Pro (Perempuan) Bagian Dua

Ini lanjutan dari sebelumnya.Kalau di sini, tidak ditulis nama Tionghoanya karena saya tidak hafal. Paling-paling marga atau nama baptis, itu pun juga beberapa.Ayo lanjuuut.

Namanya Grace Anastasia (Karyadi). Rambutnya pendek dan suka pakai gel laki-laki, sepintas mirip cewek tomboy tapi sebenarnya biasa saja. Kata orang, dia tukang isengin orang. Seingat saya, keisengan yang pernah dia lakukan terhadap saya hanya mencipratkan air wastafel ke muka saya. Anggap saja dia orang yang kehilangan masa kecilnya dikarenakan usianya paling muda di antara teman-teman sekelas yang lain.

Dia adalah orang pertama yang mengajak saya berkenalan di 78. Kami bertemu di Ruang A sewaktu daftar ulang. Ruang A itu tempat anak-anak peringkat teratas, 1-90. Saya memerhatikan baik-baik wajah orang-orang yang luar biasa itu. Berhubung saya peringkat 80-an, saya bukan orang yang luar biasa. Saya duduk di barisan nomor dua dari belakang, sedangkan Grace di depan saya. Ia memakai kaus putih dan celana jins.

Senang ketika di semester dua, kami sekelas. Dia menceritakan ke teman-teman yang lain kalau saya orang pertama yang dikenalnya di 78. Katanya, “Gue waktu itu sampe minta nomor HP-nya Tanza.”

Beginilah kronologis pertemuan pertama versinya.

“Waktu itu ‘kan dia di belakang gue. Trus gue bilang kalau gue dari Pelita II.
Gue: NEM kamu berapa?
Latansa: 36,05
Gue: Di sekolah kamu yang NEM-nya paling tinggi berapa?
Latansa: 36,05
Gue: Berarti kamu, dong!
Latansa: Hehe, iya.
Gue kesel waktu itu, kenapa si Tanza nggak bilang kalau dia yang paling tinggi.”

Sebenarnya, pulang dari pertemuan itu saya mencari namanya di Facebook tapi tidak ketemu. Saya terus mencari namanya sebulan kemudian, dua bulan kemudian, tiga bulan kemudian, namun tetap tidak ketemu. Oh ya, beberapa kali kami berpapasan di jalan. Ingin saya menyapanya tapi suara saya tertahan di bibir. Dia juga hanya melihat saya, tak bersuara sedikit pun. Mungkin keadaan yang sama juga dialaminya.

Setahun kemudian, saya makin mengenalnya sebagai orang yang berprinsip. Dia manganut aliran Saksi Jehovah karena pilihannya sendiri. Dia bercerita ke teman-teman kalau Konsep Tritunggal itu salah. Biarlah. Sekedar info, dia itu memang tidak membuat akun Facebook. Ya, karena dia memang orang yang berprinsip. Dia takut dia menjadi ketergantungan dan ‘harus’ rajin-rajin membuka Facebook. Pantas saja dicari tidak ketemu.

Selanjutnya ada Gisela Vania Aline (Matondang). Orang yang paling pintar fisika. Rambutnya keriting kulitnya coklat, kontras dengan yang lain (rambut lurus kulit putih).Dia sebangku dengan Grace.

Pertama kali dia menginjakkan kakinya di sekolah kami, dia pikir dia membuat keputusan yang salah. Situasi tampak seperti kesalahan besar sehingga dia lebih suka membuat dirinya sebagai sesuatu yang tak terlihat. Tidak ada yang terasa nyaman baginya. Dia menghabiskan semester pertama dia di kesia-siaan, dia tentu tidak memiliki gairah.

Jadi dia tiba ke semester kedua dan dia memilih untuk menjadi bagian dari kelas ini. Dan bahkan walau kami punya banyak PR dan ulangan, dia benar-benar merasa tidak mendapat kualitas pendidikan yang benar-benar baik.

