Aku Harus Jujur

SCI* di Bulan September…

“Maafkan kali ini aku harus jujur…” lagu Kerispatih yang berjudul Aku Harus Jujur itu terdengar khidmat. Tak ada satu pun yang berani meledek apalagi mencela. Ada yang mengatakan suaranya bagus, entah itu hanya apresiasi atau berasal dari ketulusan. Menurut saya suaranya lumayan. Tapi bukan itu yang terpenting, yang terpenting dia—seseorang yang telah menyanyikan lagu Aku Harus Jujur untuk kami—telah jujur.

“Jangan salahkan keadaan ini, sayang… Semua adalah keterbatasanku saja…” Ya, dia telah jujur. Dia adalah ketua kelas kami yang rela dihukum karena kebanyakan dari kami bermain kartu. Memang, dia yang punya satu set kartu tersebut. Tiba-tiba guru datang ketika kebanyakan dari kami sedang bermian kartu. Keadaan itu membuat yang lain menjatuhkan kartu begitu saja di atas meja sementara ia kerepotan menyembunyikan.

“Tolong jangan salahkan aku lagi…” Dia rela menjadi tumbal kelas kami. Kalau saya jadi dia, saya akan menunjuk satu per satu siapa saja yang bermain kartu saat itu. “Gue yang main kena, kenapa lo yang juga main nggak kena?” begitu pikir saya kalau jadi dia.
***

Saat itu kelompok laki-laki bermain kartu remi dan kelompok perempuan bermain kartu uno. Saya ikut duduk di lingkaran kartu uno. Kartu sudah dibagikan ketika saya ikut duduk. Spontan saya mengambil tujuh lembar di tumpukan kartu. Yang lain marah, salah seorang mengambil kartu-kartu di tangan saya, mengocoknya kemudian memberikan tujuh lembar kepada saya. Yup, kami telah siap main. Tiba-tiba perasaan saya tidak enak. Ada bayangan Pak Guru tiba-tiba mengambil kartu lalu kami semua dihukum terlintas di benak saya. Saya tidak jadi main. Saya taruh kembali ke tumpukan. “Yeee… bisa gitu… Si Latansa nih…” saya cengengesan.
***

Saya tahu, menceritakan kalau kebanyakan dari kami adalah pemain kartu mungkin berakibat buruk. Saya hanya ingin memberitahu bahwa ketua kelas kami telah memenangkan kemenangan publik. Dia telah memasukkan banyak uang ke Rekening Bank Hubungannya. Dia berani menahan berkata benar meski ia mampu melakukannya. Barangkali untuk sebagian orang ini suatu tindakan yang tidak jujur, tapi coba kita ganti keadaannya. Coba saja kalau dia menunjuk siapa saja yang bermain saat itu, lalu orang-orang yang bermain saat itu menunjuk orang-orang yang pernah bermain kartu di sekolah. Pada akhirnya kelas kami nanti hanyalah sebuah kelas yang terbagi menjadi beberapa blok yang saling memusuhi.

Sore harinya seorang teman saya membuka buku binder-nya lalu menunjukkan empat lembar kartu remi yang tersisip di situ. Setiap anak laki-laki dibagi beberapa lembar. “Buat kenang-kenangan,” begitu katanya.

*SCI adalah julukan untuk siswa-siswi kelas XI IPA H

Baca juga:
Ada Sebuah Lubang di Jalan Saya
Kartu Uno
Siswa Chinese Istimewa

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s