Monthly Archives: November 2010

Sindrom Lanjutan

“SCI skrng pd hobi tulis note, ini sindrome orng” yg mau berpisah nih…” -Absen 22-

Susah, mau tulis apa. Berhubung saya bingung yang mana yang pro, kontra, apalagi netral, akhirnya saya menggabungkan semuanya. Urutannya menurut abjad.

1. Ajib Setiawan Nugroho
Sesuai dengan namanya, dia anak ajaib, menakjubkan. Namanya sudah terkenal dari saya SMP. Padahal saya tidak satu SMP dengannya. Teman-teman SMP saya sering berkata kalau Ajib ini pintar sekali.

2. Alif Rizki Bastoni (ألف رزقي باستوني)
Dia adalah orang yang suka di-bully di tempat les oleh kakak kelas. Di tempat les, yang angkatan kami hanyalah sepuluh orang–tentu saja kesemuanya itu anak SCI, sedangkan yang lain adalah kakak kelas.

3. Andreas Dymasius (Sitorus)
Pikir sebelum berkata, mungkin itulah pameo yang tepat. Dia pernah kesal dengan saya karena saya mengucapkan huruf K tiga kali di depannya. Ia berkata, “Oh, ternyata Latansa sekarang gitu ya. Nggak nyangka gue.” Untung teman saya ada yang membela, “Kenapa sih, Dym? Latansa ‘kan cuma ngomong kakaka aja.” Teman saya yang satu ini memang sensitif dengan huruf K yang diucapkan tiga kali. Mungkin yang terdengar di telinganya ada apostrof setelah huruf K yang kedua.

4. Andri Priyono (أندري فرييونو)
Saya pertama kali mengenalnya sebagai Andrei Arshavin, seorang tukang sulap yang tidak jelas. Dia juga pengguna Multiply. Karena dia pernah mampir ke situs saya, saya mampir balik ke tempatnya.

L : permisi… numpang lewat ya 😀
A : yooooooiiiii, anak x-e kan?

Waktu itu, liburan semester satu. Kelas pertama saya bernama X-E. Saya berpikir, ‘Wah, ternyata aku terkenal ya! Setelah itu saya melihat nama aslinya di sudut Multiply. Oh, namanya Andri Priyono.

L : iya bener, ini Andri Priyono ya? add gw dong (sok berkuasa)
A : Wuih mantap bgt blog lu, gw aj blom ada isiny,hehe. carany gmana nge addny? masuk IPA brp ni?hehe

Saya tidak tahu apa dia membaca blog saya yang berisi kegalauan saya untuk memilih paket jurusan. Ada IPA 1, IPA 2, dan IPA SCI. Sebenarnya ada juga paket IPS, tapi entah mengapa saat itu saya ingin masuk jurusan IPA. Esoknya, hari pertama masuk sekolah. Saya pergi ke papan pengumuman untuk melihat siapa saja yang sekelas dengan saya.

L : makanya, isi dong.ternyata kita sekelas
A : Kpn2 klo ada wktu gw isi dh

Nama panggilannya sekarang Bang Yono. Sebelumnya saat masih semester 2 nama panggilannya di kelas masih Andri. Mungkin karena ada pengurus Rohis lainnya yang juga bernama Andri. Ingat, dia mintanya pakai ‘Bang’, gara-gara itu saya jadi ingin menambahkan panggilan kakak ke yang lainnya seperti Kak Gisel, Ci Mery, Mbak Aya, Teh Citra, dan lain-lain.

5. Erdevin Prima Basten (Sianturi)
Dia suka diledeki Dymas gara-gara pakai BB. Memangnya kenapa kalau pakai BB? Bukannya yang lain juga pakai? Dia kalau memakai BB, BB-nya dimasukkan di dalam tas. Katanya teman-teman, cuma dia yang BB-nya masih mulus. Ya ampun, gitu aja.

