Monthly Archives: September 2010

Aku Harus Jujur

SCI* di Bulan September…

“Maafkan kali ini aku harus jujur…” lagu Kerispatih yang berjudul Aku Harus Jujur itu terdengar khidmat. Tak ada satu pun yang berani meledek apalagi mencela. Ada yang mengatakan suaranya bagus, entah itu hanya apresiasi atau berasal dari ketulusan. Menurut saya suaranya lumayan. Tapi bukan itu yang terpenting, yang terpenting dia—seseorang yang telah menyanyikan lagu Aku Harus Jujur untuk kami—telah jujur.

“Jangan salahkan keadaan ini, sayang… Semua adalah keterbatasanku saja…” Ya, dia telah jujur. Dia adalah ketua kelas kami yang rela dihukum karena kebanyakan dari kami bermain kartu. Memang, dia yang punya satu set kartu tersebut. Tiba-tiba guru datang ketika kebanyakan dari kami sedang bermian kartu. Keadaan itu membuat yang lain menjatuhkan kartu begitu saja di atas meja sementara ia kerepotan menyembunyikan.

“Tolong jangan salahkan aku lagi…” Dia rela menjadi tumbal kelas kami. Kalau saya jadi dia, saya akan menunjuk satu per satu siapa saja yang bermain kartu saat itu. “Gue yang main kena, kenapa lo yang juga main nggak kena?” begitu pikir saya kalau jadi dia.
***

Saat itu kelompok laki-laki bermain kartu remi dan kelompok perempuan bermain kartu uno. Saya ikut duduk di lingkaran kartu uno. Kartu sudah dibagikan ketika saya ikut duduk. Spontan saya mengambil tujuh lembar di tumpukan kartu. Yang lain marah, salah seorang mengambil kartu-kartu di tangan saya, mengocoknya kemudian memberikan tujuh lembar kepada saya. Yup, kami telah siap main. Tiba-tiba perasaan saya tidak enak. Ada bayangan Pak Guru tiba-tiba mengambil kartu lalu kami semua dihukum terlintas di benak saya. Saya tidak jadi main. Saya taruh kembali ke tumpukan. “Yeee… bisa gitu… Si Latansa nih…” saya cengengesan.
***

Saya tahu, menceritakan kalau kebanyakan dari kami adalah pemain kartu mungkin berakibat buruk. Saya hanya ingin memberitahu bahwa ketua kelas kami telah memenangkan kemenangan publik. Dia telah memasukkan banyak uang ke Rekening Bank Hubungannya. Dia berani menahan berkata benar meski ia mampu melakukannya. Barangkali untuk sebagian orang ini suatu tindakan yang tidak jujur, tapi coba kita ganti keadaannya. Coba saja kalau dia menunjuk siapa saja yang bermain saat itu, lalu orang-orang yang bermain saat itu menunjuk orang-orang yang pernah bermain kartu di sekolah. Pada akhirnya kelas kami nanti hanyalah sebuah kelas yang terbagi menjadi beberapa blok yang saling memusuhi.

Sore harinya seorang teman saya membuka buku binder-nya lalu menunjukkan empat lembar kartu remi yang tersisip di situ. Setiap anak laki-laki dibagi beberapa lembar. “Buat kenang-kenangan,” begitu katanya.

*SCI adalah julukan untuk siswa-siswi kelas XI IPA H

Baca juga:
Ada Sebuah Lubang di Jalan Saya
Kartu Uno
Siswa Chinese Istimewa

Leave a comment

Filed under Uncategorized

9 To 5

Sebenarnya, saya mau tidur saja begitu sampai di rumah, saya sudah menempel di kasur ditemani bantal, tetapi setelah melirik komputer menganggur, jadinya saya memutuskan untuk mencoret-coret di sini. Padahal saya juga tidak tahu apa yang mau ditulis, ya sudahlah biarkan saja.

