9 To 5

Sebenarnya, saya mau tidur saja begitu sampai di rumah, saya sudah menempel di kasur ditemani bantal, tetapi setelah melirik komputer menganggur, jadinya saya memutuskan untuk mencoret-coret di sini. Padahal saya juga tidak tahu apa yang mau ditulis, ya sudahlah biarkan saja.

Balik lagi ke judul, saya bukan sedang membahas komedi Amerika tahun 80-an. Nine to Five adalah istilah pekerjaan yang dikerjakan berdasarkan tenggat waktu, dari jam sembilan pagi, hingga jam lima sore. Istilah ini umum dan muncul di lingkungan pekerja kerah putih di daerah suburban New York, sekitar tahun 50-60, ketika Paman Sam baru saja bangkit dari kelesuan revolusi industri akibat WW II.

Saat ini, istilah Nine to Five tidak hanya berlaku pada orang-orang yang bekerja dari pukul sembilan pagi hingga pukul lima sore saja, melainkan meluas kepada para pekerja profesional, dengan ritme kerja yang ‘amat teratur’.

Saya bukan pekerja kantoran (paling tidak untuk saat ini) apalagi masuk sekolah juga bukan pukul sembilan. Kalau mau bikin istilah sendiri agak susah, 6.30 (a.m.) to 8.30 (p.m.). Kesannya seperti sekolah-sekolah tidak jelas yang masuk pukul 7 (pagi) pulang pukul 8 (pagi) *hah, 7-8?.

Kenapa pulangnya bisa malam seperti itu? Saya memilih ikut bimbel karena berbagai alasan, salah satunya adalah karena saya sudah di tahun akhir. Di brosurnya sih, setengah tujuh sudah pulang, eh nggak tahunya… Mungkin nanti kita bicarakan.

Teman saya sering berlirih, “Seandainya sehari itu lebih dari dua puluh empat jam…” Wew, dia yang rangking satu di kelas aja ngomong gitu, apalagi saya? Padahal saya kira dia punya waktu banyak.

Beberapa orang yang mengatakan, jika kita menganggap kita orang yang memiliki waktu banyak, maka itulah yang kita dapatkan. Saya benar-benar tidak tahu bagaimana cara mengaplikasikannya ke dunia nyata.

Waktu kecil, sehari terasa lebih panjang daripada sekarang. Saya rasa kiamat sudah dekat. Di buku agama, salah satu pertanda kiamat adalah tercabutnya nikmat waktu. Mungkin saja semakin lama rotasi bumi berputar lebih cepat.

Teman saya pernah berteori, “Kalau jadwal kita dibuat di kertas, kasusnya kita pulang sekolah jam 4, les jam 3, rapat jam 2. Jadi, yang bagian itu arsirannya tebal sekali. Sampai-sampai kita bingung di jadwal kita tidak ada bagian putih. Semua ada arsirannya bahkan banyak yang tebal.”

Ya, istilah 9 to 5 memang tidak cocok untuk tenggat waktu sekolah. Setelah dipikir-pikir, 9 to 5 cocok untuk dipakai sebagai tenggat waktu saya di rumah. Pukul 9 malam tiba di rumah sampai pukul 5 pagi bersiap untuk pergi lagi. SEMANGAT!

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s