Monthly Archives: October 2010

Pengasingan

Satu cerita suatu negara
Dulu dijajah sekarang terjajah
Pengasingan di atas segalanya
Bagaimanakah ceritanya?

Cobalah bicara dengan kawan
Tenggelam dalam percakapan
Sorry, good bye, thank
Kamu masih di negara ini, bukan?

Cobalah pandang kiri kanan
Baliho iklan pemukiman
City resort, pent house, residence
Kamu masih di negara ini, bukan?

Cobalah lihat lebih dekat
Poster bagai terpahat
Go ahead, let the taste out
Kamu masih di negara ini, bukan?

Cobalah tekan tombol merah
Nyalakan kotak gambar dan suara
Breaking News, City View, Extravaganza
Kamu masih di negara ini, bukan?

Cobalah pergi jika kau jenuh
Menyaksikan diputarnya gulungan
Get married, Eiffel I’m in Love, Soul
Kamu masih di negara ini, bukan?

Cobalah masuk ke pusa perbelanjaan
Mengunjungi benda dalam barisan
City, Mall, Plaza, Giant
Kamu masih di negara ini, bukan?

Cobalah berdiri di kolong angkasa
Menyaksikan karya pemerintah
Busway, monorail, waterway, underpass
Kamu masih di negara ini, bukan?

Kongres Pemuda II disiakan
Sumpah satu bahasa hampir sirna
Pengasingan di atas segalanya
Bagaimanakah ceritanya?

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Itu Hanya Genangan, Bukan Banjir

“…harus dibedakan antara banjir dan genangan…”


“…kalau banjir itu satu dua hari air di situ. Sedangkan genangan air itu lewat. Ini saya jelaskan perlu ada pemahaman tentang itu…”


“…dulu Kebon Nanas di Jalan Panjaitan sempat terjadi genangan. Setelah kami perbaiki sekarang tidak ada lagi…”


“…tapi Anda catat yang sedang dan akan kerjakan. Yang sudah dilakukan Anda lupakan…”


Gara-gara banyak “genangan” di mana-mana, perjalanan sekolah-rumah yang biasanya sejam menjadi empat jam.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Data Kuesioner

Ini hasil rekapitulasi data yang saya buat, respondennya ada 52 orang. Sebenarnya yang menjawab lebih dari itu, tapi langsung saya tutup karena saya berpendapat lebih cepat dikumpulkan lebih baik. Jadi mohon maaf sekali kalau datanya tidak semuanya direkap dan komentar-komentar baru mengganggu kotak masuk akun Multiply kalian.

1. Data Umum Responden
a. Usia
i. <11 0%
ii. 11-20 29,41%
iii. 21-30 35,29%
iv. 31-40 7,84%
v. >40 1,96%
vi. Tidak mengisi 27,45%

b. Jenis Kelamin
i. Laki-laki 37,25%
ii. Perempuan 62,75%

c. Pekerjaan
i. Pelajar 15,69%
ii. Mahasiswa/i 17,65%
iii. Pegawai Negeri Sipil 1,96%
iv. Wiraswasta 3,92%
v. Ibu Rumah Tangga 5,88%
vi. Pekerja Lepas 7,84%
vii. Lain-lain 23,53%
viii. Tidak mengisi 27,45%

2. Jawaban Pertanyaan
1. Sejak kapan Anda menulis blog?
a. 0-1 tahun yang lalu 15,69%
b. 2-3 tahun yang lalu 60,78%
c. >3 tahun yang lalu 19,6%
d. Tidak menulis blog tapi hanya berjualan 1,96%
e. Tidak menjawab 1,96%

2. Berapa kali Anda menulis blog dalam seminggu?
a. 0-7 78,43%
b. 8-15 13,73%
c. >15 1,96%
d. Tidak tentu 1,96%
e. Tidak menjawab 1,96%

3. Apa manfaat yang Anda dapat dari blog? (boleh pilih lebih dari satu)
a. Menambah teman 74,51%
b. Meningkatkan kemampuan menulis 70,59%
c. Mendapat uang 3,92%
d. Lainnya …
i. Menambah wawasan dan informasi 15,69%
ii. Mengisi waktu luang dan sebagai hiburan 1,96%
iii. Bisa saling berbagi ilmu, foto, dan berbagai informasi 9,8%
iv. Dijadikan tempat curhat 5,88%
v. Untuk kenang-kenangan di masa depan 1,96%
vi. Memperkuat daya ingat dan mengurangi beban pikiran 1,96%
vii. Memotivasi diri sendiri dan orang lain 3,92%
viii. Eksplorasi diri 1,96%
ix. Tanpa keterangan 9,8 %
e. Tidak menjawab 1,96%