Balik lagi ke judul, saya bukan sedang membahas komedi Amerika tahun 80-an. Nine to Five adalah istilah pekerjaan yang dikerjakan berdasarkan tenggat waktu, dari jam sembilan pagi, hingga jam lima sore. Istilah ini umum dan muncul di lingkungan pekerja kerah putih di daerah suburban New York, sekitar tahun 50-60, ketika Paman Sam baru saja bangkit dari kelesuan revolusi industri akibat WW II.

Saat ini, istilah Nine to Five tidak hanya berlaku pada orang-orang yang bekerja dari pukul sembilan pagi hingga pukul lima sore saja, melainkan meluas kepada para pekerja profesional, dengan ritme kerja yang ‘amat teratur’.

Saya bukan pekerja kantoran (paling tidak untuk saat ini) apalagi masuk sekolah juga bukan pukul sembilan. Kalau mau bikin istilah sendiri agak susah, 6.30 (a.m.) to 8.30 (p.m.). Kesannya seperti sekolah-sekolah tidak jelas yang masuk pukul 7 (pagi) pulang pukul 8 (pagi) *hah, 7-8?.

Kenapa pulangnya bisa malam seperti itu? Saya memilih ikut bimbel karena berbagai alasan, salah satunya adalah karena saya sudah di tahun akhir. Di brosurnya sih, setengah tujuh sudah pulang, eh nggak tahunya… Mungkin nanti kita bicarakan.

Teman saya sering berlirih, “Seandainya sehari itu lebih dari dua puluh empat jam…” Wew, dia yang rangking satu di kelas aja ngomong gitu, apalagi saya? Padahal saya kira dia punya waktu banyak.

Beberapa orang yang mengatakan, jika kita menganggap kita orang yang memiliki waktu banyak, maka itulah yang kita dapatkan. Saya benar-benar tidak tahu bagaimana cara mengaplikasikannya ke dunia nyata.

Waktu kecil, sehari terasa lebih panjang daripada sekarang. Saya rasa kiamat sudah dekat. Di buku agama, salah satu pertanda kiamat adalah tercabutnya nikmat waktu. Mungkin saja semakin lama rotasi bumi berputar lebih cepat.

Teman saya pernah berteori, “Kalau jadwal kita dibuat di kertas, kasusnya kita pulang sekolah jam 4, les jam 3, rapat jam 2. Jadi, yang bagian itu arsirannya tebal sekali. Sampai-sampai kita bingung di jadwal kita tidak ada bagian putih. Semua ada arsirannya bahkan banyak yang tebal.”

Ya, istilah 9 to 5 memang tidak cocok untuk tenggat waktu sekolah. Setelah dipikir-pikir, 9 to 5 cocok untuk dipakai sebagai tenggat waktu saya di rumah. Pukul 9 malam tiba di rumah sampai pukul 5 pagi bersiap untuk pergi lagi. SEMANGAT!

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Kisah Timphan dan Kekara

Ada pesan masuk ke ponsel saya.

<1/2> Aslm.
Touring Silaturahim Lebaran..
Selasa,14/9
Kmpul @sman 78 jm 8.00. Atw lgsg krumah bu choz.
Rute menyusul.
Krm k 1 orang sms ni.dn jrkm angktnmu..
Mar
***
Sebenarnya saya bingung. Siapa pengirimnya, ini acara apa, Bu Choz itu siapa, kok pesannya cuma setengah. Tapi beginilah saya, meski nggak tahu mau aja disuruh-suruh. Akhirnya saya kirim ke semua pengurus Rohis 78 beserta para alumni dari tahun jebot sampai 2010.

Eh, ada yang balas.
Rm diajak gak?
Yang lain juga tanya-tanya. Saya sih nggak tahu jawabannya apa. Saya jawab asal ke semuanya: kayaknya boleh.

Saya malah ditegur.Jangan kayaknya. Cb kamu tanyain yg sms kamu, blh apa gak.
Atau
Loh emang ini ide siapa?
***

Walau saya menyuruh orang lain untuk ikut, saya sendiri tidak hadir karena suatu urusan (kesannya orang sibuk padahal sok sibuk).

