Saksikanlah Bahwa Aku seorang Muslim

Drrrt… drrrt… drrrt… Ada SMS masuk.

Dari Kaput (Ketua Keputrian).

Pembagian untuk menggiring anak baru jam 11.45 ke MPR (Multi Purpose Room): jangan telat! Lantai 4.0
1: Gita Anis
2: Putri Rosa
3: Tansa Citra
4: Mardi Deani
5: Faiza Fany
6: Mira Rizky
10: Acti Tiara

Jujur, tadinya saya kira tugas menggiring anak baru ini mudah, tapi ternyata sulit. Saya masuk ke kelas, kasih pengumuman kalau ada Pendidikan Iman dan Taqwa. Ternyata masalahnya bukan di situ. Awalnya saya sukses menggiring para anak baru walau cuma empat orang. Tadinya saya pikir anak cewek yang beragama Islam hanya sebanyak itu, setelah saya pikir-pikir lagi akhirnya saya memutuskan untuk menyisir semua tempat yang ada anak barunya bersama teman saya.

Hai Nabi, katakanlah kepada para isterimu, para putrimu dan para wanita mukmin, hendaklah mereka memakai jilbab atas dirinya. Hal demikian itu supaya mereka mudah dikenal, maka mereka tidak diganggu. Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ( QS. 33 : 59 )

Sebelumnya saya kira ayat ini ayat zaman dahulu ketika para wanita mukmin diganggu karena memakai jilbab tapi lehernya terlihat. Pakaian mereka sama seperti wanita Arab pada umumnya, begitulah alasan para pengganggu yang sudah menandatangani perjanjian dengan Nabi kalau mereka tidak akan mengganggu para wanita mukmin*. Mereka sulit dikenal, itu intinya.

Ya, itu tadi, mereka sulit dikenal. Coba bayangkan, setiap saya bertemu anak perempuan yang berseragam SMP saya harus menanyakan dia Muslim(ah) atau bukan. Kalau mereka semua pakai jilbab ‘kan saya nggak usah capek-capek nanyain. Apalagi yang pakai seragam sekolah non-islam, mana saya tahu kalau agamanya itu Islam. Bahkan ketika saya bertemu dengan dua orang anak perempuan (waktu itu mereka pakai baju sekolah umum dan tidak pakai jilbab), terjadi seperti ini:
“Kamu Muslim?” tanya saya.
“Nggak!” kata salah seorang dari mereka.
“Muslim?” yang satu menoleh ke arah satunya lagi.
“Muslim? Eh? Muslim? Iya, iya! Saya Muslim!” mereka berdua mengaku Muslim. Saya garuk-garuk kepala.

Ada juga anak nonmuslim yang bingung bagaimana menjelaskan ke saya kalau dia itu nonmuslim. Ya ampun, bilang aja kek (gitu aja kok repot), lagipula saya katakan kalau hanya yang Muslim(ah) yang ikut saya.

Terakhir saya memutuskan untuk menghentikan penyisiran dan masuk ke Ruang Serbaguna. Yang saya lihat hanya separuh ruangan yang terisi padahal saya yakin tidak ada lagi anak baru yang berkeliara di luar. Saya jadi berpikir, ruangannya yang terlalu besar atau orangnya yang terlalu sedikit. Ah, saya sarankan untuk tidak usah ikut program Keluarga Berencana (lho?).

*Wanita jahiliyah sebelum datangnya Islam sebenarnya juga menggunakan jilbab tetapi nampak rambut dan lengan tangannya. Maka kalau kita lihat zaman sekarang sesungguhnya jauh lebih jahiliyah. Di mana bukan hanya rambut dan lengan tangan saja yang diperlihatkan. Sebagian orang menyebutnya sebagai era jahiliyah modern.
Apakah alasan turun ayat soal jilbab ini?
Agar wanita tidaklah disakiti. Al kisah dahulu ada Sahabiyah (Sahabat wanita) yang disakiti oleh kaum kafir, lalu turunlah ayat ini.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s