Monthly Archives: May 2010

Dilema S(e)TAN

Entah dari mana datangnya, saya menemukan segitiga risiko (lihat di lampiran). Segitiga ini adalah segitiga sama sisi yang masing-masing sisinya mewakili sesuatu, yaitu kamu benar, kamu salah, dan bukan keduanya. Mungkin ini terinspirasi dari trigonometri, yang sampai sekarang saya belum juga mempelajarinya dengan baik.

Memang, setiap pilihan yang diambil itu mempunyai risiko, dan itu sudah lumrah. Maka kali ini saya akan menceritakan sesuatu yang sebenarnya tak jauh beda. Namanya dilema.

Telah beberapa kali saya menuliskan masalah yang sedang dihadapi di atas lembar putih. Kemudian lembar putih itu diserahkan kepada Guru-Guru Bimbingan dan Konseling (BK) yang berbeda. Semua masalahnya sama: saya tidak tahu harus melanjutkan ke jurusan apa setelah lulus. Tapi saya yakin kalau tulisan-tulisan tersebut belum dibaca.

Ketika berangkat sekolah, penyiar radio berkata, “Selamat pagi semua, Selamat Hari Kartini buat kita. Buat kamu yang sedang berangkat kuliah…” Setelah itu bapak saya bertanya, “Nanti kamu mau kuliah di mana?” “Yang jauh dari sini,” jawab saya sekenanya. “Di Jawa Timur sana? Dekat rumah nenekmu?” “Iya,” saya hanya asal mengiyakan. “Mau belajar apa kamu di sana? Mendingan di STAN.” Tak lama kemudian sampai sekolah, untunglah.

Setiap hari juga dilontarkan pertanyaan yang sama, “Nanti kamu mau kuliah di mana?”. Maka pasti setelah itu STAN-lah yang dianggap solusi terbaik, begitu terus setiap hari. Saya selalu menolak dengan berbagai alasan. “Kalau your reason is good, I will hear. Kalau kamu kuliah kedokteran, Papi mau deh ngalah,” kata beliau (orang yang paling ngotot menyuruh saya masuk STAN) suatu hari.
Alasan-alasan saya memang dibuat-buat. Saya mengatakan kalau saya kuliah di STAN nanti, setelah bekerja akan berangkat malam pulang malam. Tapi bapak saya (juga ibu) berkata kalau saya selalu melihat seorang pria lulusan STAN yang sering pulang malam. Itu karena dia kerja di Jakarta. Lihatlah wanita lulusan STAN yang bekerja di daerah. Ia bisa pulang saat istirahat siang juga pulangnya sore. Ia tak terjebak macet karena bukan tinggal di kota metropolitan. Jika alasan saya takut tua di jalan, maka solusinya bekerjalah di daerah yang jauh dari kemacetan. Saya kalah.

Saya juga pernah mengatakan kalau saya ingin jadi seorang guru matematika. Mereka lagi-lagi mempunyai argumen yang kuat. Menurut data, jumlah guru di Indonesia sudah sangat banyak sehingga lowongan untuk guru sangat kecil. Sebenarnya saya tahu hal tersebut. Saya kalah lagi.

Bagaimana kalau saya kuliah di sastra? Kata ibu saya di sana nanti ada Mata Kuliah Ilmu Alam Dasar, beliau tahu saya tidak suka Ilmu Alam. Teman saya pernah bertanya mengapa saya memilih jurusan IPA kalau saya tidak menyukainya sama sekali. Jawabannya sederhana, kalau tidak masuk IPA, berarti IPS. Kalau di IPS terpaksa tiga tahun sedangkan di IPA bisa dua tahun. Namun akibatnya tak sesederhana jawabannya.

Kalau nanti kuliah jurusan IPS (dan cabangnya), berarti pasti dapat Ilmu Alam Dasar. Kalau masuk IPA ya sudah mutlak. Kalau jurusan agama bagaimana? Tapi yang terlintas di pikiran saya universitas agama yang paling dekat itu adalah universitas agama terburuk, Al-Qur’an berani mereka injak (konotasi dan denotasi). Lalu bagusnya masuk mana, Ma? Jawab beliau ya di STAN. Di sana tak ada Ilmu Alam. Lagi-lagi saya kalah.

