Seserius Saat Kita Bercanda

Oke, mari kita lanjutkan perbincangan sebelumnya. Sekali lagi saya tekankan, pro dan kontra bukanlah kelompok yang mendukung atau menentang sesuatu. Bukan pula dua kelompok yang saling bermusuhan. Hanya saja… terkadang ada kabut tipis membatasi.

Namanya Michelle Josephine Gunawan. Saya pernah cerita ‘kan kalau ada anak baru. Nah, ini anak barunya meski sekarang tidak pantas untuk disebut anak baru. Sekolah lamanya adalah SMAK BPK Penabur 1 Jakarta, akrab dipanggil SMUKI. Dulu, saya pernah membaca peringkat SMA se-Indonesia di salah satu situs. Saya tidak tahu jurnal itu diterbitkan tahun berapa, tapi yang jelas SMUKI menduduki peringkat pertama.

Yah, mungkin pilihannya untuk pindah sekolah terlihat tidak masuk akal. Tapi pasti dia ada pertimbangan lain. Katanya, dia ingin lulus lebih cepat supaya kuliah lebih cepat. Alasan yang sangat umum ketika seseorang ditanya mengapa ia ingin masuk kelas akselerasi.

Di sebelah Michelle, ada Kezia Jessica. Kata orang sih, ratu bioskop. Sampai ada teman saya yang berkata, “Kezia itu sukaaaa banget sama nonton. Kalau mau tahu tentang jadwal 21 gak usah capek-capek buka website-nya. Tinggal SMS aja ke Kezia, ‘Key hari ini jadwal nonton apa aja, ya?'”

Di depannya, ada Eka Henny Suryani (Henny Adina Joyodiningrat). Teman sebangku saya di pelajaran agama. Orangnya baik, enak diajak mengobrol. *Lho, bukannya belajar malah ngobrol* Memang sih, dia agak bawel, tapi berhubung saya tidak pernah dibaweli… ya sudahlah.

Di sebelah Henny ada Jessica Sariana. Namanya mirip dengan yang namanya yang kedua itu. Dia polos serta suka mengalah. Saya heran kenapa dia suka memakai prinsip kalah/ menang padahal ada menang/ menang. Kalau kami bertemu, kami suka berbicara sesuatu yang sangat tidak penting.

Jessica: Hai, Latansa!
Latansa: Hai, Jessica! Lama tidak bertemu.
Jessica: Iya, kita sudah lama tidak ngobrol bareng.
Latansa: Padahal baru beberapa menit yang lalu kita di ruangan yang sama.
Jessica: Tapi rasanya seperti berbulan-bulan yang lalu.
Latansa: Iya, betul sekali.
Jessica: Kok kita jadi kayak orang aneh gini ya.
Latansa: Hah? Kita?

Begitulah, percakapan selalu diawali dan diakhiri dengan sesuatu yang tidak jelas.

Mengapa saya memakai pedoman tempat duduk? Karena mereka selalu duduk dengan posisi seperti itu kecuali pelajaran agama. Selain mereka, ada sepasang perempuan yang saya menyebutnya kelompok netral. Mereka selalu duduk sebangku kecuali salah satu dari mereka sakit meski lebih sering keduanya sakit di hari yang sama. Apalagi yang menjadi ciri khas, mereka selalu duduk di belakang pada kelas apa pun. Bahkan ketika kelas hanya berisi sepuluh orang atau kurang, mereka tetap duduk di paling belakang. Pada kenyataannya, jika jumlah murid sepuluh atau kurang, mereka duduk di barisan paling depan. Namun karena di belakang mereka hanyalah udara yang duduk di kursi, bolehlah kita menyebutnya duduk di paling belakang.

Salah satu dari mereka bernama Anindia Aulia Indraswari (انينديا أوليا يندراسواري). Dia adalah orang yang paling saya kenal sebelum masuk ke SCI. Mungkin kami juga berkenalan di Klub Bahasa Inggris, entahlah. Apa pun itu, tiap hari dia mengajak saya shalat dhuha. Pemikiran-pemikirannya menyegarkan dan penuh filosofi. Contohnya: “Andai kamu karbon, saya akan sangat berharap menjadi hidrogen. Mari kita jalin ikatan kovalen.🙂 *Mentang-mentang baru belajar kimia karbon.*”

Maka di sebelahnya tentu saja Kamila Auliarahma Widyanto (كاميلا أوليا رحمة ويديانتو). Tuh kan, nama tengahnya saja sama. Ternyata mereka telah sebangku dari semester satu. APA?! Saya sering menginap di kost-an Kamila. Maklum, kadang saya malas pulang ke rumah. Pulang itu makan waktu, makan tenaga, makan pikiran, sayangnya tidak kenyang-kenyang.

Puisinya bagus. Contohnya:
aku ada, seperti kamu diada-adakan
kamu ada? sepertinya aku mengada-ada

Dari awal masuk SCI hingga saat ini, saya suka bersama kelompok netral. Selalu ada makna yang lebih sekadar untuk diambil hikmahnya tapi juga bisa untuk ditertawakan. Cuma mereka yang mengerti candaan saya. Menurut mereka, candaan saya itu bikin capek karena harus mikir dulu. Mungkin hidup seserius saat kita bercanda.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s