Aslm.
Touring Silaturahim Lebaran KLOTER 2.
Rabu,15/9 Kmpul @sman 78
Jm 8.00.
Ini utk yg gk bs hr selasa atw mw ikt kduanya.
Tujuan, rmh Pak O,Bu Heni,Pak Banta,dll..(dlm konfirmasi)
Krm k 1 org sms ni dn jrkm angktnmu
Mari sambung tali silaturahim

Knfrmsi khdrn k n0.ini
Jzk

Cihuy! Ada yang kloter 2! Ya… sebenarnya sih saya mau ikut kloter 2, tapi berhubung beberapa jam sebelum waktu perjanjian teman saya mengajak kerja kelompok, saya jadi ragu-ragu. Akhirnya saya memutuskan ikut touring silaturahmi gara-gara terlanjur janji akan hadir.

Jam 7.45 WIJ (Waktu Indonesia bagian Jupan). Lho kok sepi ya. Ya iyalah kan libur. Setelah itu saya menunggu sambil menghatamkan buku yang satu bulan lebih tidak juga selesai.

Jam 7.55 WIJ. Lho kok nggak ada tanda-tanda akan kehadiran manusia? Jangan-jangan saya ditinggal. Ah nggak mungkin ah, di jam sekolah aja belum jam 8 (saya rasa jam sekolah itu lebih cepat beberapa menit daripada WIB).

Jam 8.30 WIJ. Astaghfirullahal ‘azhim…

Jam 9.00 WIJ. Akhirnya datang juga. Ngaretnya nggak nanggung-nanggung. Satu jam! Padahal saya kalau di luar komunitas ini, jika telat lima menit saja sudah dimarahi. Demi masa. Sesungguhnya manusia itu dalam kerugian.

Ringkasnya, saya baru berangkat jam 9.40 WIJ. Setelah tersasar ke sana ke mari sampailah saya di rumah guru saya yang bernama Pak Banta. Kenal nggak? Nggak? Saya saja juga baru kenal.

Pernah cerita kan, dulu saya ambil Bahasa Arab tapi karena bisa dikatakan tidak ada pengikutnya selain saya akhirnya saya terdampar di Kelas Bahasa Mandarin. Tapi karena terinspirasi dari sebuah buku, akhirnya saya membuat kelas Bahasa Arab sendiri yang pada akhirnya memiliki pengikut delapan orang.

Nah, Pak Banta ini gurunya. Sebenarnya banyak kejadian unik kalau diajar beliau, tapi ceritanya kapan-kapan ya. Barangkali beliau berjodoh dengan angka delapan, muridnya delapan dan yang datang sliturahim juga delapan. Delapan oh delapan…

Waktu lihat foto keluarga saat pernikahan salah satu saudaranya, saya bergumam, “Kok kayak Baju Aceh ya…” Ya iyalah, kan orang Aceh, dari namanya aja udah kelihatan.

Kami disuguhi cemilan-cemilan Aceh (tuh, kan) karena beliau beralasan ‘biar lucu’. Saya tidak faham maksudnya apa. Kami diberi timphan yang pengucapan ph-nya seperti p pada pinyin, yaitu merupakan konsonan aspirasi (mengeluarkan nafas saat diucapkan, dalam Hijaiyah dikenal istilah ‘hams’). Mengapa saya susah-susah menjelaskan itu? Karena kalau salah sebut nanti ditegur pembuatnya. Selain itu ada yang bentuknya seperti jaring laba-laba. Lagi-lagi saya bergumam, “Kok kayak kara, ya…” Ummu Pak Banta yang ternyata mendengar bertanya pada saya, “Apa tadi kamu bilang?” “Ka…ra…?” “Memang, namanya kekara.” Huff… kirain mau ditegur.