Dilema tersebut membuat saya ingin sekali konsultasi ke ahli konseling. Ada dua orang teman yang mengalami masalah serupa kebetulan mengajak ke guru BK. Namun selalu saja ada kendala. Kalau mengikuti minat yang tertulis di hasil psikotes, nomor satu medical dan nomor tiga clerical. Jujur saja, sebenarnya saya tidak berminat pada kedua hal tersebut. Saat psikotes saya merekayasa jawaban saya agar hasilnya seperti itu. Alasannya supaya orangtua saya senang kalau anaknya berminat pada tiga hal tersebut. Saya baru sadar ternyata tindakan tersebut salah besar.

Suatu ketika saya bermimpi kalau saya akhirnya ‘terpaksa’ mendaftar di STAN. Ada satu teman saya yang juga mendaftar. Tiba hari pengumuman teman saya itu SMS, “Iz, u kterima gk?”
“Gak tahu, mau w cek. Wid, u kterima gak?
“Gk nih,w sedih bgt.w mau nangis nih..”

Saya kemudian menangis. Wid sangat ingin masuk STAN, tapi tidak diterima. Sesungguhnya sebab saya menangis sebenarnya bukan karena dia tidak diterima, namun karena saya diterima. Dalam isak saya bertanya, “Ya Allah Tuhanku, bukankah Engkau Maha Adil? Lalu di mana letak keadilan-Mu? Mengapa aku yang tidak ingin diterima malah diterima sedangkan dia tidak? Bukankah sebelum tes aku berdoa kalau apa pun jawaban yang kupilih, buatlah aku tidak diterima? Benarkah Engkau itu Maha Adil?”

Ketika saya bangun ujung mata saya basah. Setelah cuci muka lalu saya melanjutkan membaca buku yang sebagian dibaca sebelum tidur. Betapa terkejutnya saya karena di situ tertulis, “Percayalah, Tuhan itu Maha Adil. Hanya kita saja yang terlalu bebal untuk tahu keadilan-Nya. Kita terlalu buta untuk tahu di mana letak keadilan-Nya. Tuhan itu selalu adil.” Anehnya, kini saya membolak-balik halaman buku tersebut tapi tidak menemukannya secuil pun. Padahal seingat saya hal tersebut diulang-ulang lebih dari dua kali.

Jadi, apakah jika saya katakan reason yang sebenarnya akan dianggap good? Mari meminta fatwa hati.

Dan dari Wabishah bin Ma’bad ra berkata, ‘Aku datang kepada Rasulullah saw., maka beliau bersabda, “Apakah engkau datang untuk ertanya tentang kebaikan?” Aku menjawab, “Benar, wahai Rasulullah.” Lalu beliau bersabda, “Mintalah fatwa kepada hatimu sendiri. Kebaikan adalah apa yang karenanya jiwa dan hati menjadi tentram. Dan dosa adalah apa yang mengusik jiwa dan meragukan hati, meskipun orang-orang memberikan fatwa kepadamu dan mereka membenarkannya.” (Ahmad dan Darimi)


Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Milikmu Bukan Milikmu

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, posesif bersifat merasa menjadi pemilik; mempunyai sifat cemburu. Prinsipnya adalah “harus memiliki”, bukannya saling berbagi. Intinya: kamu milik saya seorang, tidak boleh ada yang lain. Kalau ada maunya harus dituruti. Keberadaan orang yang merasa dimiliki terus dipantau. Ke mana pergi, orang posesif ini harus tahu ke mana pergi. 

Kamu di mana?

Dengan siapa?

Semalam berbuat apa?

Lirik lagu Yolanda itu sedikit banyak menggambarkan bagaimana sifat posesif. Untuk memahami bagaimana sifat posesif itu terjadi, kita ambil sebuah contoh. Anak yang jika pulang malam sedikit langsung ditanyakan keberadaannya lewat SMS atau telepon, mungkin kalau sudah dewasa nanti akan melakukan hal yang sama pada suami atau istrinya. Kalau suami belum pulang, ditelepon sambil marah-marah padahal pekerjaaan memang menumpuk dan harus diselesaikan dengan segera.

Sifat posesif bisa terjadi terhadap anak, sahabat, atau pasangan. 
“Anak adalah kehidupan, mereka sekedar lahir
melaluimu tetapi bukan berasal darimu.
Walaupun bersamamu tetapi bukan milikmu,
curahkan kasih sayang tetapi bukan memaksakan pikiranmu
karena mereka dikaruniai pikirannya sendiri.
 
Berikan rumah untuk raganya, tetapi tidak jiwanya, karena
jiwanya milik masa mendatang, yang tak bisa kau datangi
bahkan dalam mimpi sekalipun.

