Prejudice

Salah satu kebiasaan manusia adalah menilai orang lain lewat penampilan luarnya. Coba pecah kata prejudice itu. Pre-judge (belum apa-apa sudah menghakimi dulu). Menarik bukan? Kalau kita belum apa-apa sudah menghakimi dulu; itu artinya mengambil kesimpulan tentang seseorang padahal belum kita kenal.

Beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan seorang nenek di angkot.
“Sekolah di mana?” tanya nenek itu.
“Di 78,” jawab saya.
“SMP ya?” JLEB! Sabar…
“Udah SMA,” saya berusaha tersenyum.
“Udah SMA? Kok masih kecil?”
Hening.
“Umurnya berapa?”
“1* tahun.”
“1* tahun? Kok udah SMA? Kelas 1 ya?”
“Kelas 2,” saya tersenyum kembali.
Nenek itu mencoba menghitung-hitung umur berapa saya masuk SD. “Berarti dulu nggak TK ya, langsung masuk SD.”
“Saya dulu masuk TK kok.”
Saya tidak tahu kamu gimana, tetapi saya sih tidak tahan kalau dinilai dari penampilan luar oleh seseorang yang tidak kenal apa pun tentang saya. Setelah berbasa-basi sedikit saya segera turun dari angkot tersebut.

Kemarin, ada acara di sekolah yang panitianya teman-teman saya. Sebenarnya saya ikut ambil bagian, jadi penonton. Saat sesi kuis, kedua pembawa acara bertanya, “Di antara kami, siapa yang anak SCI (akselerasi)?” Tidak ada yang bisa jawab. Teman saya berkata, “Masalahnya dari mereka berdua nggak ada yang meyakinkan jadi anak SCI.” Duh, kasihan ya. Saya berbisik ke teman saya yang di depan, “Kasih tahu sama peserta, jawabannya yang baju kuning.” Teman saya bingung, “Yang baju kuning? Bukannya itu Derry (sebut saja begitu) ya?” “Iya,” jawab saya. “Emangnya dia anak SCI?” “Iya, orang dia sekelas sama gue.” “Ooo…”

Saat istirahat, ada peserta yang mengobrol dengan saya dan teman-teman saya. Katanya saya hebat banget bisa jadi anak SCI, dia tahu setelah salah satu teman saya keceplosan mengatakan saya anak SCI. Dalam hati, ‘Yah, dia nggak tahu sih gimana sebenarnya saya.’ “Sebentar deh,” potong saya, “dia kan anak SCI juga.” Saya menunjuk Gina. “Kan kalau gue nggak kelihatan kalau anak SCI tapi kalau lu ada aura pinternya,” katanya. “Emangnya ada bedanya gitu?” tanya saya. Kami pun mulai membanding-bandingkan saya dengan Gina. Bagitu juga dengan Derry dan Musa (panitia, anak SCI juga) yang katanya juga terlihat aura pinternya (waktu itu dia pakai kemeja batik). “Kalau anak SCI itu… kelihatan lebih rapi,” jawab peserta tersebut. “Eh, jadi maksud kamu saya nggak rapi, gitu?” Gina yang tidak kelihatan aura pinternya (begitu katanya) jadi kesal sendiri. Memang, waktu itu Gina juga Derry pakai T-Shirt.

Saya jadi ingat di salah satu seminar, pengisi menunjuk dua orang peserta. Kami disuruh memilih dari penampilannya manakah yang kelihatannya lebih cerdas. Satunya memakai kemeja dan celana bahan, satunya lagi memakai kaus dan celana jins. Banyak peserta yang memilih orang yang pakai kemeja, padahal setahu saya peserta yang memakai kaos itu lolos Olimpiade Biologi sampai tingkat yang lumayan, sedangkan yang satunya cuma orang biasa.

Mungkin supaya kita tidak dicap negatif, berpenampilanlah seperti yang seharusnya, tapi tidak untuk menyombongkan diri. Bukan apa-apa, banyak orang yang kehilangan kesempatan hanya karena penampilan. Bukankah sampul buku berpengaruh besar sehingga itu faktor utama orang tertarik untuk membacanya?

Dalam Surat Yunus (10) ayat 36. Allah SWT berfirman, “Prasangka itu tidak mendatangkan kebenaran apapun.”

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s