4. Apakah Anda punya blog selain Multiply ? (boleh pilih lebih dari satu)
a. Blogspot 50,98%
b. WordPress 27,45%
c. Live Journal 1,96%
d. Lainnya …
i. Yolasite 1,96%
ii. Blog Friendster 1,96%
iii. Muxlim 1,96%
iv. Kompasiana 1,96%
v. Posterous 1,96%
vi. Tanpa keterangan 11,76%
e. Tidak punya 25,49%
f. Tidak menjawab 1,96%

5. Dari mana pertama kali Anda mengenal Multiply?
a. Teman 43,13%
b. Media massa cetak 19,61%
c. Keluarga 9,8%
d. Lainnya…
i. Internet 11,76%
ii. Tanpa keterangan 11,76%
e. Tidak menjawab 1,96%

6. Di mana Anda bermain Multiply?
a. Warnet 23,53%
b. Rumah/kost-an 72,55%
c. Kantor 27,45%
d. Lainnya…
i. Ponsel 5,88%
ii. Di jalan 1,96%
iii. Tanpa keterangan 5,88%
e. Tidak menjawab 1,96%

7. Dari mana sumber atau ide menulis blog didapat?
a. Kehidupan sehari-hari 68,63%
b. Internet 25,49%
c. Media cetak 15,69%
d. Lainnya…
i. Televisi 1,96%
ii. Diskusi dengan rekan 3,92%
iii. Kuliah atau kajian 3,92%
iv. Tanpa keterangan 7,84%
e. Tidak menjawab 25,49%

8. Seberapa banyak komentar yang masuk pada blog Anda (rata-rata)?
a. 0-10 45,1%
b. 11-20 15,96%
c. >20 15,96%
d. Tidak menjawab 25,49%

9. Berapa kali dalam seminggu Anda membuka Multiply?
a. 0-7 29,41%
b. 8-15 17,65%
c. >15 27,45%
d. Tidak menjawab 25,49%

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Debt/ Pray/ Love

Di malam sepi/ ku termenung sendiri/ tiada yang menemani/ tak perlu menanti/ dia tiada lagi/ di dunia ini/ aku jadi bingung/ berjalan keliling sendiri/ sampai aku pusing/ namun hanya satu/ walau aku ragu/ benarkah ini terjadi/ hutangku nambah lagi?/ sampai kapan lunas/ haruskah kujual rumahku?/ tapi dengan cinta/ semua pasti sirna/ tak ku pungkiri/ hutangku mengalahkan cinta!/ yang talah terjalin/ dengan banyak pengorbanan/ ku perjuangkan cinta/ maka kuberdoa pada-Nya/ tolong lunaskan hutangku!/ ingin ku akhiri/ pahitnya hidup ini/ namun tak sanggup/ lalu kupasrahkan saja/ biar Tuhan tentukan/ kelanjutan cerita ini

Curcol SCI

Kalau udah gede/ aku ingin jadi/ pakar akar masalah/ jadi akar masalah/ juga jadi professor/ yang sangat tersohor/ walau uang tekor/ hutang menumpuk lagi/ cucianku juga numpuk/ inilah derita hidupku

SCI menderita sekali
Karena hutang….
Kasihan sekali…

______________
Tulisan ini dibuat dalam permainan melanjutkan puisi. Setiap peserta harus menambahkan tiga kata pada gilirannya. Mungkin karena permainan ini dimainkan sejam sebelum pengambilan rapor, kata-kata yang ditulis menjadi tidak karuan.

Baca juga:
Dia Bilang SCI Gila
Obrolan Jelang Ujian

Leave a comment

Filed under Uncategorized

How Precious You Are…

Kulihat angka di tanggalan.
Benar, kan kalau hari ini aku ulang tahun?
Kenapa sampai sekarang
belum ada yang memberi ucapan?
Memang, hari ulang tahun bukan
hari yang harus dirayakan.
Tapi aku sangat mengharapkan
walau hanya satu ucapan.
Tapi siapa yang bisa diharapkan?
Hari ini liburan,
aku tidak bertemu dengan teman.
Bapak di Sulawesi Selatan,
ibu di Riau daratan,
sedangkan aku di Banten.
Tadi pagi ibu menelepon.
Kukira beliau akan memberi ucapan.
‘Nak, semua baik-baik aja, kan?’
‘Ya,’ jawabku tanpa pesan.
Aku pun pergi tiduran,
mencari ucapan selamat dalam khayalan.

