Monthly Archives: July 2010

Teman-Teman O

Kalau kamu bingung kenapa saya jadi jarang online, saya kasih tahu sedikit.
Saya berangkat dari rumah masih malam. Meski matahari telah terbit, langit masih gelap. Saya menyebutnya masih malam.
Saya pulang ke rumah sudah malam. Sampai di rumah sudah ambruk. Tapi bangkit lagi karena ingat belum mengerjakan tugas atau besok ulangan.
Saya tidur di akhir pekan, itu pun hanya rencana. Ada banyak yang harus dilakukan.
Teman saya pernah tanya ketika saya online, “Masih main aja. Padahal tadi pulang jam 20.30.”
“Siapa?”
“Lu.”
“Orang tadi gue pulang jam 7. Bolos.Capeklah.”
Oke, ini saja.
Kalau kamu tidak bingung kenapa saya jadi jarang online, ya sudah.

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Cubitable(c)

Saya heran mengapa banyak yang suka mencubit pipi saya. Kalau dihitung, mungkin lebih dari sepuluh kali per harinya orang lain mencubit pipi saya. Apakah pipi saya tembam? Saya rasa tidak.

“Latansa itu teman sekelas yang cubitable(c). Aura cubitable(c)-nya menguar-nguar.”
“Latansa itu lucu banget, jadi bikin gemas.”
“Tingkat kekenyalan pipinya sempurna.”
“Coba Tanchan sekelas sama aku, pasti nanti aku nggak ngantuk di kelas soalnya bisa nyubitin pipinya Tanchan.”
“Pipimu bisa menjadi obat penghilang stress.”
“Tolong jangan berlaku yang membuat orang lain ingin mencubit pipimu.”
“Tansa kayak boneka.”
“Latansa kok jadi mirip adiknya yang masih bayi?”
“Lu kalau ngunyah makanan lucu.”
“Bagusnya kamu jadi adikku aja.”
“Kalau gue punya anak nanti, gue pingin yang lucu kayak Latansa biar tiap hari bisa nyubitin pipinya.”
“Lama nggak ketemu Tansa. Kangen sama pipinya.”

Saya jadi ingat waktu SD dulu banyak kakak kelas yang suka mencubit pipi saya serasa berkata, “Latansa comel!” atau “Comelnya budak nie…” Padahal saya tidak kenal siapa mereka.

Huff, mungkin karena ini banyak orang yang tidak tahu (tidak mau tahu atau pura-pura tidak tahu) kalau tahun depan saya lulus SMA.

____________
(c)Copyright by Kaire Takacchi. All rights not reserved.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Mandarin Versus Arab Bagian Dua

Supaya gampang, baca bagian satu dulu, ya!

SCI di Bulan Juli…

Kalau dulu teman saya pernah berkata kalau Kelas Bahasa Arab tidak akan dibuka untuk semester ini, sedikit banyak ada benarnya. Kegalauan saya bermula sejak Mata Pelajaran Seni Rupa. Sebenarnya, kami diperbolehkan memilih Seni Rupa atau Seni Tari, tapi mayoritas memilih Seni Rupa. Dua orang teman saya yang mengambil Seni Tari ‘terpaksa’ pindah karena kata Wakasek Bidang Kurikulum orangnya sedikit. Tiba-tiba saya jadi teringat obrolan dengan teman saya yang menurut prediksinya Kelas Bahasa Arab akan ditutup karena pendaftarnya yang sedikit meski ada gurunya.

Saya pun menghadap Wakasek Bidang Kurikulum untuk mencari kejelasan.
“Pak, yang ikut Bahasa Arab itu bagaimana?”
“Yang ikut cuma sedikit,” begitu jawabnya.
“Terus?” tanya saya.
“Ya gimana? Yang ikut cuma lima orang kalau nggak salah.”
“Jadi nggak ada nih, Pak?”
“Muridnya dikit gitu. Mungkin kalau dua puluhan akan dibuka. Sayang lho, gurunya itu S1 di Irak, S2-nya di Malaysia, pasti jago banget.”
“Tuh, kan Pak… Dibuka aja…”
“Cuma lima orang lho!”
“Ya nggak pa-pa. Pelajaran Agama Buddha yang ikut enam orang saja dibuka.”
“Ya itu sih lain, kan agama.”
Intinya, percakapan hari itu alot hingga kesimpulannya Kelas Bahasa Arab akan dibuka jika pendaftarnya lebih dari dua puluh orang. Saya menyerah.