6. Faisal Ibrahim (فيصل إبراهيم)
Saya tidak bohong kalau dia adalah anak emasnya guru-guru agama Islam. Katanya kalau dia bukan anak SCI, dialah yang menjadi Ketua Rohis (Rohani Islam) sekarang. Teman saya yang Rokris (Rohani Kristen) pernah menghitung berapa pengurus Rohis yang ada di kelas SCI kemudian berkata, “Kasihan ya, Rohis kehilangan.” Mungkin dipikirnya anak-anak SCI yang menjadi pengurus Rohis tidak bisa bekontribusi banyak, padahal setahu saya Faisal dan teman-teman yang lain rela pulang lebih sore dan datang ke sekolah saat hari libur.

7. Maxs Christian
Dia suka mengganggu kalau saya main othello bersama teman sebangku. Dia menunjukkan di mana sebaiknya saya menaruh potongan othello. Anehnya, saya menurut saja kalau disuruh. Saya jadi berpikir, yang main itu saya atau dia, ya? Kesannya saya hanya robot.

8. Rohendy Michael (Nainggolan)
Dia ketua kelas abadi. Dari awal sampai akhir menjadi Ketua Kelas SCI. Pernah suatu hari dia mengundurkan diri. Dilakukanlah voting. “Siapa yang setuju Rohendy mengundurkan diri tunjuk tangan!” Tak ada satu pun. “Siapa yang setuju Rohendy jadi ketua kelas tunjuk tangan!” Semua mengangkat tangannya. Mutlak, dia melanjutkan tugasnya sebagai ketua kelas.

9. Setiawan Saputra
Dia adalah orang paling santai di antara teman sekelas. Menurut saya sih begitu. Apa pun yang terjadi, biarlah. “Waduh, besok ada agama!” begitu kata saya ketika menatap jadwal ujian. “Agama doang,” ujarnya. Setelah itu saya tanya ke teman yang seagama dengannya, “Enak aja! Agama tuh susah!”

10. Yangyang Suprianto (陰陽)
Dia teman saya dari semester satu. Penasihat Akademiknya pun sama dengan saya. Kalau pertemuan PA, PA saya selalu memuji-mujinya karena dia pintar. PA saya bangga mempunyai murid yang pintar. Saya jadi malas datang ke pertemuan PA. Memang susah jadi orang biasa.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Seserius Saat Kita Bercanda

Oke, mari kita lanjutkan perbincangan sebelumnya. Sekali lagi saya tekankan, pro dan kontra bukanlah kelompok yang mendukung atau menentang sesuatu. Bukan pula dua kelompok yang saling bermusuhan. Hanya saja… terkadang ada kabut tipis membatasi.

Namanya Michelle Josephine Gunawan. Saya pernah cerita ‘kan kalau ada anak baru. Nah, ini anak barunya meski sekarang tidak pantas untuk disebut anak baru. Sekolah lamanya adalah SMAK BPK Penabur 1 Jakarta, akrab dipanggil SMUKI. Dulu, saya pernah membaca peringkat SMA se-Indonesia di salah satu situs. Saya tidak tahu jurnal itu diterbitkan tahun berapa, tapi yang jelas SMUKI menduduki peringkat pertama.

Yah, mungkin pilihannya untuk pindah sekolah terlihat tidak masuk akal. Tapi pasti dia ada pertimbangan lain. Katanya, dia ingin lulus lebih cepat supaya kuliah lebih cepat. Alasan yang sangat umum ketika seseorang ditanya mengapa ia ingin masuk kelas akselerasi.

Di sebelah Michelle, ada Kezia Jessica. Kata orang sih, ratu bioskop. Sampai ada teman saya yang berkata, “Kezia itu sukaaaa banget sama nonton. Kalau mau tahu tentang jadwal 21 gak usah capek-capek buka website-nya. Tinggal SMS aja ke Kezia, ‘Key hari ini jadwal nonton apa aja, ya?'”

Di depannya, ada Eka Henny Suryani (Henny Adina Joyodiningrat). Teman sebangku saya di pelajaran agama. Orangnya baik, enak diajak mengobrol. *Lho, bukannya belajar malah ngobrol* Memang sih, dia agak bawel, tapi berhubung saya tidak pernah dibaweli… ya sudahlah.

