Monthly Archives: August 2010

Ramadhan Memang Penuh Berkah

”Tidak ada paksaan dalam agama” adalah contoh populer dari toleransi dalam Islam.

SCI di Bulan Agustus…

Dalam Ramadhan tahun ini, saya banyak belajar hal baru yang jarang atau bahkan tidak pernah terpikir oleh saya.

1. Memahami kembali tentang puasa
Beberapa hari sebelum puasa, teman saya bertanya.
Dia : Tanz, bentar lagi puasa ya?
Saya : Iya.
Dia : Kalau sahur, makannya dibanyakin ya?
Saya : Ya sama kayak kalau makan biasa.
Dia : Kalau minum?
Saya : Sama juga kayak minum biasa.
Dia : Emangnya nggak haus gitu?
Saya : Tergantung.
Dia : Tergantung apa?
Saya : Tergantung kadar air dalam darah. Kalau kadar air dalam darah sedikit, hipofisis akan mengirimkan sinyal haus. Emangnya lu nggak pernah puasa?
Dia : Nggak.
Saya : Si Patricia (bukan nama sebenarnya) aja puasa.
Dia : Lagian puasa di Kristen sama Islam lamaan di Islam, kan?
Saya : Tergantung.
Dia : Tergantung apa?
Saya : Tergantung musimnya. Masalahnya kalau di Indonesia panjang siang dan malam di musim panas atau dingin sama aja.

2. Segalanya adalah cermin
Salah seorang teman saya, sebut saja Hawa, kurang disukai oleh yang lain. Sebenarnya bukan hanya dia, tapi teman-teman sepermainannya juga. Saat yang lain menyatakan ketidaksukaannya, saya berkata, “Kalau pelajaran agama gue, ‘kan dia duduk sebangku sama gue. Kok kalau lagi pelajaran agama, dia itu kelihatannya baik banget.” Salah seorang memotong, “Jangankan pas pelajaran agama, kalau Hari Jum’at, dia pakai kerudung aja kelihatannya alim banget.” “Ya, sebenarnya dia baik kok. Cuma kalau dekat-dekat beberapa meter aja sama teman-temannya, auranya langsung berubah.”

Maaf, bukan mau menjelek-jelekkan agama lain, saya hanya mengungkapkan pengamatan saya. Setahu saya, teman-teman Muslim/ah yang mengakrabkan diri bergaul dengan Nonmuslim kelakuannya berubah. Bicara jadi kasar, mengidolakan boyband setengah mati sampai setiap saat memandangi foto-fotonya, menyetel musik keras-keras, juga perilaku buruk lainnya. Sekali lagi saya tegaskan, saya tidak sedang menjelek-jelekkan agama lain.

Untuk beberapa waktu saya merasa saya adalah orang baik karena tidak mempunyai kelakuan seperti itu. Tapi saya jadi ingat kata-kata pada buku Dalam Dekapan Ukhuwah-nya Salim A. Fillah.

Maka saat kita berkaca, menemukan aib pada kawan perjalanan itu sungguh sama artinya dengan menemukan aib kita. Dalam dekapan ukhuwah, setiap saudara adalah tempat kita bercermin untuk melihat bayang-bayang kita. Seperti sabda Sang Nabi, “Mukmin yang satu adalah cermin bagi mukmin yang lain.” Dalam hening kita mematut diri di depannya, lalu kita sempatkan untuk bertanya, “Adakah retak-retak di sana?”

Kemudian saya melihat lagi. Orang-orang yang sedang duduk dengan saya kesemuanya Nonmuslim. Seharusnya saya sadar kenapa tadi saya mengucapkan ‘kalau pelajaran agama gue’ karena agama kami beda. Teman sebangku saya di kelas pun seorang Nonmuslim. Itu saja sudah cukup untuk menunjukkan kalau saya sama saja, tidak lebih baik dari orang-orang yang saya amati itu.

3. Memahami makna toleransi
[Al-Kahfi : 29] Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”…

Setelah kelompok saya presentasi ke depan kelas tentang toleransi antar umat beragama, Pak Guru menambahkan. Intinya beliau berpesan pada para siswi yang tidak berpuasa hendaknya tidak makan di depan siswa lain yang berpuasa.

Esoknya, saya melihat teman-teman Nonmuslim makan di kamar mandi (di wastafel, bukan di bilik). Kemudian ada juga yang makan di luar kelas secara sembunyi-sembunyi. Kasihan juga sih, mungkin mereka tidak memilih untuk makan di kantin saja karena terletak di lantai dasar sedangkan ruangan kami sering di Lantai Empat.

