Dzailul Mar’ah

Pertanyaan :

Seberapakah batas seorang wanita memanjangkan pakaiannya ke tanah? Bagaimana pula batas dimulainya?

Jawab :
الحمدُ لله ربِّ العالمين، والصلاةُ والسلامُ على مَنْ أرسله اللهُ رحمةً للعالمين، وعلى آله وصَحْبِهِ وإخوانِه إلى يوم الدِّين، أمّا بعد:

Ketahuilah bahwa jumhur ulama berpendapat bahwa telapak kaki wanita adalah aurot, hal ini berbeda dengan al-Ahnaf (pengikut madzhab Hanafi). Mereka (jumhur) berbeda pendapat menjadi 3 pendapat dalam menentukan batas dimulainya menutup telapak kaki. Sebagian mereka berpendapat bahwa tempat mulainya adalah dari mata kaki karena ini adalah posisi diharamkannya laki-laki menambah lebih darinya. Sementara yang lain berkata : dari pertengahan betis, karena ini adalah posisi yang dicontohkan Nabi shollallohu alaihi wa ala aalihi sallam, dan juga berdasarkan hadits beliau shollallohu alaihi wa sallam :
النِّسَاءُ شَقَائِقُ الرِجَالِ

“Wanita itu saudara kandung laki-laki.” [1]

Yakni : dalam hukum-hukum dimana tidak ada dalil yang mengkhususkan hukumnya bagi wanita.

Kemudian ada pendapat ketiga yang berpendapat bahwa dimulainya memanjangkan pakaian adalah dari bagian tubuh yang menyentuh tanah (telapak kaki, pent) berdasarkan kepada hadits wanita yang bertanya kepada Nabi shollallohu alaihi wa sallam, ia berkata :
«كَمْ تَجُرُّ الْمَرْأَةُ مِنْ ذَيْلِهَا؟ قَالَ: «شِبْرًا» قُلْتُ: إِذاً يَنْكَشِفُ عَنْهَا. قَالَ: «ذِرَاعٌ، لاَ تَزِيدُ عَلَيْهِ»

“Berapa ukuran menjulurkan bagian bawah pakaian bagi wanita?” beliau menjawab : “Sejengkal”, aku mengatakan: “kalau begitu akan kelihatan kakinya”, beliau menjawab: “Sehasta, jangan lebih dari itu” [2]

Dikarenakan dzohirnya wanita tersebut memanjangkan pakaiannya dari tanah sejengkal, sehingga posisi dimulainya adalah dari tanah.

Dan tiga pendapat ini tidaklah keluar dari penerapan menutup telapak kaki yang merupakan maksud dan tujuan Alloh yang membuat syari’at, kecuali pendapat yang dipegang oleh pengikut madzhab Hanafi yang menyatakan bahwa kedua telapak kaki wanita tidak termasuk aurot, dengan meng-qiyas-kan (menganalogikan hukumnya) dengan tangan dari sisi hukum membukanya. Dan tidaklah samar bahwa pendapat madzhab ini marjuh (lemah) karena qiyas yang mereka lakukan bertentangan dengan nash. Dan qiyas apapun yang bertentangan dengan nash seperti ini adalah rusak/tidak benar.

Dan jika telah benar apa yang kita bahas tadi, dapat kita ketahui bahwa perbedaan pendapat pada masalah posisi dimulainya memanjangkan pakaian (setelah jelas wajibnya menutup kedua telapak kaki) adalah khilaf lafdzi dan bukan khilaf ma’nawi. Dari sisi lain, yang menunjukkan hal ini adalah bahwa hadits Ummu Salamah rodhiyallohu anha berputar antara terbukanya telapak kaki dalam perkataannya : «إِذًا يَنْكَشِفُ عَنْهَا» “kalau begitu akan kelihatan kakinya” dengan perbuatan berlebihan yang dilarang dalam hadits tersebut dalam sabda Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam «لاَ تَزِيدُ عَلَيْهِ» “jangan lebih dari itu”. Maka yang wajib dalam urusan pakaian wanita ini adalah yang menutupi seluruh badannya termasuk kedua telapak kakinya. Sehingga ibroh dalam masalah ta’abbud ini adalah tertutupnya telapak kaki dan bukan masalah sejengkal atau sehasta, karena keduanya hanyalah wasilah untuk menutupi aurot dan bukan merupakan tujuan. Maka ketika telapak kaki telah tertutup berarti tujuan telah tercapai. Hal ini sesuai dengan kesepakatan dalam madzhab jumhur tadi walaupun mereka berbeda-beda dalam menentukan batas mulainya. Sehingga perbedaan pendapat ini masih saling berdekatan dan tidak berpengaruh dalam hukumnya (wajibnya menutup telapak kaki).
والعلمُ عند اللهِ تعالى، وآخرُ دعوانا أنِ الحمدُ للهِ ربِّ العالمين، وصَلَّى اللهُ على نبيِّنا محمَّدٍ وعلى آله وصحبه وإخوانِه إلى يوم الدِّين، وسَلَّم تسليمًا.

———————————————————
[1] Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam “ath-Thoharoh” bab “fi ar-rojul yajid al-billah fi manamihi” (236), at-Timidzi dalam “Abwab ath-Thoharoh” bab “ma ja’a fi man yastaiqidz fa yaro balalan wa la yadzkur ihtilaman” (113), Ahmad dalam Musnadnya (25663), Abu Ya’la (4694), dan al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubro (818) dari hadits Aisyah rodhiyallohu anha. Hadits ini dishohihkan al-Albani dalam Shohihul Jami’ (2333) dan di as-Silsilah ash-Shohihah (2863).

[2] Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam “al-Libas” bab “fi qodri adz-Dzail” (4117), an-Nasa’i dalam “az-ziinah” bab “dzuyulun nisaa’” (5339), Ibnu Majah dalam “al-libas” bab “dzailul mar’ah kam yakun” (3580), dan Ahmad dalam Musnadnya (26106) dari hadits Ummu Salamah rodhiyallohu anha. Hadits ini dishohihkan al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shohihah (460).

***

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s