Di sebelah Henny ada Jessica Sariana. Namanya mirip dengan yang namanya yang kedua itu. Dia polos serta suka mengalah. Saya heran kenapa dia suka memakai prinsip kalah/ menang padahal ada menang/ menang. Kalau kami bertemu, kami suka berbicara sesuatu yang sangat tidak penting.

Jessica: Hai, Latansa!
Latansa: Hai, Jessica! Lama tidak bertemu.
Jessica: Iya, kita sudah lama tidak ngobrol bareng.
Latansa: Padahal baru beberapa menit yang lalu kita di ruangan yang sama.
Jessica: Tapi rasanya seperti berbulan-bulan yang lalu.
Latansa: Iya, betul sekali.
Jessica: Kok kita jadi kayak orang aneh gini ya.
Latansa: Hah? Kita?

Begitulah, percakapan selalu diawali dan diakhiri dengan sesuatu yang tidak jelas.

Mengapa saya memakai pedoman tempat duduk? Karena mereka selalu duduk dengan posisi seperti itu kecuali pelajaran agama. Selain mereka, ada sepasang perempuan yang saya menyebutnya kelompok netral. Mereka selalu duduk sebangku kecuali salah satu dari mereka sakit meski lebih sering keduanya sakit di hari yang sama. Apalagi yang menjadi ciri khas, mereka selalu duduk di belakang pada kelas apa pun. Bahkan ketika kelas hanya berisi sepuluh orang atau kurang, mereka tetap duduk di paling belakang. Pada kenyataannya, jika jumlah murid sepuluh atau kurang, mereka duduk di barisan paling depan. Namun karena di belakang mereka hanyalah udara yang duduk di kursi, bolehlah kita menyebutnya duduk di paling belakang.

Salah satu dari mereka bernama Anindia Aulia Indraswari (انينديا أوليا يندراسواري). Dia adalah orang yang paling saya kenal sebelum masuk ke SCI. Mungkin kami juga berkenalan di Klub Bahasa Inggris, entahlah. Apa pun itu, tiap hari dia mengajak saya shalat dhuha. Pemikiran-pemikirannya menyegarkan dan penuh filosofi. Contohnya: “Andai kamu karbon, saya akan sangat berharap menjadi hidrogen. Mari kita jalin ikatan kovalen. 🙂 *Mentang-mentang baru belajar kimia karbon.*”

Maka di sebelahnya tentu saja Kamila Auliarahma Widyanto (كاميلا أوليا رحمة ويديانتو). Tuh kan, nama tengahnya saja sama. Ternyata mereka telah sebangku dari semester satu. APA?! Saya sering menginap di kost-an Kamila. Maklum, kadang saya malas pulang ke rumah. Pulang itu makan waktu, makan tenaga, makan pikiran, sayangnya tidak kenyang-kenyang.

Puisinya bagus. Contohnya:
aku ada, seperti kamu diada-adakan
kamu ada? sepertinya aku mengada-ada

Dari awal masuk SCI hingga saat ini, saya suka bersama kelompok netral. Selalu ada makna yang lebih sekadar untuk diambil hikmahnya tapi juga bisa untuk ditertawakan. Cuma mereka yang mengerti candaan saya. Menurut mereka, candaan saya itu bikin capek karena harus mikir dulu. Mungkin hidup seserius saat kita bercanda.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Pro (Perempuan) Bagian Dua

Ini lanjutan dari sebelumnya.Kalau di sini, tidak ditulis nama Tionghoanya karena saya tidak hafal. Paling-paling marga atau nama baptis, itu pun juga beberapa.Ayo lanjuuut.

Namanya Grace Anastasia (Karyadi). Rambutnya pendek dan suka pakai gel laki-laki, sepintas mirip cewek tomboy tapi sebenarnya biasa saja. Kata orang, dia tukang isengin orang. Seingat saya, keisengan yang pernah dia lakukan terhadap saya hanya mencipratkan air wastafel ke muka saya. Anggap saja dia orang yang kehilangan masa kecilnya dikarenakan usianya paling muda di antara teman-teman sekelas yang lain.