Tapi beberapa hari kemudian mereka makan di kelas setelah tahu kalau makan di depan orang yang berpuasa ternyata diizinkan oleh yang bersangkutan. Tidak ada yang tergoda apalagi kalau tahu apa yang dimakan. Mereka suka makan maling. Bukan maling yang artinya pencuri tapi daging babi yang entah bagian apanya. Pernah teman saya yang Muslimah iseng mencuil mie ayam teman Nonmuslim. “Babi!” teriak yang punya. Teman saya yang mencuil tadi langsung pergi mengeluarkan makanan tersebut, untung saja belum sempat ditelan. Sekembalinya dari sana, ia bertanya pada orang yang makanannnya ia cuil tadi. “Beneran, ini babi kecap, ini babi merah, itu babi bakar. Gue beli di dekat rumah gue.” Ternyata itu bukan mie ayam.

Hikmahnya, jika mereka saja bisa bertoleransi dengan tidak makan di depan orang yang berpuasa (pada awalnya), kami Muslimin/at juga bisa bertoleransi dengan mengizinkan mereka makan di tempat yang nyaman (ruang kelas) sementara kami dapat pergi ke masjid. Selama Ramadhan, masjid ramai yang Shalat Dhuha.

Namun ada juga yang usil. Mereka membuka kotak kue di meja ketika kami sedang tambahan belajar. Kebetulan ada satu Muslimah selain saya berteriak, “Tega banget sih kalian! Latansa itu lagi puasa, tahu!” (Ternyata kotak kue itu miliknya). “Ooo… Latansa puasa,” ujar salah satu dari mereka, “nanti kita mau makan es campur lho! Mmm… SEGERRR!” “Aku diajak, nggak?” tanya saya.

Sudahlah, sampai di sini saja. Kasihan yang baca kalau tulisannya banyak-banyak.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Aku Minta Maaf

