarkan. Gunanya untuk menjaga pandangan, karena kalau terlalu banyak melihat orang yang bukan muhrimnya, apalagi sampai dipelototi, bisa menimbulkan khayalan-khayalan tingkat tinggi. Beda sama majalah ini, terlalu banyak mengekspos wanita. Iya sih, ini Majalah Wanita, tapi tidak semua pembaca itu wanita, kan? Buktinya ada kolom ayah.

Di pertengahan, ditemukan juga foto yang di dalamnya ada ibu dan anak. Sang ibu memakai celana yang ketat, biasa disebut legging, begitu juga dengan anak yang digandengnya. Bahkan rambut anak itu dikuncir dua, tidak pakai kerudung. Lho, katanya identitas wanita islami? Mana identitasnya?

Ada lagi nih, kalau yang ini iklan tentang pakaian karakter anak lucu dan unik (katanya sih gitu). Di situ terdapat foto bocah laki-laki yang tertawa memakai topi kepala singa dengan bajunya yang disesuaikan dengan karakter tubuh singa. Kalau begitu jadinya, bukankah itu sama dengan menghewankan anak ya?

Kalau iklannya banyak begitu, kan otomatis dapat surplus. Terus, apakah uang lebih dipentingkan ketimbang mutu?

Semoga saja apa yang ditulis ini bukan untuk mencela karya orang lain. Juga semoga kita semua bisa mengoreksi kesalahan masing-masing. Amin.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s