Bisa saja mereka mirip dirimu, tetapi jangan pernah
menuntut mereka jadi seperti sepertimu.
Sebab kehidupan itu menuju ke depan, dan
tidak tenggelam di masa lampau. 

Kaulah busur, dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur.
Sang Pemanah mahatahu sasaran bidikan keabadian.
Dia menentangmu dengan kekuasaanNya,
Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat. 

Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat
Sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap”.

Orang yang posesif sering diibaratkan seperti anak kecil yang sangat mencintai anak ayamnya. Ia menggenggam erat anak ayam tersebut sampai-sampai anak ayam itu mati sesak. Ingatlah, setiap orang memiliki jalannya masing-masing. Tugas kita hanyalah menuntun mereka ke jalan yang lurus, bukan memaksa mereka mengikuti jalan kita. 

Jika kita adalah orang yang terkena imbas sifat posesif, jalan terbaik adalah menerima, itu artinya si posesif menyayangi dan perhatian terhadap kita. Tapi kalau tidak menikmati hubungan seperti itu, mengurut dada terus, merasa terpenjara, ajaklah si posesif untuk berbicara empat mata, terbuka dari hati ke hati. Saya pernah diajari cara mengungkapkan ‘marah’ dengan baik, yaitu perhatikanlah intonasi bicara, situasi, dan kondisi. Suatu kritik yang disampaikan lemah lembut akan lebih baik daripada disampaikan sambil berteriak. Pada waktu senggang, masukan cenderung lebih diterima ketimbang pada waktu sibuk. Bagi yang merasa memiliki sifat posesif, kuncinya hanya satu: introspeksi. Cobalah untuk membuka mata, hati, dan telinga.  

Yang paling penting, nantinya jangan saling membenci, jangan saling memusuhi, dan jangan memutus hubungan. Jadilah kita hamba Allah yang saling menghargai. Tidak diperbolehkan seorang Muslim memboikot sesamanya selama lebih dari tiga hari. Sebab tidaklah kita akan masuk surga sampai kita beriman, dan tidaklah kita benar-benar beriman hingga kita saling mencintai.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada..

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Penutupan Pasar Malam

Setiap Minggu malam biasanya di dekat gerbang komplek tempat saya tinggal terdapat pasar malam. Pada pasar malam ketika saya kecil, terdapat bianglala, komidi putar, dan banyak penjual gulali. Meski masih ada yang menggunakan konsep Pasar Malam yang seperti itu, Pasar Malam yang kini sering terlihat hanya suatu pasar yang diselenggarakan malam hari.
Pasar Malam itu didominasi oleh lapak-lapak pakaian, ada permainan memancing ikan plastik, kereta-keretaan, dan lain-lain. Pasar Malam tersebut lumayan ramai dikunjungi. Uniknya, saya tidak melihat adanya warga komplek, yang ada malah warga kampung sekitar.

Ada salah satu warga yang meminta panitia untuk membuat papan pengumuman dan dipasang di rerumputan luar pagar. Isinya meminta pada semua orang untuk tidak duduk di rerumputan tersebut. Meski begitu, di sebelah papan tersebut banyak anak-anak muda yang nongkrong di situ.

Keberadaan Pasar Malam tersebut diawali dengan adanya surat permohonan/proposal dari seorang koordinator yang minta izin untuk buka Pasar Malam di lingkungan RW saya. Pada saat permohonan diajukan pengurus RW tidak memutuskan apa-apa, hanya menyalin proposal menjadi sepuluh berkas yng disampaikan kepada Ketua RT 01 sampai dengan RT 09 dan ketua PKK dengan maksud untuk memperoleh masukan dari para ketua RT dan PKK. Ketua PKK menyatakan setuju dengan pertimbangan untuk memberikan kesempatan bagi ibu-ibu pensiunan untuk ikut menambah penghasilan dan menyarankan agar diadakan musyawarah dengan para Ketua RT. Sedangkan para Ketua RT pasif tidak memberikan reaksi setuju atau tidak setuju. Musyawarah tidak dilakukan karena Ketua RW sakit, mengenai Pasar Malam sepenuhnya diserahkan kepada PKK dan sekretaris RW, lalu beberapa Ketua RT setuju. 