Jangan pikir itu salah, tapi kamu harus tahu bahwa dia sudah berada di lingkungan kompetitif selama bertahun-tahun dan itu telah berhasil membuat dia sebagai orang ambisiusnya tidak rasional. Percayai Grace ketika dia mengatakan bahwa Gisel sering membandingkan diri dengan orang lain (terutama kakaknya) dan menjadi tidak puas dengan kehidupannya sendiri. Dia selalu memikirkan jam padat sekolah dengan banyak PR yang membuatnya tidur kurang dari enam jam sehari. Untuk kamu tahu siapa sebenarnya, dia meletakkan prestasi di atas segalanya (oh ya, dia sudah melakukannya). Kedengarannya seperti seorang siswa yang ideal, tapi bukan seperti itu ketika kamu menempatkan kualitas hidup kamu terlalu banyak untuk itu. Kamu tahu karena apa? Di tahun ini, dia telah belajar bahwa dunia lebih besar dari sebuah bangunan yang disebut sekolah dan hidup lebih dari sekedar suatu sistem mencapai prestasi.

Orang cerdas selanjutnya adalah (Veronika) Fabiola Kristi. IPK-nya nol koma nol sekian lebih tinggi dibanding Gisel. Saya juga melihat anak ini di Ruang A. Dia duduk di kolom yang sama dengan saya dan Grace, tapi dia paling depan. Tadinya saya tidak tahu siapa namanya. Saya hanya mengingat-ingat wajahnya.

Mungkin perkenalan pertama kami terjadi di Klub Bahasa Inggris. Entahlah, saya tidak ingat. Yang jelas, setelah dia tahu nama saya, dia selalu menyapa saya setiap kami berpapasan. Terkadang dia bersama Grace, itu membuat saya tidak enak kalau hanya menyapa Fabi.

Ketika kami bertukar ruangan, dia pernah meminta saya menaruh botol minumnya di meja paling depan sebagai bukti bahwa meja paling depan sudah ada yang mengambil. Suatu hal yang ganjil bagi saya, karena saya terbiasa leluasa menaruh tas di meja paling depan di kelas apa pun. Mungkin ia juga menderita ambisius yang tidak rasional.

Saya menyaksikan sendiri ketika PA-nya menyebutkan IP-nya karena saya tidak sengaja melewati ruangan pertemuan dengan PA-nya. Saat itu IP-nya paling tinggi di angkatan kami. Senyum mengembang di wajahnya. Tanpa harus kutebak lagi, di semester berikutnya ia masuk kelas SCI.

Orang yang biasa duduk di sebelah Fabi adalah Elcha (Leonard). Dia orang yang rajin dan baik hati. Dalam suatu forum, ketika ada pertanyaan ‘Apa yang Latansa tidak sukai dari Elcha?’ Saya menjawab, “Dia suka minta maaf, padahal lebih sering seharusnya gue yang minta maaf. Dan lebih sering lagi, dia minta maaf untuk hal-hal sepele. Tahu nggak, gue suka capek ngadepinnya.”

Saya rasa, Elcha memiliki bakat menulis yang sangat baik. Selain itu biologinya juga bagus. Cita-citanya menjadi dokter. Saya membayangkan kalau di masa depan nanti dia kan menjadi dokter sekaligus penulis. Ketika pasiennya perlu diobati, dia berkata, “Maaf ya, Bu. Tahan dulu sakitnya. Saya ingin menyelesaikan tulisan saya yang tenggat waktunya tinggal beberapa jam lagi. Maaf ya, Bu.” Ah, tapi sepertinya dia tidak sejahat itu.

Sebelum yang terakhir, ada Emmanuella Hartono (Salim). Darinya, saya belajar banyak hal. Saya bisa memainkan permainan anak SD zaman dahulu karena dia. Walau saya baru bisa ketika SMA, saya merasa senang. Seingat saya, ketika SD saya juga berada di lingkungan kompetitif. Orang-orangnya menderita ambisius yang tidak rasional sehingga tidak sempat untuk bermain. Kalaupun mereka sempat bermain, biasanya saya hanya menjadi anak bawang atau penonton.

Dia orang yang pertama kali mengajak kenalan di kelas SCI. Saya masih ingat ucapannya, “Hai, nama gue Emmanuella. Biasa dipanggil Emma.” Kemudian dia menyalami saya dan saya mengucapkan nama saya.

Orang yang terakhir dalam kelompok Pro (perempuan) ini adalah saya (لا ننسى عزة الدين ). Karena kamu sudah tahu siapa saya, agaknya tak perlu saya tulis lagi.

Terima kasih.

Baca juga:
Pro (Perempuan) Bagian Satu

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s