Pucat

Oke, setelah lama nggak iseng nulis, akhirnya saya kembali iseng.

Kisah ini diawali dari pagi di Senin lalu. Sebelum masuk kelas, ada beberapa orang yang menyapa, maka seperti biasa pula, saya menjawabnya satu per satu walau kadang saya nggak ingat namanya. Tapi ada satu orang yang sifatnya itu memang terlalu perhatian, “Tansa, lu kenapa? Kok pucat gitu?”. Lho, kalau saya pucat harusnya orang rumah ada yang sadar dong, atau minimal orang-orang yang nyapa tadi ada yang bilang, tapi nggak tuh. Jadi, perkataan orang di depan saya perlu diragukan. (Maaf ya).

Saat upacara, amanat pembicara terasa lama sekali. Baju saya basah padahal langit mendung. Wah, tanda-tandanya nggak kuat upacara nih. Tuh kan, benar saja setelah itu pandangan saya kabur, ya sudahlah mundur saja.

Pelajaran pertama Kewarganegaraan, karena kepala saya masih pusing ditambah mual maka saya memilih untuk tidur. Tak disangka, ada yang membangunkan saya, “Woy, sahur! Jangan tidur aja!” Astaghfirullah, Pak Guru! “Kayak dia dong, ngerjain sesuatu,” saya melirik teman sebelah saya, dia kan lagi ngerjain pelajaran lain. Setelah itu guru itu pun keluar. Dalam hati saya berkata, ‘Bapak nggak ngajar, kan? Mending saya tidur.”

Setelah itu, saya memutuskan untuk istirahat di UKS. Saya tertidur lama sekali tapi pusingnya tidak hilang. Setelah itu pulang.

Selasa
“Tansa kenapa masuk? Masih pucat tuh”. Lagi-lagi perlu diragukan. Tapi ketika saya coba Tanya yang lain, jawabannya iya.

Dum! Dum! Dum! Aduh, itu suara apa sih? Setelah dicek ke sana ke mari ternyata sedang check sound untuk Pesta Kelulusan siang ini. Tiba-tiba kepala terasa pusing.

“Tansa kenapa merenung?”
“Gue pusing.”
“Terus kenapa sekolah?”
“Nggak tahu, kalau di rumah gue itu sehat.”
“WAAA LATANSA LUCU! Jadi lo sakit gara-gara sekolah?”
“Nih, kemarin aja pas gue pulang, trus nyampe rumah, nggak pusing sama sekali.”
“Tansa kena sindrom apa sih?”
“Sindrom Takutulanganfisika kali…”

Jumat
“Tansa masih sakit ya?”
“Nggak…”
“Kok pucat?”
“Masa’sih?”
“Iya, coba tanya yang lain”
“Emangnya gue pucat?”
“Sedikit lebih putih.”

Senin (Lagi)
Pagi
“Hore, Latansa jadi nggak pucat lagi. Mungkin karena lagi istirahat ya, makanya lo jadi nggak pucat.”
“Emang iya ya?”
“Iya, sekarang bibirnya jadi agak merah”

Siang
Waktu pelajaran Biologi, kami mengecek golongan darah satu per satu. Di akhir pelajaran, teman saya bilang, “Lu kalau ngelihat darah jadi pucat ya?”. Teman sebangkunya menjawab, “Nggak, dia bukan takut darah. Dia emang pucat kalau lagi belajar, tapi ntar pas nggak belajar biasa lagi.”

Sore
Teman sekelas saya yang lain lagi berkomentar, “Latansa selalu pucat ya.” “Masa’ sih?”. Yang lain menjawab, “Iya, kenapa? Lo putihan ya?”

Saya tidak mengerti mengapa hanya orang-orang di kelas saya (orangnya berbeda setiap hari) selalu mengatakan saya pucat. Tapi orang rumah, teman pulang, teman rohis, kok nggak ada yang bilang gitu ya? Atau mungkin kata teman saya itu benar, kalau sedang belajar saya pucat, kalau tidak sedang belajar, saya biasa-biasa saja. Sedikit masuk akal.

Bonus gambar

(Tebak) Yang manakah saya?

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s