Pelajaran Sejarah

Hari ini saya menghadiri sebuah pelajaran sejarah yang sangat menarik. Penjelasannya membuat saya dapat membayangkan apa sebenarnya yang terjadi pada zaman dahulu. Tak pernah sebelumnya saya menghadiri kelas sejarah yang pengajarnya diberikan aplaus berkali-kali.

Beliau kepala sekolah kami yang baru. Pindahan dari SMAN 85. Kalau dibandingkan kepala sekolah yang sebelumnya, tingginya lebih rendah sedikit. Wajahnya mirip Pak Petrus—salah seorang guru—tapi kulit dan rambutnya lebih putih.

Kejadian itu bukan terjadi di ruangan, tapi di lapangan upacara. Beliau menyampaikan amanat upacara. “Pembina upacara menyampaikan amanat upacara,” begitu ucap protokol. Kepala sekolah mengeluarkan kertas dari sakunya. Aih, itu berlembar-lembar! Firasat saya mengatakan itu baru ringkasannya. Dan ternyata… benar.

Amanat dibuka dengan kata-kata yang membosankan untuk didengar, seakan-akan otak saya memerintahkan kepada telinga, “Wahai telinga, jangan buang-buang energi dengan mendengarkan ocehan itu. Saya sebagai otak yang hebat menjamin kalau saya hapal peristiwa itu di luar kepala!” Padahal saya tidak yakin otak saya masih mengingatnya.

Tapi coba lihat ketika beliau melanjutkannya, “… setelah terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, penggantinya, Mayor Jenderal Robert Mansergh mengeluarkan ultimatum yang menyebutkan bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas. Seperti ini.” Beliau menyatukan jemari kanan ke jemari kiri lalu menaruhnya di belakang kepala. Beliau tampak lucu. Semua tertawa. Tepuk tangan meriah.

“Ya, itu tadi garis besarnya. Sekarang saya akan menjelaskan kronologis peristiwanya …” APA!

Oke, saya memerintahkan otak saya untuk tidak semena-mena mengatur anggota tubuh saya. Lalu saya memperhatikan amanat. “… NICA (Netherlands Indies Civil Administration) ikut membonceng bersama rombongan tentara Inggris untuk tujuan tersebut. Hal ini memicu gejolak rakyat Indonesia dan memunculkan pergerakan perlawanan rakyat Indonesia di mana-mana melawan tentara AFNEI dan pemerintahan NICA. Zuuum… dum! Dum! Dum!” Beliau menirukan suara granat-granat yang dijatuhkan. Semua tertawa. Tepuk tangan meriah.

“… tak lama setelah mengumpulnya massa tersebut, Residen Sudirman, pejuang dan diplomat yang saat itu menjabat sebagai Wakil Residen (Fuku Syuco Gunseikan) yang masih diakui pemerintah Dai Nippon Surabaya Syu, sekaligus sebagai Residen Daerah Surabaya Pemerintah RI, datang melewati kerumunan massa lalu masuk ke hotel Yamato dikawal Sidik dan Hariyono. Sebagai perwakilan RI dia berunding dengan Mr. Ploegman dan kawan-kawannya dan meminta agar bendera Belanda segera diturunkan dari gedung Hotel Yamato. Kemudian Ploegman berkata, ‘Tidak, kami tidak akan menurunkan bendera Belanda! Indonesia itu tidak ada! Tidak ada! …’” Kalimat-kalimat yang diucapkan cukup panjang. Saya tidak dapat mendengar dengan jelas karena dialog tersebut diucapkan kepala sekolah dengan logat Belanda. Menarik. Tepuk tangan meriah.

“… perundingan berlangsung memanas, Ploegman mengeluarkan pistol, dan terjadilah perkelahian dalam ruang perundingan. Ploegman tewas dicekik oleh Sidik.” Beliau mencekik lehernya, “Kreeek…” Lalu kepalanya miring ke kanan. Diam sejenak dengan mata melotot dan mulut menganga. Kemudian kembali normal. Adegan pencekikan yang seru. Tepuk tangan meriah.

Saya melirik ke guru sejarah, beliau tersenyum. Mungkin pikirnya, “Wah, ternyata Pak Kepsek jago sejarah!”

“… di luar hotel, para pemuda yang mengetahui berantakannya perundingan tersebut langsung merangsek masuk ke Hoteru Yamato. Mereka mendobrak pintunya.” Beliau mengangkat kaki kanan lalu menendang udara, “Hyaaat! Brak!” Tepuk tangan meriah.

Untuk beberapa jenak saya tidak lagi mendengarkan amanat. Saya tertarik untuk mendengarkan obrolan siswa-siswi. Seorang siswa berbisik, “Dhes, dengerin! Habis ini ulangan. Hehe.“

“… di luar dugaan pihak Inggris yang menduga bahwa perlawanan di Surabaya bisa ditaklukkan dalam tempo tiga hari, para tokoh masyarakat seperti pelopor muda Bung Tomo yang berpengaruh besar di masyarakat terus menggerakkan semangat perlawanan pemuda-pemuda Surabaya sehingga perlawanan terus berlanjut di tengah serangan skala besar Inggris.” Beliau mengepalkan tinju ke langit, “Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Indonesia Merdeka! Merdeka!” Serentak para peserta berteriak, “Merdeka!” Tepuk tangan meriah.

Betapa hatiku takkan pilu
Telah gugur pahlawanku
Betapa hatiku takkan sedih
Hamba ditinggal sendiri

Tepat setelah amanat, lagu Gugur Bunga dikumandangkan. Syahdu nan merdu. Suara yang sama dengan paduan suara istana saat upacara kemerdekaan. Jelas saja, yang menyanyikan adalah kelompok paduan suara yang sama.

***
Siangnya, teman saya berkata, “Dengan dia bertingkah seperti itu, kan wibawanya langsung jatuh.” Oh, ya? Lebih penting mana, wibawa atau pewarisan sejarah? Tak usah dijawab.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s