Ramadhan Memang Penuh Berkah

”Tidak ada paksaan dalam agama” adalah contoh populer dari toleransi dalam Islam.

SCI di Bulan Agustus…

Dalam Ramadhan tahun ini, saya banyak belajar hal baru yang jarang atau bahkan tidak pernah terpikir oleh saya.

1. Memahami kembali tentang puasa
Beberapa hari sebelum puasa, teman saya bertanya.
Dia : Tanz, bentar lagi puasa ya?
Saya : Iya.
Dia : Kalau sahur, makannya dibanyakin ya?
Saya : Ya sama kayak kalau makan biasa.
Dia : Kalau minum?
Saya : Sama juga kayak minum biasa.
Dia : Emangnya nggak haus gitu?
Saya : Tergantung.
Dia : Tergantung apa?
Saya : Tergantung kadar air dalam darah. Kalau kadar air dalam darah sedikit, hipofisis akan mengirimkan sinyal haus. Emangnya lu nggak pernah puasa?
Dia : Nggak.
Saya : Si Patricia (bukan nama sebenarnya) aja puasa.
Dia : Lagian puasa di Kristen sama Islam lamaan di Islam, kan?
Saya : Tergantung.
Dia : Tergantung apa?
Saya : Tergantung musimnya. Masalahnya kalau di Indonesia panjang siang dan malam di musim panas atau dingin sama aja.

2. Segalanya adalah cermin
Salah seorang teman saya, sebut saja Hawa, kurang disukai oleh yang lain. Sebenarnya bukan hanya dia, tapi teman-teman sepermainannya juga. Saat yang lain menyatakan ketidaksukaannya, saya berkata, “Kalau pelajaran agama gue, ‘kan dia duduk sebangku sama gue. Kok kalau lagi pelajaran agama, dia itu kelihatannya baik banget.” Salah seorang memotong, “Jangankan pas pelajaran agama, kalau Hari Jum’at, dia pakai kerudung aja kelihatannya alim banget.” “Ya, sebenarnya dia baik kok. Cuma kalau dekat-dekat beberapa meter aja sama teman-temannya, auranya langsung berubah.”

Maaf, bukan mau menjelek-jelekkan agama lain, saya hanya mengungkapkan pengamatan saya. Setahu saya, teman-teman Muslim/ah yang mengakrabkan diri bergaul dengan Nonmuslim kelakuannya berubah. Bicara jadi kasar, mengidolakan boyband setengah mati sampai setiap saat memandangi foto-fotonya, menyetel musik keras-keras, juga perilaku buruk lainnya. Sekali lagi saya tegaskan, saya tidak sedang menjelek-jelekkan agama lain.

Untuk beberapa waktu saya merasa saya adalah orang baik karena tidak mempunyai kelakuan seperti itu. Tapi saya jadi ingat kata-kata pada buku Dalam Dekapan Ukhuwah-nya Salim A. Fillah.

Maka saat kita berkaca, menemukan aib pada kawan perjalanan itu sungguh sama artinya dengan menemukan aib kita. Dalam dekapan ukhuwah, setiap saudara adalah tempat kita bercermin untuk melihat bayang-bayang kita. Seperti sabda Sang Nabi, “Mukmin yang satu adalah cermin bagi mukmin yang lain.” Dalam hening kita mematut diri di depannya, lalu kita sempatkan untuk bertanya, “Adakah retak-retak di sana?”

Kemudian saya melihat lagi. Orang-orang yang sedang duduk dengan saya kesemuanya Nonmuslim. Seharusnya saya sadar kenapa tadi saya mengucapkan ‘kalau pelajaran agama gue’ karena agama kami beda. Teman sebangku saya di kelas pun seorang Nonmuslim. Itu saja sudah cukup untuk menunjukkan kalau saya sama saja, tidak lebih baik dari orang-orang yang saya amati itu.

3. Memahami makna toleransi
[Al-Kahfi : 29] Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”…

Setelah kelompok saya presentasi ke depan kelas tentang toleransi antar umat beragama, Pak Guru menambahkan. Intinya beliau berpesan pada para siswi yang tidak berpuasa hendaknya tidak makan di depan siswa lain yang berpuasa.

Esoknya, saya melihat teman-teman Nonmuslim makan di kamar mandi (di wastafel, bukan di bilik). Kemudian ada juga yang makan di luar kelas secara sembunyi-sembunyi. Kasihan juga sih, mungkin mereka tidak memilih untuk makan di kantin saja karena terletak di lantai dasar sedangkan ruangan kami sering di Lantai Empat.

Tapi beberapa hari kemudian mereka makan di kelas setelah tahu kalau makan di depan orang yang berpuasa ternyata diizinkan oleh yang bersangkutan. Tidak ada yang tergoda apalagi kalau tahu apa yang dimakan. Mereka suka makan maling. Bukan maling yang artinya pencuri tapi daging babi yang entah bagian apanya. Pernah teman saya yang Muslimah iseng mencuil mie ayam teman Nonmuslim. “Babi!” teriak yang punya. Teman saya yang mencuil tadi langsung pergi mengeluarkan makanan tersebut, untung saja belum sempat ditelan. Sekembalinya dari sana, ia bertanya pada orang yang makanannnya ia cuil tadi. “Beneran, ini babi kecap, ini babi merah, itu babi bakar. Gue beli di dekat rumah gue.” Ternyata itu bukan mie ayam.

Hikmahnya, jika mereka saja bisa bertoleransi dengan tidak makan di depan orang yang berpuasa (pada awalnya), kami Muslimin/at juga bisa bertoleransi dengan mengizinkan mereka makan di tempat yang nyaman (ruang kelas) sementara kami dapat pergi ke masjid. Selama Ramadhan, masjid ramai yang Shalat Dhuha.

Namun ada juga yang usil. Mereka membuka kotak kue di meja ketika kami sedang tambahan belajar. Kebetulan ada satu Muslimah selain saya berteriak, “Tega banget sih kalian! Latansa itu lagi puasa, tahu!” (Ternyata kotak kue itu miliknya). “Ooo… Latansa puasa,” ujar salah satu dari mereka, “nanti kita mau makan es campur lho! Mmm… SEGERRR!” “Aku diajak, nggak?” tanya saya.

Sudahlah, sampai di sini saja. Kasihan yang baca kalau tulisannya banyak-banyak.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s