Dia adalah orang pertama yang mengajak saya berkenalan di 78. Kami bertemu di Ruang A sewaktu daftar ulang. Ruang A itu tempat anak-anak peringkat teratas, 1-90. Saya memerhatikan baik-baik wajah orang-orang yang luar biasa itu. Berhubung saya peringkat 80-an, saya bukan orang yang luar biasa. Saya duduk di barisan nomor dua dari belakang, sedangkan Grace di depan saya. Ia memakai kaus putih dan celana jins.

Senang ketika di semester dua, kami sekelas. Dia menceritakan ke teman-teman yang lain kalau saya orang pertama yang dikenalnya di 78. Katanya, “Gue waktu itu sampe minta nomor HP-nya Tanza.”

Beginilah kronologis pertemuan pertama versinya.

“Waktu itu ‘kan dia di belakang gue. Trus gue bilang kalau gue dari Pelita II.
Gue: NEM kamu berapa?
Latansa: 36,05
Gue: Di sekolah kamu yang NEM-nya paling tinggi berapa?
Latansa: 36,05
Gue: Berarti kamu, dong!
Latansa: Hehe, iya.
Gue kesel waktu itu, kenapa si Tanza nggak bilang kalau dia yang paling tinggi.”

Sebenarnya, pulang dari pertemuan itu saya mencari namanya di Facebook tapi tidak ketemu. Saya terus mencari namanya sebulan kemudian, dua bulan kemudian, tiga bulan kemudian, namun tetap tidak ketemu. Oh ya, beberapa kali kami berpapasan di jalan. Ingin saya menyapanya tapi suara saya tertahan di bibir. Dia juga hanya melihat saya, tak bersuara sedikit pun. Mungkin keadaan yang sama juga dialaminya.

Setahun kemudian, saya makin mengenalnya sebagai orang yang berprinsip. Dia manganut aliran Saksi Jehovah karena pilihannya sendiri. Dia bercerita ke teman-teman kalau Konsep Tritunggal itu salah. Biarlah. Sekedar info, dia itu memang tidak membuat akun Facebook. Ya, karena dia memang orang yang berprinsip. Dia takut dia menjadi ketergantungan dan ‘harus’ rajin-rajin membuka Facebook. Pantas saja dicari tidak ketemu.

Selanjutnya ada Gisela Vania Aline (Matondang). Orang yang paling pintar fisika. Rambutnya keriting kulitnya coklat, kontras dengan yang lain (rambut lurus kulit putih).Dia sebangku dengan Grace.

Pertama kali dia menginjakkan kakinya di sekolah kami, dia pikir dia membuat keputusan yang salah. Situasi tampak seperti kesalahan besar sehingga dia lebih suka membuat dirinya sebagai sesuatu yang tak terlihat. Tidak ada yang terasa nyaman baginya. Dia menghabiskan semester pertama dia di kesia-siaan, dia tentu tidak memiliki gairah.

Jadi dia tiba ke semester kedua dan dia memilih untuk menjadi bagian dari kelas ini. Dan bahkan walau kami punya banyak PR dan ulangan, dia benar-benar merasa tidak mendapat kualitas pendidikan yang benar-benar baik.

Jangan pikir itu salah, tapi kamu harus tahu bahwa dia sudah berada di lingkungan kompetitif selama bertahun-tahun dan itu telah berhasil membuat dia sebagai orang ambisiusnya tidak rasional. Percayai Grace ketika dia mengatakan bahwa Gisel sering membandingkan diri dengan orang lain (terutama kakaknya) dan menjadi tidak puas dengan kehidupannya sendiri. Dia selalu memikirkan jam padat sekolah dengan banyak PR yang membuatnya tidur kurang dari enam jam sehari. Untuk kamu tahu siapa sebenarnya, dia meletakkan prestasi di atas segalanya (oh ya, dia sudah melakukannya). Kedengarannya seperti seorang siswa yang ideal, tapi bukan seperti itu ketika kamu menempatkan kualitas hidup kamu terlalu banyak untuk itu. Kamu tahu karena apa? Di tahun ini, dia telah belajar bahwa dunia lebih besar dari sebuah bangunan yang disebut sekolah dan hidup lebih dari sekedar suatu sistem mencapai prestasi.