Sore hari di akhir pelajaran.
“Lu nggak pulang?” tanya Charlie pada Awan.
“Nggak ah males,” Awan tetap menulis pada bukunya.
“Males kenapa?” Charlie menoleh, Awan masih menulis.
“Nggak ada siapa-siapa di rumah,” Awan kali ini menoleh.
“Oh iya, lu kan anak tunggal ya. Enak banget ya jadi lu. Gue mau kita tukeran aja. Gue jadi anaknya nyokap lu, lu jadi anaknya nyokap gue. Pasti enak ya, minta apa pun pasti dikasih, kan anak satu-satunya. Nggak usah ketemu sama kakak atau adik. Bebas ngapain aja. Nggak ada tekanan di rumah. Wah, seandainya…”
“Tapi kan lo punya nyokap yang tinggal transfer. Oh iya, lo sendiri nggak pulang?” balasnya.
“Apaan, gue ditanya-tanyain mulu uangnya dipakai buat apa! Gue ngebolang dulu hari ini. Tadi malem aja, gue pulang jam sebelas, jalan-jalan dulu. Hehe, iseng aja. Pas gue sampai rumah gak diapa-apain tuh.”
“Yah, lo enak ada supir.”
“Enak aja, tadi malem gue gak pakai supir tau! Orang gue ber-busway dan berangkot ria. Ngelayap ke mana pun sendirian, puas.”
“Emang ortu lo nggak tahu? Kakak-adek lo gimana?”
“Tahu, tapi nggak diapa-apain. Adik gue udah tidur, kakak gue masih di Bandung…,” raut muka Charlie berubah.
“Oh iya, kakak lo ITB yak?” tanya Awan.
“Iya…”
“Dah lulus kan? Selamat ya, kakaknya jadi murid teladan.”
“Iya…”
Saya selalu sedih dengan kisah ini. Mau tahu apa yang terjadi sebenarnya?
“Kakak gue anak teladan,” Charlie menerawang, “IPK-nya 3,98. Baru saja lulus dari fakultas paling bagus di situ dengan predikat cum laude…”
Sebenarnya banyak teman saya yang mengajukan pertanyaan, kira-kira ini ringkasan jawabannya. “Di rumah, gue selalu dibanding-bandingin sama dia. Dia juga dulunya masuk kelas akselerasi di 78. Maka sebenarnya gue masuk SCI itu bukan seratus persen keinginan gue. Tapi gue juga mau masuk ITB. Coba bayangin, selama bertahun-tahun gue hidup, gue selalu hanya jadi bayang-bayangnya. Orang-orang kasih selamat, tapi bukan buat gue, buat kakak gue…”
JLEB! Pernahkah sang kakak tahu bagaimana perasaan adiknya? Saya tidak tahu jawabannya, tapi sepertinya Allah lagi-lagi menegur saya dengan caranya yang tak diduga-duga. Seharusnya saya sadar sejak dulu. Mungkin selama saya hidup hanya mengecewakan saudara saya.
Kakak saya seorang remaja belasan tahun. Umur kami hanya selisih delapan belas bulan. Sekilas, banyak yang menyangka kami kembar. Yang jadi masalah, dia juga duduk di tahun senior. Saya tidak mempermasalahkan ke-SCI-an saya, hanya saja… dia terlalu baik untuk disakiti.
Seharusnya saya sadar, saya sudah ditegur berkali-kali. Teman SCI saya juga ada yang kakaknya duduk di tahun senior. Teman saya tersebut laki-laki dan kakaknya perempuan, masalahnya lebih mudah ketimbang posisi saya yang perempuan dan kakak saya laki-laki. Teman saya itu berkata, “Kakak gue nggak suka gue masuk SCI.”
Teman sebangku saya juga pernah berkata, “Kalau gue jadi kakak lu, gue bilang: dasar adek nggak tahu diri!” Saya jadi ingat saat Charlie berkata tentang perasaannya, ada yang menyeletuk, “Tapi lu masih mending, lu adeknya dia. Coba kalau lu kakaknya dia, lebih sulit lagi. Biasanya tuh di keluarga, kakak lebih pintar dari adik itu cenderung dimaklumi.”
Ada yang pernah bertanya pada saya, “Misal, misal aja nih. Kamu diterima di suatu PTN sedangkan kakakmu tidak, bagaimana perasaannya? Mungkin hasilnya akan beda kalau hal itu terjadi di tahun yang berbeda. Itu tidak akan seberat jika terjadi di tahun yang sama…”
Tidak! Saya tahu kakak saya lebih pintar dari saya. Delapan belas bulan lebih tua tapi delapan belas tahun lebih dewasa. Saya lebih sering melihat ia belajar daripada diri saya sendiri. Tapi, selalu saja ada faktor X…
“Jadi,” katanya saat saya beritahu kalau saya masuk kelas SCI, “Kamu masuk SCI? Haha… Kamu aksel? Haha… Kita nanti lulus bareng!” Saya selalu takut ada orang yang tertawa saat saya bicara serius. Tawa itu biasanya menyembunyikan sesuatu yang tak ingin ditampakkan. Biasanya belakangan saya tahu kalau orang-orang seperti itu tak ingin terlihat bersedih hanya untuk menyenangkan saya…
Tidak! Saya tidak mempermasalahkan ke-SCI-an saya. Saya juga selalu yakin kami berdua diterima di PTN. Jadi apa yang ditakutkan? Mungkin saya melakukan kesalahan bertahun-tahun seperti kakak Charlie. Ia tidak pernah mengatakan kalau ia kecewa seperti Charlie yang selalu diam tapi kecewa.
Jika ada orang yang rela menukar waktu tidurnya hanya untuk mengantar adiknya, selalu membagi apa yang ia punya, selalu meminjamkan buku-buku bagus, bahkan tak malu bersama adiknya walau dilihat teman-temannya, bukankah itu orang baik? Dan orang baik selalu tidak pantas untuk dibuat kecewa.

Aku hanya ingin kamu tahu aku minta maaf.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Gara-Gara Nona Cantik

Sore hari, Budi pulang dari sekolahnya dengan muka cemberut. Ia masuk ke rumah tanpa mengucapkan salam. Brak! Pintu dibanting. Ayah yang tadinya membaca koran jadi kaget.
“Bud, apa-apaan sih kamu? Berisik tahu!” ujar ayahnya.
“Ah!” Budi masih bertahan dengan kecemberutannya.
“Kamu kenapa sih?” tanya ayah.
“Semuanya gara-gara Nona Cantik!” Budi menjatuhkan dirinya ke sofa.
“Tuh ‘kan, Ayah bilang juga apa. Kamu sih nggak mau dengerin kata Ayah. Udah dibilang jangan pacaran masih juga… “
“Yah…”
“Diam kamu! Berapa kali Ayah harus kasih tahu kalau kamu nggak boleh pacaran?”
“Yah…”
“Tuh ‘kan. Lihat sekarang! Kamu kerjanya cuma berantem sama pacar kamu! Pokoknya Ayah nggak mau dengar kamu banting-banting pintu lagi gara-gara si Nona Cantik!”
“Yah, yang pacaran itu siapa?”
“Kamu sama Nona Cantik.”
“Nona Cantik itu,” Budi membetulkan duduknya, ”Sebutan buat mesin absen sidik jari. Aku kesel sama dia soalnya kalau aku masukin jempolku, dia pasti bilang Press Again terus. Makanya aku males ngunjungin dia lagi. Gara-gara itu tadi aku dimarahi guru dikiranya aku bolos sebulan.”
“Ooo…,” sang Ayah pun melanjutkan membaca koran.

