Nempuh Jalan Tiada Tujuan

Kalau hidup ini diibaratkan tangga berjalan, maka kita sedang berdiri di atasnya. Tangga ini panjang, tapi terasa seperti hitungan menit. Di antara orang-orang yang berada di atasnya itu, ada orang yang tidak cuma berdiri. Mereka berjalan pelan-pelan melangkahi anak tangga dari tangga berjalan tersebut. Ketika mereka hampir sampai, mereka berbalik ke belakang. Rasanya pernah melewati anak-anak tangga itu, tapi terasa begitu cepat. Ah, ini hanya ibarat.

Saya sedang bingung: mengapa setiap orang menanyakan pertanyaan yang begitu sulit saya jawab. Saya sedang galau: mengapa setiap orang menggugat jawaban tidak tahu saya. Karena saya tidak mau kamu ikut-ikutan jadi bingung atau galau, mari simak ceritanya.

Alkisah, orangtua saya bertanya, “Kamu mau kuliah di mana nanti?” Saya menjawab, “Tidak tahu.” Guru saya menanyakan pertanyaan yang sama, jawaban saya juga masih tidak tahu. Teman saya juga menanyakan pertanyaan yang sama, denga jawaban yang sama pula. Begitu juga dengan orang-orang lainnya, membuat saya ingin bertanya, “Apakah di kening saya tertulis, ‘Tolong tanyakan pada saya, saya mau kuliah di mana. Terdapat hadiah menarik bagi para penanya.’ ?” Lalu saya bercermin. Kening saya baik-baik saja.

Kemudian saya bertanya lagi, “Kalau begitu, bagusnya aku jadi apa?” Dia pun menjawab lewat semesta-Nya. Setelah semua jawaban yang saya dapat tadi dirangkum, jawabannya dua: dokter atau akuntan, sesuatu yang tidak saya harapkan.

Hari pertama di tahun terakhir saya sekolah, teman saya (sebut saja Bunga) juga menanyakan tentang rencana kuliah saya. Lagi-lagi saya menjawab tidak tahu. Tapi akhirnya saya menemukan orang yang tidak menggugat jawaban tidak tahu saya. Memang, itu karena dia sendiri juga tidak tahu.

Selanjutnya saya pindah ke sebuah lingkaran obrolan. Entah kenapa mereka juga sedang mendiskusikan tentang rencana kuliah.
“Kalau Latansa nanti mau kuliah apa?” tanya salah seorang dari mereka.
“Nggak tahu,” saya hanya bisa menjawab itu.
“Ya ampun! Dari tadi gue nanyain satu-satu jawabannya pada nggak tahu,” ia menggerutu sendiri.
“Ini ‘kan memang ‘lingkaran nggak tahu’,” kataku.
“Lingkaran nggak tahu? Kocak. Jadi, kita anak SCI tapi pada gak tahu mau kuliah apa?”

Siangnya, guru Seni Rupa mengajar di kelas. Sebenarnya beliau sedang membahas cabang-cabang seni, tapi tidak tahu kenapa tiba-tiba beliau menanyakan murid di depannya, “Kamu nanti mau jadi apa?” Teman saya itu menjawab, “Belum tahu.” “Lho, gimana sih? Masa’ nggak punya cita-cita?” Lalu guru itu pun menanyakan murid-murid lainnya yang ternyata jawabannya juga ‘belum tahu’. Bunga yang duduk di belakang saya mencolek pundak saya. Saya menoleh. “Sa, muak banget, ya?” katanya. Tepat setelah itu Bunga juga ditanyakan mau jadi apa oleh guru tersebut. Saya hanya senyum ke arah Bunga. Bunga menarik napas panjang.

Esoknya, hal serupa terulang lagi saat pelajaran Bahasa Indonesia. “Di sini ada yang tidak punya cita-cita?”, saya berbisik, ‘Satu kelas, Pak…’ “Saya tampar kalau tidak punya cita-cita. Masak hidup statis tanpa tujuan,” ujar beliau. Bunga melempar senyum ke arahku.

Saya sendiri juga heran, sebentar lagi kami lulus tapi ternyata kami tdak tahu mau ke mana.

Kisah hidup seorang Anak Baru Gede…
Cari identitas diri…
Nempuh jalan tiada tujuan…
(Kebingungan)

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s