Aku Minta Maaf

Sore hari di akhir pelajaran.
“Lu nggak pulang?” tanya Charlie pada Awan.
“Nggak ah males,” Awan tetap menulis pada bukunya.
“Males kenapa?” Charlie menoleh, Awan masih menulis.
“Nggak ada siapa-siapa di rumah,” Awan kali ini menoleh.
“Oh iya, lu kan anak tunggal ya. Enak banget ya jadi lu. Gue mau kita tukeran aja. Gue jadi anaknya nyokap lu, lu jadi anaknya nyokap gue. Pasti enak ya, minta apa pun pasti dikasih, kan anak satu-satunya. Nggak usah ketemu sama kakak atau adik. Bebas ngapain aja. Nggak ada tekanan di rumah. Wah, seandainya…”
“Tapi kan lo punya nyokap yang tinggal transfer. Oh iya, lo sendiri nggak pulang?” balasnya.
“Apaan, gue ditanya-tanyain mulu uangnya dipakai buat apa! Gue ngebolang dulu hari ini. Tadi malem aja, gue pulang jam sebelas, jalan-jalan dulu. Hehe, iseng aja. Pas gue sampai rumah gak diapa-apain tuh.”
“Yah, lo enak ada supir.”
“Enak aja, tadi malem gue gak pakai supir tau! Orang gue ber-busway dan berangkot ria. Ngelayap ke mana pun sendirian, puas.”
“Emang ortu lo nggak tahu? Kakak-adek lo gimana?”
“Tahu, tapi nggak diapa-apain. Adik gue udah tidur, kakak gue masih di Bandung…,” raut muka Charlie berubah.
“Oh iya, kakak lo ITB yak?” tanya Awan.
“Iya…”
“Dah lulus kan? Selamat ya, kakaknya jadi murid teladan.”
“Iya…”
Saya selalu sedih dengan kisah ini. Mau tahu apa yang terjadi sebenarnya?
“Kakak gue anak teladan,” Charlie menerawang, “IPK-nya 3,98. Baru saja lulus dari fakultas paling bagus di situ dengan predikat cum laude…”
Sebenarnya banyak teman saya yang mengajukan pertanyaan, kira-kira ini ringkasan jawabannya. “Di rumah, gue selalu dibanding-bandingin sama dia. Dia juga dulunya masuk kelas akselerasi di 78. Maka sebenarnya gue masuk SCI itu bukan seratus persen keinginan gue. Tapi gue juga mau masuk ITB. Coba bayangin, selama bertahun-tahun gue hidup, gue selalu hanya jadi bayang-bayangnya. Orang-orang kasih selamat, tapi bukan buat gue, buat kakak gue…”
JLEB! Pernahkah sang kakak tahu bagaimana perasaan adiknya? Saya tidak tahu jawabannya, tapi sepertinya Allah lagi-lagi menegur saya dengan caranya yang tak diduga-duga. Seharusnya saya sadar sejak dulu. Mungkin selama saya hidup hanya mengecewakan saudara saya.
Kakak saya seorang remaja belasan tahun. Umur kami hanya selisih delapan belas bulan. Sekilas, banyak yang menyangka kami kembar. Yang jadi masalah, dia juga duduk di tahun senior. Saya tidak mempermasalahkan ke-SCI-an saya, hanya saja… dia terlalu baik untuk disakiti.
Seharusnya saya sadar, saya sudah ditegur berkali-kali. Teman SCI saya juga ada yang kakaknya duduk di tahun senior. Teman saya tersebut laki-laki dan kakaknya perempuan, masalahnya lebih mudah ketimbang posisi saya yang perempuan dan kakak saya laki-laki. Teman saya itu berkata, “Kakak gue nggak suka gue masuk SCI.”
Teman sebangku saya juga pernah berkata, “Kalau gue jadi kakak lu, gue bilang: dasar adek nggak tahu diri!” Saya jadi ingat saat Charlie berkata tentang perasaannya, ada yang menyeletuk, “Tapi lu masih mending, lu adeknya dia. Coba kalau lu kakaknya dia, lebih sulit lagi. Biasanya tuh di keluarga, kakak lebih pintar dari adik itu cenderung dimaklumi.”
Ada yang pernah bertanya pada saya, “Misal, misal aja nih. Kamu diterima di suatu PTN sedangkan kakakmu tidak, bagaimana perasaannya? Mungkin hasilnya akan beda kalau hal itu terjadi di tahun yang berbeda. Itu tidak akan seberat jika terjadi di tahun yang sama…”
Tidak! Saya tahu kakak saya lebih pintar dari saya. Delapan belas bulan lebih tua tapi delapan belas tahun lebih dewasa. Saya lebih sering melihat ia belajar daripada diri saya sendiri. Tapi, selalu saja ada faktor X…
“Jadi,” katanya saat saya beritahu kalau saya masuk kelas SCI, “Kamu masuk SCI? Haha… Kamu aksel? Haha… Kita nanti lulus bareng!” Saya selalu takut ada orang yang tertawa saat saya bicara serius. Tawa itu biasanya menyembunyikan sesuatu yang tak ingin ditampakkan. Biasanya belakangan saya tahu kalau orang-orang seperti itu tak ingin terlihat bersedih hanya untuk menyenangkan saya…
Tidak! Saya tidak mempermasalahkan ke-SCI-an saya. Saya juga selalu yakin kami berdua diterima di PTN. Jadi apa yang ditakutkan? Mungkin saya melakukan kesalahan bertahun-tahun seperti kakak Charlie. Ia tidak pernah mengatakan kalau ia kecewa seperti Charlie yang selalu diam tapi kecewa.
Jika ada orang yang rela menukar waktu tidurnya hanya untuk mengantar adiknya, selalu membagi apa yang ia punya, selalu meminjamkan buku-buku bagus, bahkan tak malu bersama adiknya walau dilihat teman-temannya, bukankah itu orang baik? Dan orang baik selalu tidak pantas untuk dibuat kecewa.

Aku hanya ingin kamu tahu aku minta maaf.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s