_____________________________________________
Dibuat dalam rangka memeriahkan Lomba Hadiah Lebaran dari berkah membuat FF yang diselenggarakan oleh Mbak Intan di http://intan0812.multiply.com/journal/item/185/Hadiah_Lebaran_dari_berkah_membuat_FF

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Masih di Sini Untuk Setia

Membaca ulang blog sendiri bisa membantu untuk mengingat pemikiran dan presepsi kita yang terlupa sendiri gara-gara… faktor lingkungan? (a.k.a terbawa arus, pen.)

Tahun 2010, situs ini berumur dua tahun. Saya tidak ingat kapan tanggal pasnya, kalau tidak salah 25 Agustus. Seharusnya tanggal tersebut tercantum di kotak selamat datang, tapi saya bingung kenapa di situs ini tidak ada.
Waktu baca-baca blog sendiri, timbul pertanyaan dalam diri saya, “Kok saya masih hidup ya sampai sekarang?” Serius, isi blog-blognya dulu hanya keluhan ini, pertanyaan itu, serta kegalauan lainnya. Anehnya, kenapa merasakan pedihnya kegersangan jiwa karena maksiat, namun tidak mencari ketenangan dengan menaati Allah? Ampuni kami Ya Allah…
Awal perkenalan saya dengan Multiply lewat majalah. Saat itu lihat ada salah satu ID Multiply. Iseng saya juga mendaftar. Saya bingung kenapa saya lebih dulu kenal dengan Multiply ketimbang situs-situs lain yang ternyata lebih terkenal. Saya senang karena di awal perkenalan saya dengan Multiply, banyak yang menanggapi kehadiran saya. Itu membuat saya bertanya, “Di mana kalian?”
Bersama situs ini, saya mengalami banyak kisah yang sering saya sendiri tidak ingat pernah mengalami itu. Padahal, semua tulisan di sini adalah kisah nyata seaneh apa pun tulisannya. Mulai dari saat menjadi anak SMP yang masih ingusan, tahun senior di SMP, UN, Ujian Masuk Sekolah yang diinginkan, awal SMA, saat-saat menjadi anak SCI yang nggak ingusan lagi karena ingusnya sudah dilap pakai sapu tangan, sampai sekarang.
Banyak teman saya yang menyarankan untuk membuat blog di situs lain yang khusus untuk blog, tapi sampai sekarang saya tidak pernah pindah ke tempat lain. Saya memang tidak bakat untuk melakukan poliblogi karena tidak yakin bisa adil.

Sisi ruang batinku hampa rindukan pagi
Tercipta nelangsa merenggut sukma
Terwujud keinginan yang tak pernah terwujud
Aku tak bisa pindah, pindah ke lain hati

Saya juga mau berterima kasih kepada orang-orang yang masih mau mampir ke situs ini. Yang masih mau meninggalkan jejak namanya atau yang tidak. Yang masih mau beri komentar atau tidak. Pokoknya terima kasih banyak ya.