Orang cerdas selanjutnya adalah (Veronika) Fabiola Kristi. IPK-nya nol koma nol sekian lebih tinggi dibanding Gisel. Saya juga melihat anak ini di Ruang A. Dia duduk di kolom yang sama dengan saya dan Grace, tapi dia paling depan. Tadinya saya tidak tahu siapa namanya. Saya hanya mengingat-ingat wajahnya.

Mungkin perkenalan pertama kami terjadi di Klub Bahasa Inggris. Entahlah, saya tidak ingat. Yang jelas, setelah dia tahu nama saya, dia selalu menyapa saya setiap kami berpapasan. Terkadang dia bersama Grace, itu membuat saya tidak enak kalau hanya menyapa Fabi.

Ketika kami bertukar ruangan, dia pernah meminta saya menaruh botol minumnya di meja paling depan sebagai bukti bahwa meja paling depan sudah ada yang mengambil. Suatu hal yang ganjil bagi saya, karena saya terbiasa leluasa menaruh tas di meja paling depan di kelas apa pun. Mungkin ia juga menderita ambisius yang tidak rasional.

Saya menyaksikan sendiri ketika PA-nya menyebutkan IP-nya karena saya tidak sengaja melewati ruangan pertemuan dengan PA-nya. Saat itu IP-nya paling tinggi di angkatan kami. Senyum mengembang di wajahnya. Tanpa harus kutebak lagi, di semester berikutnya ia masuk kelas SCI.

Orang yang biasa duduk di sebelah Fabi adalah Elcha (Leonard). Dia orang yang rajin dan baik hati. Dalam suatu forum, ketika ada pertanyaan ‘Apa yang Latansa tidak sukai dari Elcha?’ Saya menjawab, “Dia suka minta maaf, padahal lebih sering seharusnya gue yang minta maaf. Dan lebih sering lagi, dia minta maaf untuk hal-hal sepele. Tahu nggak, gue suka capek ngadepinnya.”

Saya rasa, Elcha memiliki bakat menulis yang sangat baik. Selain itu biologinya juga bagus. Cita-citanya menjadi dokter. Saya membayangkan kalau di masa depan nanti dia kan menjadi dokter sekaligus penulis. Ketika pasiennya perlu diobati, dia berkata, “Maaf ya, Bu. Tahan dulu sakitnya. Saya ingin menyelesaikan tulisan saya yang tenggat waktunya tinggal beberapa jam lagi. Maaf ya, Bu.” Ah, tapi sepertinya dia tidak sejahat itu.

Sebelum yang terakhir, ada Emmanuella Hartono (Salim). Darinya, saya belajar banyak hal. Saya bisa memainkan permainan anak SD zaman dahulu karena dia. Walau saya baru bisa ketika SMA, saya merasa senang. Seingat saya, ketika SD saya juga berada di lingkungan kompetitif. Orang-orangnya menderita ambisius yang tidak rasional sehingga tidak sempat untuk bermain. Kalaupun mereka sempat bermain, biasanya saya hanya menjadi anak bawang atau penonton.

Dia orang yang pertama kali mengajak kenalan di kelas SCI. Saya masih ingat ucapannya, “Hai, nama gue Emmanuella. Biasa dipanggil Emma.” Kemudian dia menyalami saya dan saya mengucapkan nama saya.

Orang yang terakhir dalam kelompok Pro (perempuan) ini adalah saya (لا ننسى عزة الدين ). Karena kamu sudah tahu siapa saya, agaknya tak perlu saya tulis lagi.

Terima kasih.