Selanjutnya saya terdampar di Kelas Bahasa Mandarin 1. Kata orang-orang sih gampang. Tapi waktu saya belajar, saya sulit membedakan Hanyu Pinyin (Alfabet Fonetik) j, q, z, c, zh, dan ch. Bagi saya semuanya terdengar seperti huruf c. Laoshi (guru) berulang kali membetulkan pengucapan saya. Otak saya jadi pusing.

Terbersit dalam pikiran saya kalau saya ingin tidak ikut lagi. Tapi, Bahasa Asingnya ‘kan cuma ini? Kalau tidak saya ambil, berarti jumlah SKS saya nanti kurang dong? Pertolongan-Nya datang, saya menemukan jawaban-jawaban pertanyaan tersebut di buku 7 Kebiasaan Remaja yang Sangat Efektif:

“Kalau kamu pikir bisa, dan kamu kreatif serta ulet, takkan kamu sangka apa yang bisa kamu capai. Ketika kuliah, saya ingat diberitahu bahwa untuk memenuhi syarat bahasa saya, saya ‘harus’ mengikuti kelas yang tidak saya minati dan tidak berarti bagi saya. Tetapi, bukannya mengikuti kelas itu, saya memutuskan untuk menciptakan kelas saya sendiri. Maka saya kumpulkan sekian banyak buku yang akan saya baca, serta tugas-tugas yang akan saya kerjakan, dan mencari guru yang akan mensponsori saya. Lalu saya mendatangi dekan fakultas dan mengajukan usulan saya. Ia terima usulan saya dan saya pun memenuhi syarat bahasa itu dengan mengikuti kursus buatan saya sendiri.”

Esoknya, saya kembali menghadap wakasek tersebut. Tapi intinya tetap sama, kelas hanya akan dibuka jika pendaftarnya lebih dari dua puluh orang.
“Pak, yang bisa mengambil Bahasa Arab 1 semester ini hanya XI IPA A dan SCI. Kalau dihitung, yang beragama Islam cuma berapa. Belum tentu semua yang beragama Islam itu mau.”
Kemudian beliau mengatakan kalau sesungguhnya beliau senang ada yang mengambil Bahasa Arab. Tapi kalau hanya lima orang itu boros. Beliau menunjukkan pada saya rekapitulasi data di laptopnya. “Ya… kalau sepuluh orang boleh deh.”
“Sepuluh orang ya? Nanti saya cari dulu deh. Makasih ya, Pak.”

Sorenya saya mengirim SMS ke semua teman saya di kelas XI IPA A dan SCI yang Muslim/ah. Parahnya, yang menjawab YA hanya satu orang. Sisanya entah kenapa tidak dibalas. Pokoknya, jangan berhenti sampai di sini! Besok paginya, saya mengajak teman-teman di kelas saya untuk ikut mendaftar. Saya tidak lagi mengajak kelas lain supaya kelas itu tidak dibuka di sore hari. Imbasnya, saya harus berhasil mengajak semua Muslim/ah di kelas saya supaya lengkap jadi sepuluh. Meski begitu, saya hanya berhasil mengumpulkan delapan orang termasuk saya. Kemudian saya lagi-lagi menghadap wakasek tersebut dan menyerahkan datanya. Ah, cuma dapat delapan orang, jangan sampai disuruh cari dari kelas lain juga, nanti pulangnya tambah sore. Beliau melirik data tersebut lalu kembali melihat laptopnya, “Ya sudahlah, lihat nanti saja.” Yah, tidak pasti. Nanti itu kapan?

***
Tadi pagi, saya sudah siap dengan buku kotak-kotak Mandarin menuju ke kelas. Saya mampir melihat jadwal di papan pengumuman untuk mencari tahu ruangannya. Ketika saya lihat pelajaran dan ruangannya, tulisannya begini: MN/A4 – 3.07/4.02. Saya senang karena A4 itu kode pelajaran Bahasa Arab.

Penerbang Amerika, Elinor Smith, pernah berkata, “Telah lama saya perhatikan bahwa orang-orang berprestasi jarang duduk-duduk menantikan segalanya terjadi pada mereka. Mereka membuat dan menjadikan segalanya terjadi.”