Selang waktu berganti
Aku tak tahu engkau di mana
Tapi aku mencoba untuk setia

Baca juga:
Saya, Aku, Gue, dan Ana

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Dialog Absurd 2

“Kamu percaya kalau kita ada di sini karena takdir?” tanyanya tiba-tiba.
“Ada di sini? Maksudnya sekolah di sini?” saya balik bertanya.
“Iya,” katanya sambil mengangguk.
“Menurutku iya.”
“Jadi kalau begitu, kalau aku tidak melakukan apa-apa, pasti aku akan di sini, kan?”
“Ya nggak gitu juga. Kita kan nggak tahu isinya Lauhul Mahfudz itu gimana, bisa aja isinya tuh seperti pohon bercabang. Jadi jika kamu dulu tidak melakukan apa-apa, bisa saja kamu ada di cabang yang lainnya.”
“Kamu sendiri, dulu kenapa mau di sini?” dia bertanya lagi.
“Ah… Eh? Entahlah… Kamu sendiri?”
“Gimana ya nyeritainnya?”
“Nggak tahu,” jawabku.
“Dulu ada dia.”
“Dia siapa?”
“Orang yang kutaksir,” matanya menerawang ke langit.
“Oh, terus?”
“Ya nggak terus.”
“Maksudnya?”
“Ketika dia belum ada di sini, dia sempurna mencintaiku. Tapi begitu dia ada, dia sempurna membenciku.”
“Bagaimana bisa?”
“Ceritanya rumit.”
“Tahu dari mana kalau dia benci kamu?”
“Dia selalu pura-pura tidak lihat aku. Kalau tidak, matanya tajam menatapku seperti ada dendam yang tak sempat dibalas.”
“Lebay, ah!”
“Sa, serius!”
“Kamu sapa dia?” tanyaku.
“Nggak.”
“Kasih senyum?”
“Nggak juga.”
“Mungkin sebaiknya kamu senyum sama dia.”
“Biarlah, untung aku masuk kelas ini, bisa menghindar” katanya.
“Ingat, di dunia ini pilihannya bukan Cuma fight or flight…” JLEB! Ini nasehat untuk siapa?
“Apa kamu bilang tadi?”
“Nggak… Nggak bilang apa-apa.”
“Aku harus pergi.”
“Cepat sekali sudah pergi,” kata saya.
“Sa, ayolah buka matamu baik-baik! Lihat dengan siapa dari tadi kau berbicara.”
“Denganmu…” belum sempat saya selesai bicara, dia sudah berjalan pergi. Saya meraba sesusatu di hadapan saya. Sial, mentok!

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Apa yang Kau Pegang Sebenarnya Akan Tak Berharga

“…Ketika kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau, saat itulah kamu sadar bahwa yang kamu mau itu tak berarti apa pun untukmu. Sama sekali tidak penting. Bisa saja sekarang kamu sedang mati-matian berusaha untuk sesuatu, tapi lihat setahun lagi. Ternyata semua yang dilakukan itu sia-sia…”
Ketika ia berkata seperti itu, rasanya sedang menegur diri saya. Mungkin maksudnya hanya mengingatkan tujuan akhir dari setiap hal yang kita lakukan. Ia juga bercerita tentang jurusannya. Dulu, ia mati-matian untuk masuk jurusan tersebut di universitas terbaik se-Indonesia. “Tapi setelah kakak masuk, ternyata biasa aja. Kakak jadi mikir, sebenarnya dulu kenapa sih mau masuk jurusan itu, apa mungkin cuma nyari kebanggaan?” begitu katanya.
Ada bagian dalam diri saya yang berbisik, “Kok mirip kamu, ya?” Lalu pertanyaan-pertanyaan lainnya pun muncul, “Sebenarnya, kenapa sih dulu kamu mati-matian ingin sekolah di SMA itu?” “Kenapa sih kamu bela-belain ambil program itu?”
Berat rasanya menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Semakin dijawab, semakin banyak yang muncul.
Penyebab dari semuanya adalah tangga usaha bersandar pada dinding yang salah. Ketika sudah sampai puncak tiba-tiba dinding itu rapuh dan harus mulai dari nol. Kesimpulannya satu, sandaran yang saya gunakan adalah sandaran yang paling rapuh. Lebih rapuh dari rumah laba-laba.
“Ada baiknya memang kita mengikuti kata hati terhadap pilihan hidup ini namun penting pula untuk berbesar hati memperhatikan masukan orang lain yang lebih berpengalaman.”
Entah kenapa saya tidak kuat mendengarkan lanjutan ceritanya. Saya pamit padanya. Bukan karena kabur, ada urusan.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Mari Belajar Verbal

Kalau di Tes Potensi Akademik, Tes Bakat Skolastik, atau Tes Kemampuan Umum, biasanya salah di bagian verbal. Kenapa ya? … Saya juga nggak tahu, nilai tes verbal saya saja hancur…

Ya sudah, mari belajar verbal dengan mengerjakan empat soal berikut. Seperti biasa, benar +4, kosong 0, salah -1. Selamat mengerjakan.

1. EGALITER=…
a. sederajat
b. otoriter
c. semena-mena
d. sepaham
e. raja

2. SENAPATI=…
a. pesawat
b. kepala Dati II
c. jenis ikan laut
d. panglima
e. raja

3. MUSKIL=…
a. mustahil
b. sulit
c. angan-angan
d. dosa
e. sukar

4. ADAGIUM=…
a. pepatah
b. istilah
c. ceramah
d. seminar
e. peribahasa

Leave a comment

Filed under Uncategorized