Baca juga:
Pro (Perempuan) Bagian Satu

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Pro (Perempuan) Bagian Satu

“wahahaha eh yg lain bikin kaya ginian juga doong sekelas aja bikin XD” –Absen 17

Untuk memudahkan saya menulis tentang teman-teman sekelas, saya tidak menggunakan urutan abjad. Saya agak bingung mau menulis apa tentang yang laki-laki karena tidak dekat dengan mereka. Akhirnya, saya memutuskan untuk membaginya dalam beberapa bagian, supaya yang laki-laki bisa dipikirkan belakangan.

Menurut teman bergaul sehari-harinya, dibagi menjadi dua bagian, yaitu laki-laki dan perempuan. Masing-masing dibagi menjadi tiga kelompok, pro, kontra, dan netral. Saya sebenarnya juga tidak tahu mereka pro atau kontra terhadap apa, tapi yang jelas antara pro dan kontra jarang main bersama. Meski begitu, tidak ada pembatasan yang nyata antara kelompok-kelompok tersebut.

Kelompok pertama yaitu pro (perempuan). Terdiri dari sepuluh orang.

Entah kesambet apa, Citra Hafilah Shabrina (سيطرة حافلة صابرين) memilih jurusan IPA, SCI–yang orang-orang biasa bilang kelas akselerasi. Saya pertama kali mengenalnya di Tafakur Alam, beberapa pekan sebelum masuk kelas akselerasi. Saya senang karena ada anggota Rohis Muda yang masuk SCI juga.

Dia menganggap saya imut, sehingga saya diangkat jadi anaknya. Semua orang yang dia anggap imut diangkat menjadi anak. Dia suka mengaku-ngaku bersuami Jung Yun Ho (정윤호, 鄭允浩), seorang artis Korea. Padahal Yun Ho tidak kenal dengan Mak (saya memanggilnya begitu). Kadang-kadang saya kasihan sama dia.

Salah satu peraih predikat rajin adalah Ayu Diar Sari (أيو ديار ساري). Yang bukan PR suka dijadikan PR sama dia. Buku agendanya penuh, padahal saya kalau melihat agenda saya diisi lebih dari tiga saja sudah pusing. Lalu saya berpikir, ‘Untung ya, buku agenda itu bukan punyaku.’

Pernah suatu hari, saya dengan beberapa teman yang lain bermain, ‘Seberapa Famous-kah Anda?’ Cara menjawabnya dengan menulis nama di mesin pencari Google. Lalu, fakta yang kami temukan yaitu Ayu adalah seorang anak pandai dari daerah yang masuk SMA Negeri Unggulan di Jakarta. Saya jadi minder, nih.

Ada teman yang suka dicap jahat, padahal menurut saya dia tidak jahat. Dia menganut paham ‘Katakanlah Kebenaran Meski Itu Pahit’ walau terkadang pengaplikasiannya salah. Dia selalu mengatakan karya seni saya jelek. Teman-teman yang mendengarnya berkata, “Aduh, kasihan sekali nasib lu, Latansa. Ketika yang lain melakukan kesalahan, lu bilang ‘Gak pa-pa kok, gak pa-pa.’ Tapi kalau lu yang bikin kesalahan selalu disalahin. Ckckck…”

Namanya Siti Martina Meliana (binti) Maryono Soedibyo (马闯江). Teman sebangku saya yang pertama kali mengenalnya di kelas matematika saat semester satu. Saya pernah datang ke rumahnya yang sangat religius. Di dinding kanan ada gambar Ka’bah. Di sebelahnya ada kalender dari Paroki Santo Kristoforus. Ke kiri sedikit, ada altar lengkap dengan foto buyut. Di bagian kiri, ada rak besar yang berisi Patung Dewi Kwan In dan Buddha Maitreya. Rumah yang mewakili kepercayaan setiap penghuninya.

