Orang Pintar dan Orang Beruntung

Menurut status salah seorang teman saya, orang pintar itu beda tipis dengan orang beruntung, orang bodoh beda tipis dengan orang malas. Kalau dipikir-pikir, memang ada benarnya juga.

Adik saya yang laki-laki mungkin salah satu contohnya. Saya tidak berkata bahwa adik saya itu tidak pintar, tapi dia orang beruntung. Walau IQ-nya lumayan tinggi, nilai sekolahnya pas-pasan (bukan pas ulangan pas dapat nilai bagus).

Waktu ia memberitahu NEM-nya, seisi rumah tak ada yang percaya. Tak ada yang percaya ia dapat nilai setinggi itu karena sepupunya yang sepantaran dengannya memiliki nilai lebih kecil dibanding dia. Padahal sepupunya itu terlalu rajin belajar hingga disuruh orangtuanya untuk tidak belajar.

Dengan NEM setinggi itu, dia bisa masuk di sebuah SMP Jakarta. Hal yang sulit bagi teman-temannya karena sekolah DKI hanya memiliki jatah lima persen untuk siswa yang berasal dari Non DKI. Dulu dia sekolah di Tangerang, dekat rumah. Pilih SMP Jakarta supaya bisa masuk di sembilan puluh lima persennya SMA Jakarta.

Pak Uzo (sebut saja begitu) yang merupakan suami dari salah satu guru di SD-nya bertanya pada kakak saya, “Lam, Sabili masuk mana?”
“134,” jawab kakak saya. Sekedar info, 134 itu SMP saya dulu, ditaruh di pilihan pertama karena saya yang daftarkan.
“Wah, hebat juga dia bisa masuk Jakarta, padahal dia agak bandel gitu.” Bahkan orang lain pun tak percaya dengan adik saya.

Saat daftar ulang, mama bertanya pada salah satu wali murid, “Bu, tadi instruksinya apa ya?”
“Gini Bu, Ibu ke papan yang di sebelah sana, terus tulis peringkat anak Ibu di pojok form FX-4 ini.”
Mama pun pergi ke papan tersebut, begitu juga dengan wali murid tadi.
“Lho Bu, di sini tuh ditulis peringkatnya!”
Mama jadi heran, “Iya, Bu.”
“Terus Ibu nulis apaan itu?” kata wali murid tadi.
“Kan ini, Bu.” Mama menunjuk nama adik saya di papan pengumuman yang berisi peringkat.
“Eh, anak Ibu peringkat tiga ya? Maaf, Bu.”
“Oh, nggak pa-pa. Malah saya yang harusnya terima kasih.”
Lagi-lagi orang lain tidak percaya dengan adik saya.

Hal yang sama terjadi saat ia masih TK. Saat itu mama ingin mendaftarkannya di SD yang cukup bonafid di kotanya (bukan SD tempat adik saya lulus). Lalu mama pun berkonsultasi dengan guru TK adik, karena biasanya anak-anak yang mau sekolah di situ merupakan rekomendasi dari TK mereka. “Bu, kira-kira Sabili bisa sekolah di Binsus nggak, ya?” “Ya nggak bisa dong, anak-anak yang masuk Binsus kan cuma anak-anak pintar.” Wah, itu sih sama saja dengan mengatakan kalau adik saya itu tidak pintar. Seperti biasa, orang lain tidak percaya dengan adik saya.

Perlu diketahui, pada akhirnya adik saya itu bersekolah di Binsus karena beruntung. Ya, dia beruntung karena ketika itu anak-anak yang masuk Binsus bukan lagi murid pilihan. Semua orang bisa mendaftar. Adik saya lulus tes masuknya, padahal satahu saya waktu itu menulis nama orangtuanya saja ia tak bisa.

Oh iya, mau tahu kenapa NEM SD adik saya bisa tinggi? Percaya atau tidak, awal tahun 2010 saya menyuruh adik saya menulis targetnya di papan tulis. Dia menulis:

Saya Sabili lulus UASBN 2010
dan masuk SMPN Jakarta
dengan rata-rata 100.
Hormat saya,
Sabili

Saya marahi dia, suruh ganti bilangan 100 itu. Dia ganti dengan 90.

Papan tulis itu ditaruh di ruang makan. Setiap teman saya yang main ke rumah dan makan bisa melihat papan tulis itu. Biasanya sih, mereka menertawai adik saya. Ya, meski orang lain sering tidak percaya dengan adik saya, tapi saya percaya dia bisa bersekolah di SMAN 78 (lho?).

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s