Mandarin Versus Arab Bagian Dua

Supaya gampang, baca bagian satu dulu, ya!

SCI di Bulan Juli…

Kalau dulu teman saya pernah berkata kalau Kelas Bahasa Arab tidak akan dibuka untuk semester ini, sedikit banyak ada benarnya. Kegalauan saya bermula sejak Mata Pelajaran Seni Rupa. Sebenarnya, kami diperbolehkan memilih Seni Rupa atau Seni Tari, tapi mayoritas memilih Seni Rupa. Dua orang teman saya yang mengambil Seni Tari ‘terpaksa’ pindah karena kata Wakasek Bidang Kurikulum orangnya sedikit. Tiba-tiba saya jadi teringat obrolan dengan teman saya yang menurut prediksinya Kelas Bahasa Arab akan ditutup karena pendaftarnya yang sedikit meski ada gurunya.

Saya pun menghadap Wakasek Bidang Kurikulum untuk mencari kejelasan.
“Pak, yang ikut Bahasa Arab itu bagaimana?”
“Yang ikut cuma sedikit,” begitu jawabnya.
“Terus?” tanya saya.
“Ya gimana? Yang ikut cuma lima orang kalau nggak salah.”
“Jadi nggak ada nih, Pak?”
“Muridnya dikit gitu. Mungkin kalau dua puluhan akan dibuka. Sayang lho, gurunya itu S1 di Irak, S2-nya di Malaysia, pasti jago banget.”
“Tuh, kan Pak… Dibuka aja…”
“Cuma lima orang lho!”
“Ya nggak pa-pa. Pelajaran Agama Buddha yang ikut enam orang saja dibuka.”
“Ya itu sih lain, kan agama.”
Intinya, percakapan hari itu alot hingga kesimpulannya Kelas Bahasa Arab akan dibuka jika pendaftarnya lebih dari dua puluh orang. Saya menyerah.

Selanjutnya saya terdampar di Kelas Bahasa Mandarin 1. Kata orang-orang sih gampang. Tapi waktu saya belajar, saya sulit membedakan Hanyu Pinyin (Alfabet Fonetik) j, q, z, c, zh, dan ch. Bagi saya semuanya terdengar seperti huruf c. Laoshi (guru) berulang kali membetulkan pengucapan saya. Otak saya jadi pusing.

Terbersit dalam pikiran saya kalau saya ingin tidak ikut lagi. Tapi, Bahasa Asingnya ‘kan cuma ini? Kalau tidak saya ambil, berarti jumlah SKS saya nanti kurang dong? Pertolongan-Nya datang, saya menemukan jawaban-jawaban pertanyaan tersebut di buku 7 Kebiasaan Remaja yang Sangat Efektif:

“Kalau kamu pikir bisa, dan kamu kreatif serta ulet, takkan kamu sangka apa yang bisa kamu capai. Ketika kuliah, saya ingat diberitahu bahwa untuk memenuhi syarat bahasa saya, saya ‘harus’ mengikuti kelas yang tidak saya minati dan tidak berarti bagi saya. Tetapi, bukannya mengikuti kelas itu, saya memutuskan untuk menciptakan kelas saya sendiri. Maka saya kumpulkan sekian banyak buku yang akan saya baca, serta tugas-tugas yang akan saya kerjakan, dan mencari guru yang akan mensponsori saya. Lalu saya mendatangi dekan fakultas dan mengajukan usulan saya. Ia terima usulan saya dan saya pun memenuhi syarat bahasa itu dengan mengikuti kursus buatan saya sendiri.”

Esoknya, saya kembali menghadap wakasek tersebut. Tapi intinya tetap sama, kelas hanya akan dibuka jika pendaftarnya lebih dari dua puluh orang.
“Pak, yang bisa mengambil Bahasa Arab 1 semester ini hanya XI IPA A dan SCI. Kalau dihitung, yang beragama Islam cuma berapa. Belum tentu semua yang beragama Islam itu mau.”
Kemudian beliau mengatakan kalau sesungguhnya beliau senang ada yang mengambil Bahasa Arab. Tapi kalau hanya lima orang itu boros. Beliau menunjukkan pada saya rekapitulasi data di laptopnya. “Ya… kalau sepuluh orang boleh deh.”
“Sepuluh orang ya? Nanti saya cari dulu deh. Makasih ya, Pak.”

Sorenya saya mengirim SMS ke semua teman saya di kelas XI IPA A dan SCI yang Muslim/ah. Parahnya, yang menjawab YA hanya satu orang. Sisanya entah kenapa tidak dibalas. Pokoknya, jangan berhenti sampai di sini! Besok paginya, saya mengajak teman-teman di kelas saya untuk ikut mendaftar. Saya tidak lagi mengajak kelas lain supaya kelas itu tidak dibuka di sore hari. Imbasnya, saya harus berhasil mengajak semua Muslim/ah di kelas saya supaya lengkap jadi sepuluh. Meski begitu, saya hanya berhasil mengumpulkan delapan orang termasuk saya. Kemudian saya lagi-lagi menghadap wakasek tersebut dan menyerahkan datanya. Ah, cuma dapat delapan orang, jangan sampai disuruh cari dari kelas lain juga, nanti pulangnya tambah sore. Beliau melirik data tersebut lalu kembali melihat laptopnya, “Ya sudahlah, lihat nanti saja.” Yah, tidak pasti. Nanti itu kapan?

***
Tadi pagi, saya sudah siap dengan buku kotak-kotak Mandarin menuju ke kelas. Saya mampir melihat jadwal di papan pengumuman untuk mencari tahu ruangannya. Ketika saya lihat pelajaran dan ruangannya, tulisannya begini: MN/A4 – 3.07/4.02. Saya senang karena A4 itu kode pelajaran Bahasa Arab.

Penerbang Amerika, Elinor Smith, pernah berkata, “Telah lama saya perhatikan bahwa orang-orang berprestasi jarang duduk-duduk menantikan segalanya terjadi pada mereka. Mereka membuat dan menjadikan segalanya terjadi.”

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s