Kemudian ada Mery (林美利), juga saya kenal dari kelas matematika. Orang yang bingung mau masuk fakultas dan jurusan apa yang penting ITB. Paling anti jadi guru, padahal banyak pelajaran yang baru saya mengerti setelah diajarkan dia. Katanya kalau jadi guru itu tidak enak, suka dibicarakan muridnya. Saya tertawa ketika seorang psikolog yang memeriksa hasil psikotesnya mengatakan, “Mery, kamu anak yang berbakat dalam hitung-hitungan. Cocok masuk Jurusan Matematika. Tapi kalau kamu tidak rajin, bisa-bisa kamu jadi guru.”

Bersambung…

_______________
Saya baru ingat kalau pagi ini ada janji. Tidur dulu ah.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Pendahuluan

Sebenarnya, tadi saya mau menulis tentang anak-anak SCI beserta kelebihannya. Namun karena ada satu dan lain hal, proses penulisan ini tertunda. Ketika saya ingin menulis, jam menunjukkan hampir pukul dua belas malam.Harap bersabar.

*Aduh, bentar lagi lulus. IPA atau IPC ya?

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Pelajaran Sejarah

Hari ini saya menghadiri sebuah pelajaran sejarah yang sangat menarik. Penjelasannya membuat saya dapat membayangkan apa sebenarnya yang terjadi pada zaman dahulu. Tak pernah sebelumnya saya menghadiri kelas sejarah yang pengajarnya diberikan aplaus berkali-kali.

Beliau kepala sekolah kami yang baru. Pindahan dari SMAN 85. Kalau dibandingkan kepala sekolah yang sebelumnya, tingginya lebih rendah sedikit. Wajahnya mirip Pak Petrus—salah seorang guru—tapi kulit dan rambutnya lebih putih.

Kejadian itu bukan terjadi di ruangan, tapi di lapangan upacara. Beliau menyampaikan amanat upacara. “Pembina upacara menyampaikan amanat upacara,” begitu ucap protokol. Kepala sekolah mengeluarkan kertas dari sakunya. Aih, itu berlembar-lembar! Firasat saya mengatakan itu baru ringkasannya. Dan ternyata… benar.

Amanat dibuka dengan kata-kata yang membosankan untuk didengar, seakan-akan otak saya memerintahkan kepada telinga, “Wahai telinga, jangan buang-buang energi dengan mendengarkan ocehan itu. Saya sebagai otak yang hebat menjamin kalau saya hapal peristiwa itu di luar kepala!” Padahal saya tidak yakin otak saya masih mengingatnya.

Tapi coba lihat ketika beliau melanjutkannya, “… setelah terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, penggantinya, Mayor Jenderal Robert Mansergh mengeluarkan ultimatum yang menyebutkan bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas. Seperti ini.” Beliau menyatukan jemari kanan ke jemari kiri lalu menaruhnya di belakang kepala. Beliau tampak lucu. Semua tertawa. Tepuk tangan meriah.

“Ya, itu tadi garis besarnya. Sekarang saya akan menjelaskan kronologis peristiwanya …” APA!

Oke, saya memerintahkan otak saya untuk tidak semena-mena mengatur anggota tubuh saya. Lalu saya memperhatikan amanat. “… NICA (Netherlands Indies Civil Administration) ikut membonceng bersama rombongan tentara Inggris untuk tujuan tersebut. Hal ini memicu gejolak rakyat Indonesia dan memunculkan pergerakan perlawanan rakyat Indonesia di mana-mana melawan tentara AFNEI dan pemerintahan NICA. Zuuum… dum! Dum! Dum!” Beliau menirukan suara granat-granat yang dijatuhkan. Semua tertawa. Tepuk tangan meriah.

“… tak lama setelah mengumpulnya massa tersebut, Residen Sudirman, pejuang dan diplomat yang saat itu menjabat sebagai Wakil Residen (Fuku Syuco Gunseikan) yang masih diakui pemerintah Dai Nippon Surabaya Syu, sekaligus sebagai Residen Daerah Surabaya Pemerintah RI, datang melewati kerumunan massa lalu masuk ke hotel Yamato dikawal Sidik dan Hariyono. Sebagai perwakilan RI dia berunding dengan Mr. Ploegman dan kawan-kawannya dan meminta agar bendera Belanda segera diturunkan dari gedung Hotel Yamato. Kemudian Ploegman berkata, ‘Tidak, kami tidak akan menurunkan bendera Belanda! Indonesia itu tidak ada! Tidak ada! …’” Kalimat-kalimat yang diucapkan cukup panjang. Saya tidak dapat mendengar dengan jelas karena dialog tersebut diucapkan kepala sekolah dengan logat Belanda. Menarik. Tepuk tangan meriah.

