Ada Sebuah Lubang di Jalan Saya

Saat istirahat. Suntuk.
“Hemmm… Enaknya kita ngapain ya? Mau belajar matematika tapi males…” kata teman saya sambil menaruh tangannya di meja.
“Kalau tidur pasti nggak males…” sambung saya.
“Nggak tuh, sama aja…” bantahnya.

Teman yang satu lagi mengajak saya main, “Main cikupa yuk! Bisa kan?”
“Males…”
“Kalau nggak main juber!”
“Males…”
“Main domikado!”
“Males… gue jadi penontonnya aja,” jawab saya.

Sebenarnya di konferensi meja kotak tersebut ada lebih dari lima orang, tapi tidak ada yang sedang semangat. Akhirnya saya megusulkan pinjam Kartu Uno dari teman yang lain lagi. Kemudian kami main dengan asyiknya.

Kalau menang pertama itu rasanya senang, tapi juga bosan karena harus menunggu pemain-pemain lainnya yang masih main. Jadinya saya hanya bertopang dagu memperhatikan mereka. Hingga akhirnya guru masuk kelas.

Sebenarnya tidak usah saya kasih tahu pasti kalian sudah tahu lanjutannya apa. Guru tersebut menyita sepaket Kartu Uno dan mengomel lama sekali. Jujur saja, saya tidak suka dengan omelannya, “Apa jadinya kalau anak SCI pas istirahat main kartu? Kartu itu kan berkonotasi negatif. Ingat ya, kalian itu anak-anak kebanggaan. Kalau anak IPS sih biarin aja main kartu.” Kenapa anak SCI tidak boleh main kartu? Bukankah kami main saat jam istirahat? Bukankah kartu yang kami mainkan justru identik dengan permainan anak-anak? Memangnya kenapa anak IPS harus dijelek-jelekkan? Kasihan, kan?

Ah, saya jadi ingat kejadian dua tahun lalu: “Wooooo kelas unggulan kerjaannya main kartu aja! Bandar judi!”

Jadi siapa yang salah? Sebenarnya sih saya mau menyalahkan orang lain, tapi bagaimana pun juga ini salah saya. Ya, semoga saja saya tidak jatuh di lubang yang sama nantinya.

OTOBIOGRAFI DALAM
LIMA BAB SINGKAT

_____________________________________________
Dicuplik dari There’s a hole in My Sidewalk
Karya Portia Nelson

I
Aku sedang jalan. Ada lubang yang
dalam di tepinya. Aku terperosok.
Aku tak berdaya. Itu bukan salahku.
Lama sekali aku bisa ke luar.

II
Aku sedang jalan di jalan yang sama. Ada lubang
yang dalam di tepinya. Aku pura-pura tidak
melihatnya. Lagi-lagi aku terperosok.
Tidak kusangka aku berada di tempat yang
sama lagi. Tetapi itu bukan salahku. Masih saja
lama sekali baru bisa aku ke luar.

III
Aku sedang jalan di jalan yang sama. Ada lubang
yang dalam di tepinya. Aku lihat sih. Tetapi tetap
saja aku terperosok. Sudah jadi kebiasaan. Sekarang
mataku terbuka. Aku tahu di mana aku berada.
Ini salahku. Akupun segera ke luar.

IV
Aku sedang jalan di jalan yang sama. Ada lubang
yang dalam di tepinya. Aku menghindarinya.

V
Aku lewat jalan lain.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s