Transtangerang

Hari Minggu, 13 Juni 2010, teman saya yang bernama Suci mengajak pergi ke Kota Tua. Tadinya sih, mau ke Ragunan, tapi sepertinya terlalu jauh. Jadilah kami berempat–saya, Suci, Esti, Nabella pergi ke sana.

Karena orangtua berbaik hati mau mengantarkan, kami pun pergi diantar orangtua. Tidak tahunya setelah sampai, yang lain malah protes, kata mereka naik busway lebih enak daripada diantar. Saya langsung pasang wajah tanpa dosa sambil tersenyum lebar.

Pertama, kami mengunjungi Museum Seni Rupa dan Keramik yang terletak di Jalan Pos Kota No 2, Kotamadya Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta, Indonesia. Museum yang tepatnya berada di seberang Museum Sejarah Jakarta itu memajang keramik lokal dari berbagai daerah di Tanah Air, dari era Kerajaan Majapahit abad ke-14, dan dari berbagai negara di dunia.

Yang paling saya suka, lukisan Potret Diri-nya Affandi. Waktu pertama lihat, saya berpikir begini, ‘Kok bisa ya, lukisan asal kasih warna ini dipuji-puji orang?’ Agak jauh dari situ, saya melihat kembali lukisan tersebut. Detil-detil lukisan justru terlihat kalau dari jauh, seorang lelaki dengan rambut keriting yang acak-acakan.

Selanjutnya menuju Museum Fatahillah yang juga dikenal sebagai Museum Sejarah Jakarta atau Museum Batavia adalah sebuah museum yang terletak di Jalan Taman Fatahillah No. 2, Jakarta Barat dengan luas lebih dari 1.300 meter persegi.

Gedung ini dulu adalah Stadhuis atau Balai Kota, yang dibangun pada tahun 1707-1710 atas perintah Gubernur Jenderal Johan Van Hoorn. Bangunan balaikota itu serupa dengan Istana Dam di Amsterdam, terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara.

Pada tanggal 30 Maret 1974, gedung ini kemudian diresmikan sebagai Museum Fatahillah. Tapi di sana ramai sekali beli tiket saja sampai antri. Kebanyakan yang datang adalah pelajar. Mereka mau beli tiket harga pelajar tapi disuruh beli tiket dewasa sama petugasnya. Kami saja yang bawa kartu pelajar disuruh beli tiket harga mahasiswa. Ya sudahlah.

Di sana saya cuma bisa melihat-lihat orang-orang yang berfoto ria. Harus hati-hati jalan, salah-salah nanti dimarahi orang yang lagi narsis karena lewat sembarangan. Yah, batal deh seru-seruannya. Di ruangan yang entah apa namanya, saya lihat ada perempuan berkacamata. “Kayak pernah lihat orang itu…” . Oh iya, itu kan Mbak Enifia! Langsung saja, saya perkenalkan diri karena dia tidak tahu wajah saya. Senangnya bisa ketemu MP-er…

Bosan di Kota Tua (panasnya itu lho, nggak tahan), maka kami bersepakat untuk main ke rumah saya. Meski sudah saya katakan kalau rumah saya jauh, mereka tetap pada kesepakatan awal. Lucunya, mereka tidak tahu jalan pulang, “Ada halte busway nggak, dekat rumah kamu?”. Saya menjawab, “Rumah saya ‘kan di Tangerang.” Ditanya lagi, “Memangnya di Tangerang nggak ada busway?” “Gimana sih, busway itu ‘kan namanya Transjakarta. Kalau di Tangerang ada busway, namanya Transtangerang.”

(Tebak Gambar–ngambil dari blognya Mbak Enif)
Hayo, saya yang mana?

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s