“… perundingan berlangsung memanas, Ploegman mengeluarkan pistol, dan terjadilah perkelahian dalam ruang perundingan. Ploegman tewas dicekik oleh Sidik.” Beliau mencekik lehernya, “Kreeek…” Lalu kepalanya miring ke kanan. Diam sejenak dengan mata melotot dan mulut menganga. Kemudian kembali normal. Adegan pencekikan yang seru. Tepuk tangan meriah.

Saya melirik ke guru sejarah, beliau tersenyum. Mungkin pikirnya, “Wah, ternyata Pak Kepsek jago sejarah!”

“… di luar hotel, para pemuda yang mengetahui berantakannya perundingan tersebut langsung merangsek masuk ke Hoteru Yamato. Mereka mendobrak pintunya.” Beliau mengangkat kaki kanan lalu menendang udara, “Hyaaat! Brak!” Tepuk tangan meriah.

Untuk beberapa jenak saya tidak lagi mendengarkan amanat. Saya tertarik untuk mendengarkan obrolan siswa-siswi. Seorang siswa berbisik, “Dhes, dengerin! Habis ini ulangan. Hehe.“

“… di luar dugaan pihak Inggris yang menduga bahwa perlawanan di Surabaya bisa ditaklukkan dalam tempo tiga hari, para tokoh masyarakat seperti pelopor muda Bung Tomo yang berpengaruh besar di masyarakat terus menggerakkan semangat perlawanan pemuda-pemuda Surabaya sehingga perlawanan terus berlanjut di tengah serangan skala besar Inggris.” Beliau mengepalkan tinju ke langit, “Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Indonesia Merdeka! Merdeka!” Serentak para peserta berteriak, “Merdeka!” Tepuk tangan meriah.

Betapa hatiku takkan pilu
Telah gugur pahlawanku
Betapa hatiku takkan sedih
Hamba ditinggal sendiri

Tepat setelah amanat, lagu Gugur Bunga dikumandangkan. Syahdu nan merdu. Suara yang sama dengan paduan suara istana saat upacara kemerdekaan. Jelas saja, yang menyanyikan adalah kelompok paduan suara yang sama.

***
Siangnya, teman saya berkata, “Dengan dia bertingkah seperti itu, kan wibawanya langsung jatuh.” Oh, ya? Lebih penting mana, wibawa atau pewarisan sejarah? Tak usah dijawab.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Ada Gak Burung yang Bisa Terbang Mundur?

Pernahkah kamu melihat burung kolibri? Burung ini tergolong istimewa karena memiliki kelebihan dari burung lainnya. Kolibri adalah burung yang dapat terbang mundur dan memiliki kecepatan gerak yang luar biasa.

Situs DailyMail melaporkan, Kamis (11/6), kolibri dapat terbang dengan kecepatan 50 kilometer/jam (km/jam). Menurut para peneliti, ini adalah hal yang luar biasa mengingatukuran kolibri hanya sepanjang 12 sentimeter. Jika kolibri berukuran sama dengan sebuah mobil Ford Fiesta yang berukuran 3 meter, maka ia bisa melesat sejauh 2.171 km/jam!

Saat menukik, kolibri harus memutar sayapnya. Kecepatan putarannya mencapai 1.000 putaran. Saat itu, pembakaran energi yang dikeluarkan 400 kali lipat dari energi yang dikeluarkan manusia. Pada manusia, kondisi itu dapat membuat tubuh terbakar karena terlalu panas.

Leave a comment

Filed under Uncategorized