Kemudian dilakukan uji coba dengan memilih lokasi yang tidak ada penghuninya yaitu sepanjang jalan utama , tanah kosong sampai puskesmas. Setelah berjalan beberapa kali, Pasar Malam mulai mendapat protes dari beberapa warga salah satu RT. Pada saat itu pula koordinator Pasar Malam dipanggil untuk segera menghentikan kegiatan Pasar Malam terebut, tetapi hasil rapat Ibu-Ibu PKK menyarankan tidak usah ditutup yang penting tertib dan keamanan diperhatikan.

Karena beberapa warga RT tersebut protes, maka rencananya akan dipindahkan ke jalan depan rumah saya. Namun, ada juga warga yang protes karena takut ketertiban dan keamanan terganggu. Adik saya yang melihat aksi protes tersebut melaporkan bahwa sekelompok ibu-ibu bertengkar dengan pengurus RT dan RW.  

Sehubungan dengan adanya usulan dari salah satu Ketua RT yang dianggap talah mewakili dari beberapa Ketua RT, maka dinyatakan bahwa Pasar Malam di lingkungan rumah saya ditutup pada hari itu juga dan seterusnya. Kasihan para peserta Pasar Malam yang sudah mendirikan lapak tapi dibongkar kembali. Salah satu dari mereka berkata pada yang lain, “Ya udah deh, kita sambil jalan aja bubarnya biar seperti karnaval.”

*Gambar diambil dari: http://www.musangsx.org

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Latansa Telah Bertunangan

Emma 시아준수 Salim ihh,,,tansa nyereminn…benerann ato becandaan??
Jumat pukul 21:40 · 

Latansa Idé anggap aja benerann
Jumat pukul 21:45 · 

Indria Tahir hhhmmmm…
Jumat pukul 21:45 · 

Latansa Idé tinggal tunggu undangannya aja
Jumat pukul 21:46 · 

Latansa Idé yang sabar ya nunggunya
Kemarin jam 13:12 ·

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Setiap Orang Menggambar MUHAMMAD

Saya menemukan grup Everybody Draw Mohammed Day yang isinya:

permainan baru: Jadilah super-baik pada semua orang! Cukup gambar omong kosong.

Itu sangaaat akhir / pertengahan April. Sekarang akhir dari April-akhir.

Jadi bukannya, mari kita berpura-pura kita benar-benar mendukung ajaran-ajaran agama-agama kita ikuti, jika kita mengikuti agama. Atau jika Anda mengikuti beberapa filosofi bermodel baru yang tidak persis agama, menemukan sesuatu yang baik dan amal dalam filsafat itu dan mencoba untuk melakukan hal-hal itu.

Kau tahu, hal-hal seperti (bagi Anda Kristen di luar sana) “Jadi dalam segala hal, lakukan untuk orang lain apa yang akan mereka lakukan untuk Anda, untuk meringkas Hukum dan kitab para nabi.” Atau mungkin “Kasihilah musuhmu, berbuat baik kepada orang-orang yang membenci engkau, memberkati mereka yang mengutuk kamu, berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”

Aku yakin Anda masing-masing yang mengikuti agama dari beberapa jenis mungkin memiliki beberapa lusin saran serupa seperti ini bertebaran menunggu Anda untuk membayar perhatian kepada mereka. Saya minta maaf karena tidak secara pribadi mengenal banyak agama di dunia, Aku hanya mengutip beberapa contoh bahwa banyak orang yang mengenal, dalam budaya saya.

Kthxbai!

– Manajemen (yang mengasihi setiap dan masing-masing dari Anda, dan ingin menunjukkan bahwa Anda sedang mencari yang menarik hari ini)

Lebih dari 13.000 seniman iblis
telah terdaftar ….

Laporkan terhadap acara tersebut.

>>>>>>>>>>>>>>”BOIKOT
FACEBOOK, pada 20
Mei.2010″<<<<<<<<<<<<<<

NB :

>>>”SETIAP MUSLIM HARUS TIDAK ON ONLINE PADA 20 MEI 2010

>>> SEMUA MUSLIM HARUS TURUN KE JALAN MELAKUKAN TINDAKAN NYATA

>>> KITA LAWAN AKSI PARA IBLIS KAFIR INI DI MULAI DARI ESOK
HARI HINGGA ACARA INI DIBUBARKAN

> TAMPILKAN INFO INI DI DINDING FB SAHABAT

> SEBARKAN INFO INI DI DUNIA MAYA DAN DUNIA NYATA

> JIKA KALIAN DARI BAGIAN MEDIA DAN PUBLIKASI CETAK DAN PUBLIKASIKAN BERITA INI

>>>SALAM JIHAD :