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Prejudice

Salah satu kebiasaan manusia adalah menilai orang lain lewat penampilan luarnya. Coba pecah kata prejudice itu. Pre-judge (belum apa-apa sudah menghakimi dulu). Menarik bukan? Kalau kita belum apa-apa sudah menghakimi dulu; itu artinya mengambil kesimpulan tentang seseorang padahal belum kita kenal.

Beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan seorang nenek di angkot.
“Sekolah di mana?” tanya nenek itu.
“Di 78,” jawab saya.
“SMP ya?” JLEB! Sabar…
“Udah SMA,” saya berusaha tersenyum.
“Udah SMA? Kok masih kecil?”
Hening.
“Umurnya berapa?”
“1* tahun.”
“1* tahun? Kok udah SMA? Kelas 1 ya?”
“Kelas 2,” saya tersenyum kembali.
Nenek itu mencoba menghitung-hitung umur berapa saya masuk SD. “Berarti dulu nggak TK ya, langsung masuk SD.”
“Saya dulu masuk TK kok.”
Saya tidak tahu kamu gimana, tetapi saya sih tidak tahan kalau dinilai dari penampilan luar oleh seseorang yang tidak kenal apa pun tentang saya. Setelah berbasa-basi sedikit saya segera turun dari angkot tersebut.

Kemarin, ada acara di sekolah yang panitianya teman-teman saya. Sebenarnya saya ikut ambil bagian, jadi penonton. Saat sesi kuis, kedua pembawa acara bertanya, “Di antara kami, siapa yang anak SCI (akselerasi)?” Tidak ada yang bisa jawab. Teman saya berkata, “Masalahnya dari mereka berdua nggak ada yang meyakinkan jadi anak SCI.” Duh, kasihan ya. Saya berbisik ke teman saya yang di depan, “Kasih tahu sama peserta, jawabannya yang baju kuning.” Teman saya bingung, “Yang baju kuning? Bukannya itu Derry (sebut saja begitu) ya?” “Iya,” jawab saya. “Emangnya dia anak SCI?” “Iya, orang dia sekelas sama gue.” “Ooo…”

Saat istirahat, ada peserta yang mengobrol dengan saya dan teman-teman saya. Katanya saya hebat banget bisa jadi anak SCI, dia tahu setelah salah satu teman saya keceplosan mengatakan saya anak SCI. Dalam hati, ‘Yah, dia nggak tahu sih gimana sebenarnya saya.’ “Sebentar deh,” potong saya, “dia kan anak SCI juga.” Saya menunjuk Gina. “Kan kalau gue nggak kelihatan kalau anak SCI tapi kalau lu ada aura pinternya,” katanya. “Emangnya ada bedanya gitu?” tanya saya. Kami pun mulai membanding-bandingkan saya dengan Gina. Bagitu juga dengan Derry dan Musa (panitia, anak SCI juga) yang katanya juga terlihat aura pinternya (waktu itu dia pakai kemeja batik). “Kalau anak SCI itu… kelihatan lebih rapi,” jawab peserta tersebut. “Eh, jadi maksud kamu saya nggak rapi, gitu?” Gina yang tidak kelihatan aura pinternya (begitu katanya) jadi kesal sendiri. Memang, waktu itu Gina juga Derry pakai T-Shirt.

Saya jadi ingat di salah satu seminar, pengisi menunjuk dua orang peserta. Kami disuruh memilih dari penampilannya manakah yang kelihatannya lebih cerdas. Satunya memakai kemeja dan celana bahan, satunya lagi memakai kaus dan celana jins. Banyak peserta yang memilih orang yang pakai kemeja, padahal setahu saya peserta yang memakai kaos itu lolos Olimpiade Biologi sampai tingkat yang lumayan, sedangkan yang satunya cuma orang biasa.

Mungkin supaya kita tidak dicap negatif, berpenampilanlah seperti yang seharusnya, tapi tidak untuk menyombongkan diri. Bukan apa-apa, banyak orang yang kehilangan kesempatan hanya karena penampilan. Bukankah sampul buku berpengaruh besar sehingga itu faktor utama orang tertarik untuk membacanya?

Dalam Surat Yunus (10) ayat 36. Allah SWT berfirman, “Prasangka itu tidak mendatangkan kebenaran apapun.”