Berhubung guru lain ada diklat dan sedang tidak di rumah, kami hanya mengunjungi satu guru. Nantikan kisah lainnya seraya berdoa semoga saya diberikan waktu untuk menulis dan kamu diberikan waktu untuk membacanya. Mohon maaf bila ada salah. Terima kasih.

Latansa, Kak Dayoh, Kak Lili, Mumtaz, Pak Banta, Syamil, Hamas, Veri, Luthfan, Kak Yoga

Kamu tahu dua
jari telunjuk ke atas itu gaya apa?

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Dia Bilang SCI Gila

Salah seorang kawan pernah bercerita, “Tadi waktu di tempat les, aku dengar suara dari kelas sebelahku. Di kelas sebelah, ada sekelompok anak-anak yang aku nggak ngerti mereka ngomong apa. Salah satu berkata, ‘Ngowengngoweeengngoooweeeng.’ Sedang yang satunya, ‘Brrrmmmm… brrrmmm brmmm…’ Mereka itu lagi ngapain, ya?”

Pengajar lesnya kemudian menjawab, “Oh, itu yang di sebelah anak 78. Mereka emang biasa kayak gitu.”

“Huff… Untung dulu gue gak masuk 78,” ujar kawan saya.

“Apalagi anak SCI-nya, udah gila semua!” lanjut sang pengajar les.

“SCI itu apaan sih?” tanya salah seorang siswa.

“Semacam kelas akselerasinya 78, gitu.”
***

Waw, anak SCI dibilang gila. Untung saya bukan anak SCI, tapi anak bapak saya (?). Benarkah anak SCI gila? Mari kita perhatikan baik-baik ciri-ciri orang yang gila.

1.Merasa depresi, sedih atau stress tingkat tinggi secara terus-menerus. Depresi, sedih, atau stress tingkat tinggi biasanya dialami beberapa menit setelah ulangan berlangsung. Karena ulangan berlangsung setiap hari, depresi sedih, atau stress dialami setiap hari.

2. Sering berpikir/melamun yang tidak biasa (delusi). Kalau yang ini sepertinya jarang. Jika sempat berkhayal, khayalannya adalah: seandainya sehari itu lebih dari 24 jam pasti gue punya waktu lebih buat berkhayal.

3. Kesulitan untuk melakukan pekerjaan atau tugas sehari-hari walaupun pekerjaan tersebut telah dijalani selama bertahun-tahun. Yup, benar sekali. Selama bertahun-tahun anak SCI ikut ulangan tapi makin lama rasanya semakin sulit.

4. Paranoid (cemas / takut) pada hal-hal biasa yang bagi orang normal tidak perlu ditakuti atau dicemaskan. Mungkin iya, mereka cemas terhadap sesuatu yang belum tentu terjadi. Contohnya: gagal UN, SNMPTN, SIMAK, dll.

5. Suka menggunakan obat hanya demi kesenangan. Bagi yang bekerja di apotek orangtuanya, biasanya mereka menggunakan (meracik) obat hanya demi kesenangan (uang jajan).

6. Memiliki pemikiran untuk mengakhiri hidup atau bunuh diri. Mereka memiliki pemikiran untuk segera mengakhiri sekolah dengan cara masuk kelas percepatan.

7.Terjadi perubahan diri yang cukup berarti. Ya iyalah……….

8. Memiliki emosi atau perasaan yang mudah berubah-ubah. Kelihatan dari yang menulis ini.

9. Terjadi perubahan pola makan yang tidak seperti biasanya. Kalau sempat ya makan, kalau nggak ya nggak.

10. Pola tidur terjadi perubahan tidak seperti biasa. Kalau besok ulangan berarti malamnya begadang.

Untuk itu, saya sarankan untuk tidak masuk kelas SCI/akselerasi atau apalah namanya supaya tidak gila. Tapi kalau kamu tetap masuk kelas tersebut dengan pertimbangan yang lebih rasional, ya monggo…

Leave a comment

Filed under Uncategorized