> MATI SYAHID DAN HIDUP MULIA ADALAH PEMAHAMAN DAN TUJUAN KITA

> TEGAKKAN SYARIAT ISLAM DI DUNIA ALLAH

> LAWAN PARA KAFIR

ALLAHU AKBAR !!!…………… ALLAHU AKBAR !!!……………….
ALLAHU AKBAR !!!…

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Aku Benci Pelajaran Olahraga

Mungkin bagi sebagian besar orang, Pelajaran Olahraga adalah pelajaran yang paling menyenangkan karena bisa sambil bermain-main, tapi tidak bagiku. Dulu waktu aku baru masuk SD, aku tak peduli dengan pelajaran olahraga. Yang ada di pikiranku adalah, ‘Ikuti saja’. 

Keadaan berubah ketika aku pindah sekolah mengikuti orangtuaku. Awalnya, saya merasa biasa saja, tapi suatu hari ketika makan bersama, temanku pernah berkata, “Tahu nggak, siapa di kelas kita yang paling lambat larinya? Dia.” Aku ingat betul kalau telunjuknya tepat di depan batang hidungku.

Ketika naik kelas, keadaannya menjadi parah. Waktu itu saya berulang kali tidak bisa menyervis bola voli karena selalu saja tidak melewati net. Yang paling tidak kusukai, gurunya berkata, “Ini sih sampai kiamat baru bisa,” lalu melengos. Rasanya sakit mendengar itu. Aku memukul bola sekali lagi, lalu tak melewati net, jadi setelah itu aku memilih mundur.

Saat bermain kasti, saya selalu berbaris paling belakang, berharap tak usah saja memukul bola. Tapi aku juga sangat berharap melewati base pertama sampai akhir dalam satu pukulan. Maka setelah pemukulku memukul bola, aku berlari melewati base pertama, tapi tak lama setelah itu tanganku terkena bola. Aku dimarahi reguku, “Siapa sih yang nyuruh kamu lari? Kenapa gak diam di situ aja?”. Kelasku terbagi menjadi dua regu, maka sebanyak separuh kelas menyalahkanku berlari. ‘Hei, kenapa aku tidak pernah diberi kesempatan untuk berlari? Lalu bagaimana aku bisa mencetak skor kalau terus begini? Memangnya kalian saja yang boleh mencetak skor?’ ujarku dalam hati.

Sejak itu aku hanya berdiri di pinggir sebagai pencatat skor, aku mencatatnya per individu agar transparan. Setelah permainan berakhir, salah serorang temanku protes, “Kok skorku nol? Tadi kan aku mukul bola!”. ‘Walau kamu memukul bola, tapi kalau kamu tidak pergi ke daerah bebas sampai regumu menjadi penjaga, maka skornya nol.’ Aku bersyukur sekali, ternyata biar pun aku tidak bisa bermain, tapi aku mengerti sistem panilaian dengan baik. Itu mengapa waktu itu aku ingin sekali berlari karena aku tahu percuma saja aku memukul bola kalau tidak segera ke daerah bebas sebelum reguku dikenai bola sebab sama saja dengan skor orang yang tidak memukul bola.

Setiap pengambilan nilai olahraga, maka nilaikulah yang paling jelek di kelas. Lagipula gurunya pun selalu tak bersemangat mengmbil nilaiku. Setiap begitu, aku selalu menghibur diri sendiri, ‘Biar saja nilai olahragaku jelek, yang penting nilai matematikaku bagus.’ Entah mengapa aku jadi dendam kepada guru olahragaku tersebut.

Hal yang mengejutkan terjadi setelah mamaku pulang mengajar. Ia yang seorang guru matematika di sebuah SMP, mengeluhkan seorang murid barunya yang tidak bisa matematika. Mama kaget setelah bertanya dia berasal dari SD mana, dia menjawab nama SD-ku. Pada zamanku SD tersebut adalah SD terbaik di kotanya, maka mama bingung kenapa soal semudah itu tidak bisa dikerjakan. Karena penasaran dengan namanya, lalu aku bertanya. Mama berkata kalau namanya Mei (bukan nama sebenarnya). Satu-satunya orang yang terlintas di benakku adalah kakak kelasku yang merupakan anak Guru Olahraga. Kalau diperkirakan, ia memang sudah SMP. Tapi aku masih ragu.

