Veni, Vidi, Tapi Nggak Vici

“Rima, soal Cerdas Cermat tuh nggak boleh kayak gini! Soal Cerdas Cermat itu nggak boleh yang udah diajarin di sekolah. Harusnya tuh, soal CC itu pengetahuan umum!” orang di hadapanku membanting kertas-kertas di tangannya. Lalu kertas-kertas tersebut jatuh di meja. Aku tak mengerti kenapa orang macam ini bisa jadi Penanggung Jawab. Benar-benar mengesalkan.

“Ini kan udah H-2,” kataku getir. Lusa kami akan mengadakan Lomba Cerdas Cermat, tapi hari ini seenaknya saja dia menolak mentah-mentah seratus lima puluh butir soal yang kuberi. ‘Jangan marah, maka bagimu surga,’ bisikku dalam hati.

“Emang kenapa? Anti nggak mau bikin soal lagi? Ya udah, kalau gitu ana aja yang bikin,” ujarnya sambil bermuka datar. Aku sangat berharap soal-soal yang ia buat gampang walau diambil dari pengetahuan umum.

“Iya, tapi jangan susah-susah ya.”

“Lho, yang bagus itu ya yang susah. Kalau kegampangan kayak soal sekolah ya semua bisa jawab.”

“Tapi kan kalau soal sekolah ada juga yang susah, seperti tarikh dan fiqih.”

“Ya sudah, kalau begitu nanti babak penyisihannya pakai soal sekolah yang susah, pas di semifinal sama final pakai yang dari pengetahuan umum, gimana?”

“Terserah…”

***

Hari ini hari H, aku merasakan hal yang tidak mengenakkan akan terjadi. Entahlah. “Assalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh. Selamat pagi semuanya. Nanti ada tiga babak, yakni babak penyisihan, semifinal, dan final. Sekarang babak penyisihan dulu, di mana babak ini akan disediakan kertas soal yang jawabannya ditulis di tempat yang disediakan…” aku pun menjelaskan berbagai macam hal tentang lomba ini.

Setelah satu jam pengerjaan soal, maka kami selaku panitia mengumpulkan lalu menilai jawaban mereka. Karena yang harus dikoreksi banyak sekali, hasil baru bisa ditentukan dua jam lagi. Kulihat soalnya lumayan susah, padahal itu ada di buku kelas 10 sampai 12.

***

Tiba saatnya pengumuman babak penyisihan. Alhamdulillah ikhwan dan akhwat dari sekolahku masuk sembilan besar. Babak semifinal ini terdiri dari dua sesi. Sesi pertama yaitu trivia, di mana tiap tim diberi lima butir soal. Babak kedua adalah babak tebak kata, ada empat kata.

Sehabis pengundian nomor, dimulailah babak ini. Tim A dari sekolahku, aku sangat berharap mereka menang.

“Pertanyaan pertama. Di manakah tempat lahir Imam Bukhari?” tanya sang juri. Duh, mereka bisa nggak, ya? Kok dari tampangnya ragu-ragu.
“Di Bukhari…”
“Apa?”
“Bukhari…”
“Skor nol untuk Tim A, jawabannya Bukhara,” semua penonton terkejut.

“Pertanyaan kedua, Taurat diturunkan kepada rasul ke?” mereka tampak menggerak-gerakkan jari mereka. Menghitung. “Ingat ya, waktunya cuma setengah menit,” kata juri yang lain.
“Sembilan belas,” aduh, pasti mereka salah hitung. Lagian soal ini ngaco, rasul itu kan ada banyak, mana kita tahu Musa itu rasul ke berapa.
“Salah, jawabannya empat belas. Skor nol untuk Tim A.”

“Pertanyaan ketiga, berapa lapis kain kafan untuk jenazah wanita?”
“Lima.”
“Ya, skor sepuluh untuk Tim A,” Alhamdulillah ada yang benar.

Tim A akhirnya dikalahkan Tim B. Padahal mereka cuma beda satu soal. Tapi yang paling kusesali adalah jalannya lomba ini. Garing, nggak seru. Para peserta lebih banyak diam daripada menjawab. Soalnya tidak sulit, tapi banyak yang pengetahuan umumnya sedikit. Contohnya, siapa pendiri Alexandria? Itu gampang, jawabannya Alexander Agung alias Iskandar Zulkarnain. Di dunia barat, Ibnu Sina dikenal dengan nama titik-titik. Ya ampun, Avicenna. Tapi mereka malah bengong.Apakah nama organisasi Islam terbesar di dunia? Itu lho, yang didirikan Hasan Al-Banna, Ikhwanul Muslimin…

Aku menyerah dengan ke’garing’an ini. Aku nggak berhasil. Itu artinya aku nggak bisa memenangkan keadaan lomba ini. Veni, vidi, tapi nggak vici. Aku datang, aku lihat, tapi aku nggak menang. Gara-gara orang itu…

*Untung yang jadi panitia bukan saya. Di sini saya jadi pengamat yang serba tidak tahu. Mohon maaf bagi yang diamati.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s