Buka Mata Buka Hati

Ketika pertama saya masuk SMA, saya bingung di SMA saya ada ekstrakurikuler BBQ. BBQ itu bukan Barbeque, tapi Belajar Baca Qur’an. Bukankah semua murid yang beragama Islam pasti bisa baca Qur’an? Kenapa harus belajar? Saya bingung karena kepanjangannya bukan Bagusin Baca Qur’an atau Baiki Baca Qur’an. Meski begitu pada akhirnya saya mendaftar ekskul tersebut sebab saya pikir ekskul ini seperti temat Tahsin Qur’an (memperbaiki bacaan al-Qur’an).

Setahun kemudian, tiba saatnya saya jadi asisten mentor di salah satu kelompok Kajian Islam di sekolah untuk anak-anak kelas sepuluh (1 SMA). Asisten mentor itu bertugas mendampingi mentor atau menggantikan mentor ketika sedang berhalangan. Biasanya yang jadi mentor adalah alumni. Kajian Islam diadakan satu pekan sekali dan kelompoknya menurut kelas. Saya jadi berpikir, “Kok bisa ya saya jadi asmen (asisten mentor)?”

Pekan pertama tidak ada kakak alumninya, maka kami para asmen bertugas untuk mengisi materi di kelompok masing-masing yang telah ditentukan. Orang seperti saya ini tidak punya ilmu yang cukup, jadi rencana saya sih nanti paling-paling hanya mengobrol.

Nah, saya berdua dengan kawan saya mengumpulkan mereka. Setelah pembukaan (tumben saya tidak gugup bicara di depan umum, mungkin karena menjaga citra diri). Selanjutnya tilawah (membaca Al-Qur’an) perorang tiga ayat. Padahal tadinya saya mau suruh mereka satu orang baca 10 ayat di surat yang ayatnya panjang-panjang supaya waktunya habis hanya untuk baca Al-Qur’an tapi tidak jadi. Al-Qur’an pun mulai dioper.

Kemudian saya duduk dengan kepala menunduk, tangan menopang dagu, terpekur menatap lantai, khidmat mendengar suara. Mungkin yang baru kenal bilang itu gaya yang cool (entah terjemahannya keren atau dingin). Padahal yang benar itu gaya saya kalau mood saya jelek sekali.

Makin lama suaranya makin kecil padahal duduknya tidak jauh dari saya. Saya masih menatap lantai, “Kak, kak…”. Maklum lagi serius menatap lantai jadi tidak dengar. “Kak? Kak!” mungkin dia sebal. “Eh, iya? Kenapa?” tanya saya. “Itu Kak,” adik kelas yang di seblah saya menunjuk temannya yang sedang memegang Al-Qur’an. “Eh, ini Kak…” anak yang ditunjuk itu berbicaranya sangat gugup sehingga saya tidak mengerti. “Ada apa, ya?” tanya saya. “Nggak bisa bacanya,” katanya sambil menunjuk Al-Qur’an. “Nggak bisa bacanya? Maksudnya?” saya merasa seperti orang aneh karena dari tadi bertanya terus. “Ini Kak, kami ‘kan dulu SMP-nya *** (maksudnya sekolah nonislam) jadi nggak bisa.” “Iya deh, nggak pa-pa, silakan yang di sebelahnya,” saya merasa mood saya lebih kacau. “Makanya ikut ekskul BBQ.” seru teman saya. Wusssh… Angin berhembus mengenai wajah saya.

Badan saya lemas setelah saya tahu bahwa bukan hanya anak tadi yang bernasib seperti itu, ada beberapa yang bernasib sama. Teman saya yang dari TK sekolah di sekolah nonislam bisa baca Al-Qur’an, dan saya kira semuanya begitu. Perkiraan tidak selamanya benar ya.Tok tok tok! Pintu kelas dibuka. “Ke MPR,” kata salah seorang teman saya lalu menutup pintu lagi. “Ayo adik-adik semua, kita ke MPR alias Multi Purpose Room, Ruang Serbaguna,” kemudian saya melangkah pergi bersama mereka.

NisaNasu: begitulah beruntungnya bergabung sama Rohis, kita bisa lebih membuka mata lebar2 akan keadaan yang sebenarnya RT @latansaide : Saksikanlah Bahwa Aku seorang Muslim [mltp.ly]1 wk ago via Mobile Tweete

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s