Milikmu Bukan Milikmu

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, posesif bersifat merasa menjadi pemilik; mempunyai sifat cemburu. Prinsipnya adalah “harus memiliki”, bukannya saling berbagi. Intinya: kamu milik saya seorang, tidak boleh ada yang lain. Kalau ada maunya harus dituruti. Keberadaan orang yang merasa dimiliki terus dipantau. Ke mana pergi, orang posesif ini harus tahu ke mana pergi. 

Kamu di mana?

Dengan siapa?

Semalam berbuat apa?

Lirik lagu Yolanda itu sedikit banyak menggambarkan bagaimana sifat posesif. Untuk memahami bagaimana sifat posesif itu terjadi, kita ambil sebuah contoh. Anak yang jika pulang malam sedikit langsung ditanyakan keberadaannya lewat SMS atau telepon, mungkin kalau sudah dewasa nanti akan melakukan hal yang sama pada suami atau istrinya. Kalau suami belum pulang, ditelepon sambil marah-marah padahal pekerjaaan memang menumpuk dan harus diselesaikan dengan segera.

Sifat posesif bisa terjadi terhadap anak, sahabat, atau pasangan. 
“Anak adalah kehidupan, mereka sekedar lahir
melaluimu tetapi bukan berasal darimu.
Walaupun bersamamu tetapi bukan milikmu,
curahkan kasih sayang tetapi bukan memaksakan pikiranmu
karena mereka dikaruniai pikirannya sendiri.
 
Berikan rumah untuk raganya, tetapi tidak jiwanya, karena
jiwanya milik masa mendatang, yang tak bisa kau datangi
bahkan dalam mimpi sekalipun.

Bisa saja mereka mirip dirimu, tetapi jangan pernah
menuntut mereka jadi seperti sepertimu.
Sebab kehidupan itu menuju ke depan, dan
tidak tenggelam di masa lampau. 

Kaulah busur, dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur.
Sang Pemanah mahatahu sasaran bidikan keabadian.
Dia menentangmu dengan kekuasaanNya,
Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat. 

Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat
Sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap”.

Orang yang posesif sering diibaratkan seperti anak kecil yang sangat mencintai anak ayamnya. Ia menggenggam erat anak ayam tersebut sampai-sampai anak ayam itu mati sesak. Ingatlah, setiap orang memiliki jalannya masing-masing. Tugas kita hanyalah menuntun mereka ke jalan yang lurus, bukan memaksa mereka mengikuti jalan kita. 

Jika kita adalah orang yang terkena imbas sifat posesif, jalan terbaik adalah menerima, itu artinya si posesif menyayangi dan perhatian terhadap kita. Tapi kalau tidak menikmati hubungan seperti itu, mengurut dada terus, merasa terpenjara, ajaklah si posesif untuk berbicara empat mata, terbuka dari hati ke hati. Saya pernah diajari cara mengungkapkan ‘marah’ dengan baik, yaitu perhatikanlah intonasi bicara, situasi, dan kondisi. Suatu kritik yang disampaikan lemah lembut akan lebih baik daripada disampaikan sambil berteriak. Pada waktu senggang, masukan cenderung lebih diterima ketimbang pada waktu sibuk. Bagi yang merasa memiliki sifat posesif, kuncinya hanya satu: introspeksi. Cobalah untuk membuka mata, hati, dan telinga.  

Yang paling penting, nantinya jangan saling membenci, jangan saling memusuhi, dan jangan memutus hubungan. Jadilah kita hamba Allah yang saling menghargai. Tidak diperbolehkan seorang Muslim memboikot sesamanya selama lebih dari tiga hari. Sebab tidaklah kita akan masuk surga sampai kita beriman, dan tidaklah kita benar-benar beriman hingga kita saling mencintai.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada..

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s