Pro (Perempuan) Bagian Satu

“wahahaha eh yg lain bikin kaya ginian juga doong sekelas aja bikin XD” –Absen 17

Untuk memudahkan saya menulis tentang teman-teman sekelas, saya tidak menggunakan urutan abjad. Saya agak bingung mau menulis apa tentang yang laki-laki karena tidak dekat dengan mereka. Akhirnya, saya memutuskan untuk membaginya dalam beberapa bagian, supaya yang laki-laki bisa dipikirkan belakangan.

Menurut teman bergaul sehari-harinya, dibagi menjadi dua bagian, yaitu laki-laki dan perempuan. Masing-masing dibagi menjadi tiga kelompok, pro, kontra, dan netral. Saya sebenarnya juga tidak tahu mereka pro atau kontra terhadap apa, tapi yang jelas antara pro dan kontra jarang main bersama. Meski begitu, tidak ada pembatasan yang nyata antara kelompok-kelompok tersebut.

Kelompok pertama yaitu pro (perempuan). Terdiri dari sepuluh orang.

Entah kesambet apa, Citra Hafilah Shabrina (سيطرة حافلة صابرين) memilih jurusan IPA, SCI–yang orang-orang biasa bilang kelas akselerasi. Saya pertama kali mengenalnya di Tafakur Alam, beberapa pekan sebelum masuk kelas akselerasi. Saya senang karena ada anggota Rohis Muda yang masuk SCI juga.

Dia menganggap saya imut, sehingga saya diangkat jadi anaknya. Semua orang yang dia anggap imut diangkat menjadi anak. Dia suka mengaku-ngaku bersuami Jung Yun Ho (정윤호, 鄭允浩), seorang artis Korea. Padahal Yun Ho tidak kenal dengan Mak (saya memanggilnya begitu). Kadang-kadang saya kasihan sama dia.

Salah satu peraih predikat rajin adalah Ayu Diar Sari (أيو ديار ساري). Yang bukan PR suka dijadikan PR sama dia. Buku agendanya penuh, padahal saya kalau melihat agenda saya diisi lebih dari tiga saja sudah pusing. Lalu saya berpikir, ‘Untung ya, buku agenda itu bukan punyaku.’

Pernah suatu hari, saya dengan beberapa teman yang lain bermain, ‘Seberapa Famous-kah Anda?’ Cara menjawabnya dengan menulis nama di mesin pencari Google. Lalu, fakta yang kami temukan yaitu Ayu adalah seorang anak pandai dari daerah yang masuk SMA Negeri Unggulan di Jakarta. Saya jadi minder, nih.

Ada teman yang suka dicap jahat, padahal menurut saya dia tidak jahat. Dia menganut paham ‘Katakanlah Kebenaran Meski Itu Pahit’ walau terkadang pengaplikasiannya salah. Dia selalu mengatakan karya seni saya jelek. Teman-teman yang mendengarnya berkata, “Aduh, kasihan sekali nasib lu, Latansa. Ketika yang lain melakukan kesalahan, lu bilang ‘Gak pa-pa kok, gak pa-pa.’ Tapi kalau lu yang bikin kesalahan selalu disalahin. Ckckck…”

Namanya Siti Martina Meliana (binti) Maryono Soedibyo (马闯江). Teman sebangku saya yang pertama kali mengenalnya di kelas matematika saat semester satu. Saya pernah datang ke rumahnya yang sangat religius. Di dinding kanan ada gambar Ka’bah. Di sebelahnya ada kalender dari Paroki Santo Kristoforus. Ke kiri sedikit, ada altar lengkap dengan foto buyut. Di bagian kiri, ada rak besar yang berisi Patung Dewi Kwan In dan Buddha Maitreya. Rumah yang mewakili kepercayaan setiap penghuninya.

Kemudian ada Mery (林美利), juga saya kenal dari kelas matematika. Orang yang bingung mau masuk fakultas dan jurusan apa yang penting ITB. Paling anti jadi guru, padahal banyak pelajaran yang baru saya mengerti setelah diajarkan dia. Katanya kalau jadi guru itu tidak enak, suka dibicarakan muridnya. Saya tertawa ketika seorang psikolog yang memeriksa hasil psikotesnya mengatakan, “Mery, kamu anak yang berbakat dalam hitung-hitungan. Cocok masuk Jurusan Matematika. Tapi kalau kamu tidak rajin, bisa-bisa kamu jadi guru.”

Bersambung…

_______________
Saya baru ingat kalau pagi ini ada janji. Tidur dulu ah.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s