Esoknya mama membawa buku latihan Mei. Kubuka isinya, bahkan menulis dua ratus ribu sepuluh saja dia menulis: 200 ribu 10. Lho, sejak kapan penulisan tersebut dibakukan? Makin kubalik lembaran-lembarannya makin aneh isinya. Kututup buku tersebut karena bosan. Aku terkejut ketika membaca nama lengkapnya. Di situ tertulis nama belakang yang sama dengan nama belakang guru olahragaku. Entah mengapa rasanya aku bahagia sekali. Pada bukunya aku berbisik, “Kasihan, kamu kena karma bapakmu.”

Kejadian-kejadian yang tidak kusukai tentang Pelajaran Olahragaku itu membuat sebuah kebencian terhadap pelajaran tersebut. Parahnya, aku menjadi orang yang menutup mata, hati, dan telinganya. Karena setiap pelajaran itu aku tidak pernah merasa lebih sehat. Aku pun bertekad untuk meninggikan nilai pelajaran lain sehingga biar pun guru tersebut memberikanku nilai nol, aku tetap dapat naik kelas. Aku juga ingin untuk menjaga perasaan setiap orang, walau sampai sekarang masih belum bisa.

Kini, setelah berusaha bersikap dewasa akhirnya aku bisa mencoba mencintai Pelajaran Olahraga. Pesan moral yang bisa diambil, jaga lisan dan tindakmu, apalagi terhadap anak-anak, karena jika kau berbuat salah, itu akan membekas sampai ia dewasa. Kalau kamu adalah orangtua yang mempunyai kesalahan pada anakmu, maukah kau dibenci anakmu seumur hidupnya?

_________________

Blog ini dibuat dalam rangka mengikuti Kontes Blog Berbagi Kisah Sejati yang diselenggarakan oleh Saudari Anazkia dan disponsori oleh denaihati.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Untuk Dunianya Sendiri

“Lihat slides gue deh. Jadi, nanti habis presentasi yang tadi, pakai yang ini aja biar lama,” saya arahkan laptop ke hadapannya.“Lah, apa hubungannya Palestina sama Kemerdekaan Indonesia?” alisnya Nova (sebut saja begitu) naik, biasalah.
“Nggak, sebenarnya ini ngebahas tentang negara-negara yang pertama kali ngedukung Kemerdekaan Indonesia,” dengan muka tidak bersalah saya mencoba menjelaskan.
“Terserah lu aja deh,” teman saya itu pun melihatnya, “ngdukung? Bung kok u-nya besar? Alay nih!” berkas saya yang bagus itu akhirnya disunting olehnya.

Victoria (sebut saja begitu) ikut-ikutan gabung ke tempat kami. Lagi-lagi si Nova protes, “Ini kok tulisan sekian terima kasih-nya kecil?”
“Yang kecil, yang diperhatikan. Bayangin deh kalau tulisannya besar, nanti orang bacanya males ‘elah, palingan cuma terima kasih’ tapi kalau tulisannya kecil ‘apaan tuh?’ mereka bakal ngelihatin baik-baik. ‘Oh, terima kasih’. Jadi begitu…”
Victoria pun berkata, “Pemikirannya Latansa unik, ya.”
Nova yang dari tadi nyengir juga menambahkan, “Itu kan pemikirannya , cuma bisa dimengerti dirinya. Cuma untuk dunianya sendiri.”
“Hehe… Jadi maksud lo gue autis, gitu?”
“Ya kurang lebih begitu.”
“Dasar!”

Sementara itu, di sebelah ada sekelompok anak laki-laki yang teriak-teriak, “Prikitiew! Prikitiew!” kepada salah satu anggotanya. Memang mereka orang yang unik. Pertama kali melihat mereka main, yang dimainkan adalah kalkulator. Mereka juga berjemur (baca: tidur sambil tengkurap) di lantai waktu jam istirahat, untung lantainya tidak kotor. Ada juga yang tengkurap di atas meja. Yang paling aneh, ketika salah satu dari mereka sedang pacaran, maka yang lain menyebarkan ke semua anak laki-laki. Semua anak laki-laki yang diberitahu pun berlari menuju Tempat Kejadian Perkara. Waduh, sudah seperti menonton layar tancap gratis saja. Maka saya bertanya pada Nova, “Mereka itu ngapain sih?”. “Tauk tuh. Biarin aja, untuk dunia mereka sendiri.” 

Kesimpulannya, semua orang sibuk dengan dunianya sendiri.

Leave a comment

Filed under Uncategorized