Dilema S(e)TAN

Entah dari mana datangnya, saya menemukan segitiga risiko (lihat di lampiran). Segitiga ini adalah segitiga sama sisi yang masing-masing sisinya mewakili sesuatu, yaitu kamu benar, kamu salah, dan bukan keduanya. Mungkin ini terinspirasi dari trigonometri, yang sampai sekarang saya belum juga mempelajarinya dengan baik.

Memang, setiap pilihan yang diambil itu mempunyai risiko, dan itu sudah lumrah. Maka kali ini saya akan menceritakan sesuatu yang sebenarnya tak jauh beda. Namanya dilema.

Telah beberapa kali saya menuliskan masalah yang sedang dihadapi di atas lembar putih. Kemudian lembar putih itu diserahkan kepada Guru-Guru Bimbingan dan Konseling (BK) yang berbeda. Semua masalahnya sama: saya tidak tahu harus melanjutkan ke jurusan apa setelah lulus. Tapi saya yakin kalau tulisan-tulisan tersebut belum dibaca.

Ketika berangkat sekolah, penyiar radio berkata, “Selamat pagi semua, Selamat Hari Kartini buat kita. Buat kamu yang sedang berangkat kuliah…” Setelah itu bapak saya bertanya, “Nanti kamu mau kuliah di mana?” “Yang jauh dari sini,” jawab saya sekenanya. “Di Jawa Timur sana? Dekat rumah nenekmu?” “Iya,” saya hanya asal mengiyakan. “Mau belajar apa kamu di sana? Mendingan di STAN.” Tak lama kemudian sampai sekolah, untunglah.

Setiap hari juga dilontarkan pertanyaan yang sama, “Nanti kamu mau kuliah di mana?”. Maka pasti setelah itu STAN-lah yang dianggap solusi terbaik, begitu terus setiap hari. Saya selalu menolak dengan berbagai alasan. “Kalau your reason is good, I will hear. Kalau kamu kuliah kedokteran, Papi mau deh ngalah,” kata beliau (orang yang paling ngotot menyuruh saya masuk STAN) suatu hari.
Alasan-alasan saya memang dibuat-buat. Saya mengatakan kalau saya kuliah di STAN nanti, setelah bekerja akan berangkat malam pulang malam. Tapi bapak saya (juga ibu) berkata kalau saya selalu melihat seorang pria lulusan STAN yang sering pulang malam. Itu karena dia kerja di Jakarta. Lihatlah wanita lulusan STAN yang bekerja di daerah. Ia bisa pulang saat istirahat siang juga pulangnya sore. Ia tak terjebak macet karena bukan tinggal di kota metropolitan. Jika alasan saya takut tua di jalan, maka solusinya bekerjalah di daerah yang jauh dari kemacetan. Saya kalah.

Saya juga pernah mengatakan kalau saya ingin jadi seorang guru matematika. Mereka lagi-lagi mempunyai argumen yang kuat. Menurut data, jumlah guru di Indonesia sudah sangat banyak sehingga lowongan untuk guru sangat kecil. Sebenarnya saya tahu hal tersebut. Saya kalah lagi.

Bagaimana kalau saya kuliah di sastra? Kata ibu saya di sana nanti ada Mata Kuliah Ilmu Alam Dasar, beliau tahu saya tidak suka Ilmu Alam. Teman saya pernah bertanya mengapa saya memilih jurusan IPA kalau saya tidak menyukainya sama sekali. Jawabannya sederhana, kalau tidak masuk IPA, berarti IPS. Kalau di IPS terpaksa tiga tahun sedangkan di IPA bisa dua tahun. Namun akibatnya tak sesederhana jawabannya.

Kalau nanti kuliah jurusan IPS (dan cabangnya), berarti pasti dapat Ilmu Alam Dasar. Kalau masuk IPA ya sudah mutlak. Kalau jurusan agama bagaimana? Tapi yang terlintas di pikiran saya universitas agama yang paling dekat itu adalah universitas agama terburuk, Al-Qur’an berani mereka injak (konotasi dan denotasi). Lalu bagusnya masuk mana, Ma? Jawab beliau ya di STAN. Di sana tak ada Ilmu Alam. Lagi-lagi saya kalah.

Dilema tersebut membuat saya ingin sekali konsultasi ke ahli konseling. Ada dua orang teman yang mengalami masalah serupa kebetulan mengajak ke guru BK. Namun selalu saja ada kendala. Kalau mengikuti minat yang tertulis di hasil psikotes, nomor satu medical dan nomor tiga clerical. Jujur saja, sebenarnya saya tidak berminat pada kedua hal tersebut. Saat psikotes saya merekayasa jawaban saya agar hasilnya seperti itu. Alasannya supaya orangtua saya senang kalau anaknya berminat pada tiga hal tersebut. Saya baru sadar ternyata tindakan tersebut salah besar.

Suatu ketika saya bermimpi kalau saya akhirnya ‘terpaksa’ mendaftar di STAN. Ada satu teman saya yang juga mendaftar. Tiba hari pengumuman teman saya itu SMS, “Iz, u kterima gk?”
“Gak tahu, mau w cek. Wid, u kterima gak?
“Gk nih,w sedih bgt.w mau nangis nih..”

Saya kemudian menangis. Wid sangat ingin masuk STAN, tapi tidak diterima. Sesungguhnya sebab saya menangis sebenarnya bukan karena dia tidak diterima, namun karena saya diterima. Dalam isak saya bertanya, “Ya Allah Tuhanku, bukankah Engkau Maha Adil? Lalu di mana letak keadilan-Mu? Mengapa aku yang tidak ingin diterima malah diterima sedangkan dia tidak? Bukankah sebelum tes aku berdoa kalau apa pun jawaban yang kupilih, buatlah aku tidak diterima? Benarkah Engkau itu Maha Adil?”

Ketika saya bangun ujung mata saya basah. Setelah cuci muka lalu saya melanjutkan membaca buku yang sebagian dibaca sebelum tidur. Betapa terkejutnya saya karena di situ tertulis, “Percayalah, Tuhan itu Maha Adil. Hanya kita saja yang terlalu bebal untuk tahu keadilan-Nya. Kita terlalu buta untuk tahu di mana letak keadilan-Nya. Tuhan itu selalu adil.” Anehnya, kini saya membolak-balik halaman buku tersebut tapi tidak menemukannya secuil pun. Padahal seingat saya hal tersebut diulang-ulang lebih dari dua kali.

Jadi, apakah jika saya katakan reason yang sebenarnya akan dianggap good? Mari meminta fatwa hati.

Dan dari Wabishah bin Ma’bad ra berkata, ‘Aku datang kepada Rasulullah saw., maka beliau bersabda, “Apakah engkau datang untuk ertanya tentang kebaikan?” Aku menjawab, “Benar, wahai Rasulullah.” Lalu beliau bersabda, “Mintalah fatwa kepada hatimu sendiri. Kebaikan adalah apa yang karenanya jiwa dan hati menjadi tentram. Dan dosa adalah apa yang mengusik jiwa dan meragukan hati, meskipun orang-orang memberikan fatwa kepadamu dan mereka membenarkannya.” (Ahmad dan Darimi)


Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s