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Buka Mata Buka Hati

Ketika pertama saya masuk SMA, saya bingung di SMA saya ada ekstrakurikuler BBQ. BBQ itu bukan Barbeque, tapi Belajar Baca Qur’an. Bukankah semua murid yang beragama Islam pasti bisa baca Qur’an? Kenapa harus belajar? Saya bingung karena kepanjangannya bukan Bagusin Baca Qur’an atau Baiki Baca Qur’an. Meski begitu pada akhirnya saya mendaftar ekskul tersebut sebab saya pikir ekskul ini seperti temat Tahsin Qur’an (memperbaiki bacaan al-Qur’an).

Setahun kemudian, tiba saatnya saya jadi asisten mentor di salah satu kelompok Kajian Islam di sekolah untuk anak-anak kelas sepuluh (1 SMA). Asisten mentor itu bertugas mendampingi mentor atau menggantikan mentor ketika sedang berhalangan. Biasanya yang jadi mentor adalah alumni. Kajian Islam diadakan satu pekan sekali dan kelompoknya menurut kelas. Saya jadi berpikir, “Kok bisa ya saya jadi asmen (asisten mentor)?”

Pekan pertama tidak ada kakak alumninya, maka kami para asmen bertugas untuk mengisi materi di kelompok masing-masing yang telah ditentukan. Orang seperti saya ini tidak punya ilmu yang cukup, jadi rencana saya sih nanti paling-paling hanya mengobrol.

Nah, saya berdua dengan kawan saya mengumpulkan mereka. Setelah pembukaan (tumben saya tidak gugup bicara di depan umum, mungkin karena menjaga citra diri). Selanjutnya tilawah (membaca Al-Qur’an) perorang tiga ayat. Padahal tadinya saya mau suruh mereka satu orang baca 10 ayat di surat yang ayatnya panjang-panjang supaya waktunya habis hanya untuk baca Al-Qur’an tapi tidak jadi. Al-Qur’an pun mulai dioper.

Kemudian saya duduk dengan kepala menunduk, tangan menopang dagu, terpekur menatap lantai, khidmat mendengar suara. Mungkin yang baru kenal bilang itu gaya yang cool (entah terjemahannya keren atau dingin). Padahal yang benar itu gaya saya kalau mood saya jelek sekali.

Makin lama suaranya makin kecil padahal duduknya tidak jauh dari saya. Saya masih menatap lantai, “Kak, kak…”. Maklum lagi serius menatap lantai jadi tidak dengar. “Kak? Kak!” mungkin dia sebal. “Eh, iya? Kenapa?” tanya saya. “Itu Kak,” adik kelas yang di seblah saya menunjuk temannya yang sedang memegang Al-Qur’an. “Eh, ini Kak…” anak yang ditunjuk itu berbicaranya sangat gugup sehingga saya tidak mengerti. “Ada apa, ya?” tanya saya. “Nggak bisa bacanya,” katanya sambil menunjuk Al-Qur’an. “Nggak bisa bacanya? Maksudnya?” saya merasa seperti orang aneh karena dari tadi bertanya terus. “Ini Kak, kami ‘kan dulu SMP-nya *** (maksudnya sekolah nonislam) jadi nggak bisa.” “Iya deh, nggak pa-pa, silakan yang di sebelahnya,” saya merasa mood saya lebih kacau. “Makanya ikut ekskul BBQ.” seru teman saya. Wusssh… Angin berhembus mengenai wajah saya.

Badan saya lemas setelah saya tahu bahwa bukan hanya anak tadi yang bernasib seperti itu, ada beberapa yang bernasib sama. Teman saya yang dari TK sekolah di sekolah nonislam bisa baca Al-Qur’an, dan saya kira semuanya begitu. Perkiraan tidak selamanya benar ya.Tok tok tok! Pintu kelas dibuka. “Ke MPR,” kata salah seorang teman saya lalu menutup pintu lagi. “Ayo adik-adik semua, kita ke MPR alias Multi Purpose Room, Ruang Serbaguna,” kemudian saya melangkah pergi bersama mereka.

NisaNasu: begitulah beruntungnya bergabung sama Rohis, kita bisa lebih membuka mata lebar2 akan keadaan yang sebenarnya RT @latansaide : Saksikanlah Bahwa Aku seorang Muslim [mltp.ly]1 wk ago via Mobile Tweete

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Belum Ada Judul

Pada suatu tempat yang sepi, saya duduk merapatkan kaki. Kepala saya terbenam. Ketika saya mengangkat kepala, ada orang yang menghampiri. Dia diri saya satu tahun lagi!