Empat tahun kemudian…
Hari ini aku ulang tahun lagi.
Mungkin ini sedikit lebih baik.
Meski bapak di negeri matahari terbit,
ibuku sudah pindah ke sini.
Ketika pagi aku riang hati.
Sudah banyak yang mengucapi,
‘Selamat ulang tahun, Ya Ukhti.’
Ke sekolah kupergi.
Pasti hari ini indah sekali.
Aku dan seluruh teman sekelas izin
untuk ikut Seminar Jurnalistik.
Kecuali yang sakit.
Teman-teman menyeletuki,
‘Latansa bekerjasama dengan panitia ini
untuk merayakan hari lahir.’

Hari ini ada lebih dari tiga digit
yang mengucapkan selamat hari lahir.

“Thousand candles are not enough to say how precious you are…”
–Teman Sekelas-

_______________
Tulisan ini dipersembahkan untuk teman-teman SCI 3 sekaligus untuk Lomba Ulang Tahun dengan tema : Ulang Tahun yang Paling Berkesan.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Otak Disket

Kemarin, saya ke ruang kimia. Saya melihat pepan tulisnya yang penuh. Kemudian saya mencari tempat duduk dan termenung. Parah, saya tidak ingat sama sekali tulisan yang ada di papan tulis itu. Yang saya ingat hanya saya pernah belajar materi itu.

Ketika saya mengulang materi yang diajarkan di semester satu dan dua, saya merasa seperti baru pertama mempelajarinya. Tapi saya ingat kalau dulu saya pernah menguasainya. Jangankan materi yang semester-semester sebelumnya, yang baru dua bulan lalu saja suda lupa.

Saya jadi bingung. Apakah kemampuan otak makin lama makin menurun? Entah mengapa dulu saya tidak serajin sekarang (standar saya), tetapi ingatannya lebih kuat. Tes IQ juga membuktikan kalau… IQ saya turun.

Bukannya mengerjakan LKS Kimia 3, saya malah mengobrol dengan teman saya. Meski begitu, perbincangan kami telah menemui kesimpulan yang bisa dijadikan teori. Kami merasa saat kami belajar, maka prosesnya adalah kami menghapus sebagian isi otak, lalu diisi dengan yang baru. Jika dianalogikan, kami menghapus isi disket lalu mengisinya dengan data baru. Bukankah kapasitas otak kita sangat lebih dari sebuah disket? Ya, betul sekali. Seberapa besar sih kemampuan atau kapasitas otak manusia, cek yang satu ini :
• Jika seluruh informasi buku perpustakaan di dunia atau seluruh informasi jaringan terlekomunikasi di dunia dimasukkan ke dalam otak, otak manusia tidak akan penuh.
• Jika setiap detik dimasukkan 10 informasi sampai kita meninggal ke dalam otak kita, misalnya sampai umur 100 tahun, otak manusia belum terisi sepenuhnya.
• Kapasitas otak manusia adalah angka satu diikuti angka nol yan panjangnya 10 pangkat 5 juta kilometer angka standar.
Jadi, otak belum di-explore dengan baik. Kami tahu kalau otak kami adalah ruangan superbesar yang berisi banyak disket, atau jangan-jangan ada banyak harddisk berkapasitas lebih dari tiga terabita. Semuanya tersimpan di lemari-lemari. Kami tidak tahu di mana kuncinya, yang kami tahu yang sekarang bisa dipakai hanya disket dekat pintu ruangan. Sehingga seluruh pemasukan data baru selalu mengalami proses yang sama: hapus lalu isi.

Jika Einstein saja hanya menggunakan delapan persen dari otaknya selama hidup, lalu saya berapa? Kurang dari satu persenkah?

Para ahli jiwa pada tahun 1950 meneliti bahwa potensi otak manusia yang digunakan rata-rata hanya sekitar 50%, tahun 1970 sebesar 10%, tahun 1990 sekitar 1%, potensi otak manusia yang digunakan sekarang? Kurang lebih 0.0001%.

Penurunan potensi otak manusia di atas bukanlah gambaran penurunan otak manusia yang digunakan, tetapi gambaran semakin akuratnya alat yang digunakan untuk mengukur potensi rata-rata otak manusia.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Buletin Jum’at

Meski jumlah murid beragama Islam di sekolah saya lumayan banyak, tapi jumlah murid beragama non-Islam tidak sedikit. Kemarin teman saya bercerita kalau di kelasnya hanya setengah yang beragama Islam. Tidak jauh beda dengan kelas saya yang murid Muslim-nya tidak sampai setengah.