Seperti apakah dia?

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Saksikanlah Bahwa Aku seorang Muslim

Drrrt… drrrt… drrrt… Ada SMS masuk.

Dari Kaput (Ketua Keputrian).

Pembagian untuk menggiring anak baru jam 11.45 ke MPR (Multi Purpose Room): jangan telat! Lantai 4.0
1: Gita Anis
2: Putri Rosa
3: Tansa Citra
4: Mardi Deani
5: Faiza Fany
6: Mira Rizky
10: Acti Tiara

Jujur, tadinya saya kira tugas menggiring anak baru ini mudah, tapi ternyata sulit. Saya masuk ke kelas, kasih pengumuman kalau ada Pendidikan Iman dan Taqwa. Ternyata masalahnya bukan di situ. Awalnya saya sukses menggiring para anak baru walau cuma empat orang. Tadinya saya pikir anak cewek yang beragama Islam hanya sebanyak itu, setelah saya pikir-pikir lagi akhirnya saya memutuskan untuk menyisir semua tempat yang ada anak barunya bersama teman saya.

Hai Nabi, katakanlah kepada para isterimu, para putrimu dan para wanita mukmin, hendaklah mereka memakai jilbab atas dirinya. Hal demikian itu supaya mereka mudah dikenal, maka mereka tidak diganggu. Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ( QS. 33 : 59 )

Sebelumnya saya kira ayat ini ayat zaman dahulu ketika para wanita mukmin diganggu karena memakai jilbab tapi lehernya terlihat. Pakaian mereka sama seperti wanita Arab pada umumnya, begitulah alasan para pengganggu yang sudah menandatangani perjanjian dengan Nabi kalau mereka tidak akan mengganggu para wanita mukmin*. Mereka sulit dikenal, itu intinya.

Ya, itu tadi, mereka sulit dikenal. Coba bayangkan, setiap saya bertemu anak perempuan yang berseragam SMP saya harus menanyakan dia Muslim(ah) atau bukan. Kalau mereka semua pakai jilbab ‘kan saya nggak usah capek-capek nanyain. Apalagi yang pakai seragam sekolah non-islam, mana saya tahu kalau agamanya itu Islam. Bahkan ketika saya bertemu dengan dua orang anak perempuan (waktu itu mereka pakai baju sekolah umum dan tidak pakai jilbab), terjadi seperti ini:
“Kamu Muslim?” tanya saya.
“Nggak!” kata salah seorang dari mereka.
“Muslim?” yang satu menoleh ke arah satunya lagi.
“Muslim? Eh? Muslim? Iya, iya! Saya Muslim!” mereka berdua mengaku Muslim. Saya garuk-garuk kepala.

Ada juga anak nonmuslim yang bingung bagaimana menjelaskan ke saya kalau dia itu nonmuslim. Ya ampun, bilang aja kek (gitu aja kok repot), lagipula saya katakan kalau hanya yang Muslim(ah) yang ikut saya.

Terakhir saya memutuskan untuk menghentikan penyisiran dan masuk ke Ruang Serbaguna. Yang saya lihat hanya separuh ruangan yang terisi padahal saya yakin tidak ada lagi anak baru yang berkeliara di luar. Saya jadi berpikir, ruangannya yang terlalu besar atau orangnya yang terlalu sedikit. Ah, saya sarankan untuk tidak usah ikut program Keluarga Berencana (lho?).

*Wanita jahiliyah sebelum datangnya Islam sebenarnya juga menggunakan jilbab tetapi nampak rambut dan lengan tangannya. Maka kalau kita lihat zaman sekarang sesungguhnya jauh lebih jahiliyah. Di mana bukan hanya rambut dan lengan tangan saja yang diperlihatkan. Sebagian orang menyebutnya sebagai era jahiliyah modern.
Apakah alasan turun ayat soal jilbab ini?
Agar wanita tidaklah disakiti. Al kisah dahulu ada Sahabiyah (Sahabat wanita) yang disakiti oleh kaum kafir, lalu turunlah ayat ini.

Leave a comment

Filed under Uncategorized