Dulu, saya pernah membawa tumpukan buletin Jum’at yang akan diterbitkan esoknya ke kelas karena yang mengurus sedang sakit. Teman-teman bertanya, “Apa itu?” Saya menjawab, “Buletin Jum’at.” “Apaan sih itu?” “Buletin Jum’at…” “Emangnya itu apaan?” “Buletin Jum’at!” Teman yang lain menjelaskan padanya, “Buletin itu lho, yang kayak pamflet.” “Ooo, gue kira disuruh ngebuletin Hari Jum’at…” Teman yang lain lagi menjelaskan kalau Buletin Jum’at adalah buletin untuk Muslim yang terbit setiap Hari Jum’at.

Ada juga teman saya yang mendeklamasikan bait-bait yang terdapat di buletin itu. Begitu selesai, saya berkomentar, “Itu ‘kan sebenarnya lagu, bukan puisi.” Ada juga yang membacanya dari awal sampai akhir, karena isi utama buletin pada edisi tersebut adalah cerita. “Latansa, ini buat siapa?” “Buat yang Muslim aja. Tapi kalau kamu mau ambil aja.” Setelah itu dia mengambil beberapa lembar, saya kira itu buat dia ternyata dia kemudian membagi-bagikan kepada siswa/i beragama Islam di kelas.

Parahnya di situ ada nama saya, teman-teman saya protes, “Harusnya tuh di sini ditulis Latansa yang temannya Elcha, Emmanulla, dan Gisela.” “Weee, emangnya siapa kalian?”

***
Jum’at pagi, biasanya diisi dengan kegiatan agama. Suara lantunan ayat suci Al-Qur’an berkumandang di seluruh ruangan. Tiba-tiba, teman saya berbicara, ”Za,gue udah baca dong cerita lu. Tapi lain kali kalau bikin cerita itu jangan cerita agama…” Wow, saya bikin cerita? Hebat banget! Cerita agama, lagi! Tunggu dulu, kapan saya bikin cerita?

“Lain kali kalau bikin cerita itu yang umum aja biar semuanya bisa baca.” Saya baru ngeh kalau yang dimaksud itu cerita di bulletin. Eh, itu kalau bukan tentang agama gimana? Lha ‘kan tujuannya memang untuk jama’ah masjid. “Nggak kok, bukan gue yang bikin ceritanya. Itu cerita hadits. Tahu hadits nggak?”

“Tahu! Itu kan yang biasanya ada di buku Bimbingan Konseling waktu di SMP…” Eh, SMP kita ‘kan beda.

“Gue suka baca tuh haditsnya. Kayak lima perkara sebelum lima perkara…” Entah kenapa saya tidak yakin ia hafal lima perkara sebelum lima perkara.

“Cerita yang di bulletin itu bagus banget, tapi awal-awalnya gue nggak ngerti soalnya banyak ayatnya…” Ayat? Mana ayatnya sih? Perasaan nggak ada. Jangan-jangan maksudnya itu perawi hadits.

“Lain kali bikin cerita yang umum aja ya? Ya ya ya?” Dakwah universal? Boleh juga.Hem… mikir-mikir dulu deh. Petugas redaksinya ‘kan ada banyak.

Tiba-tiba teman saya yang lain datang lalu bersuara keras padanya, “Eh, nggak doa lu?!” Ia pun menjawab, “Orang tadi gue udah telat banget.” O iya, saya kan tadi lagi baca Al-Qur’an! Sudah sampai mana nih? Setelah ketemu, saya pun membaca.

Waqaalati alyahuudu ‘uzayrun ibnu allaahi waqaalati alnnashaaraa almasiihu ibnu allaahi dzaalika qawluhum bi-afwaahihim yudaahi-uuna qawla alladziina kafaruu min qablu qaatalahumu allaahu annaa yu/fakuuna. Ittakhadzuu ahbaarahum waruhbaanahum arbaaban min duuni allaahi waalmasiiha ibna maryama wamaa umiruu illaa liya’buduu ilaahan waahidan laa ilaaha illaa huwa subhaanahu ‘ammaa yusyrikuuna.

[9:30] Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah”. Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling? [9:31] Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

JLEB!

(Maaf kalau ada salah kata).

Leave a comment

Filed under Uncategorized