Monthly Archives: December 2010

Absen Buat yang Sudah Bangun! 2

“Liburan ke mana? Diisi kegiatan apa/ total istirahat? Anyway get the best time for you.”

Liburan tinggal dua hari. Terbukti, liburan itu singkat. Saya mulai mengingat-ingat kembali apa saja yang sudah saya lakukan di liburan akhir tahun ini.
1. Menginap dengan Teman-Teman
Saya dan teman-teman menginap di tempat kost salah satu teman. Banyak yang kami bicarakan di sana. Mereka meminta saya untuk menuliskan tentang pembicaraan tersebut. Oke, ini sedang saya tuliskan (sudah, bukan?).
2. Menonton Orang Menonton Bola
Karena saya tidak suka menonton pertandingan sepak bola, saya sering pergi ke luar hanya untuk menonton orang-orang yang menonton bola di pinggir jalan. Jalan raya sangat lengang. Namun 15 menit usai pertandingan, jalan tiba-tiba ramai kemudian macet.
3. Mempanitiai Acara Tafakur Alam
Lumayan banyak dapat energi positif dari sini.
4. Ikut Try Out SIMAK UI
Entah kenapa, saya seperti tidak niat mengikuti ini. Mulai dari ketiduran di rumah karena tidak ingat ada try out, ikut yang IPA padahal saya mendaftar yang IPC, tidak bawa penghapus, hanya mengisi setengah dari jumlah soal itu pun asal-asalan, sampai buru-buru keluar karena sudah malas.
5. Menghadiri Seminar Qur’anic Generation
Salah seorang kawan bercerita kalau dia agak kecewa karena ustadnya tidak banyak ngomong tapi hanya menimpali cerita-cerita bintang tamu. Saya pun begitu. Padahal saya melihat peserta lain sangat senang karena ada Oki Setiana Dewi, Andi Arsyil Rahman Putra, dan Dude Herlino.
6. Jalan-Jalan dengan Keluarga
Kami hanya berkeliling dan makan es di malam hari. Sama dengan saya, keluarga tidak suka menonton bola. Kami melihat euforia orang-orang yang menonton bola sambil berpikir, “Semua berita membahas AFF. Hey, banyak hal yang harusnya lebih penting untuk diberitakan! Jangan-jangan karena luput dari perhatian kita, gayus nanti nonton final AFF tanggal 29 nanti, sadarlah Indonesiaku dari euforia sesaat ini!!”
7. Les
Awalnya saya kira, setelah masuk bimbel ini saya secara ajaib akan lulus UN dan diterima di PTN favorit. Ternyata saya dipaksa untuk rajin belajar, bahkan liburan sekolah pun ada jadwal. Amazing!
8. Ikut Dauroh Kader FORTRIS
Jujur saya tidak ingin menjadi anggota FORTRIS (Forum Silaturahmi Rohis), saya hanya ingin ikut acaranya. Saya kasihan dengan saudara yang saya ‘tarik’ untuk ikut acara ini. Dari jauh, saya melihat ada orang yang terseok-seok berjalan seperti orang yang sudah berjalan jauh karena tersesat. Kaget juga waktu tahu itu siapa. “Bener-bener di luar bayangan saya sebelum datang acara ini,” ujarnya. Yang sabar ya.
9. Main ke Multiply
“Wah, Latansa sekarang benar-benar sudah jarang OL ya? Citra nggak pernah lihat Latansa lagi!” ucap Mak. Maunya sih selama liburan ini dipuas-puasin untuk ber-Multiply karena saya tahu nantinya akan lebih sering lagi puasa online. Namun jadinya …

Pokoknya saya senang karena liburan kali ini saya tidak ikut-ikutan mengutuk sekolah karena memberi liburan yang sangat sedikit atau mengutuk waktu karena berjalan begitu cepat. Ada banyak hal yang mengubah karakter saya. Terima kasih Allah telah membuat rentetan kejadian itu.

Saya yakin sisa dua hari ini masih bisa dipakai buat ngebolang ke luar kota atau apalah. Semoga liburan kali ini berkah.

Tiba-tiba sudah ganti tahun.

Baca juga:
Absen Buat Yang Sudah Bangun!
Jadi Cahaya yang Menerangi

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Ketika Cinta Berantakan

Saya tak sengaja bertemu dengan kawan-kawan SD saya di Facebook. Saya lihat satu-satu profil mereka, ada yang aneh. Mereka semua sudah punya pacar. Lalu saya melihat status teman-teman SMP saya, ada yang aneh. Statusnya tentang cinta-cintaan tidak jelas. Begitu juga dengan teman-teman saya di semester satu, mereka juga punya pacar.

Saya menulis ini bukan karena iri sama mereka. Bukan, justru saya kasihan dengan mereka. Saya ingat masa-masa sebelum beranjak dewasa. Saya dan teman-teman bersama berikrar untuk tidak pacaran. Aneh, orientasi hidup mereka kini justru untuk pacaran.

Ah, pacaran itu ‘kan biasa. Sekarang juga banyak anak kecil yang udah pacaran. Itu sih kata kamu. Pokoknya saya merasa aneh saja. Pacaran? Gunanya? Itu malah membuat cinta jadi berantakan.

Bukankah kita telah berikrar: sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah—Tuhan Semesta Alam? Kalau merasa ini tidak ada hubungannya, jawab dulu: apa pacaran itu perlu? Jangan sampai kita tidak adil, ketika pacar memanggil, kita dengan cepat datang. Namun, kalau Allah yang memanggil, kamu tahu sendiri.

Saya juga bingung, apakah kalau kita jatuh cinta dengan seseorang, kita harus pacaran dengan dia? Membingungkan. Di SMP saya dulu, banyak yang pemikirannya seperti itu. Di SMA juga begitu. Sebentar, gunanya pacaran itu apaaa? Itu malah membuat cinta jadi berantakan.

Allah terlalu baik dengan saya. Saya dipisahkan dengan kawan-kawan yang belakangan saya tahu kalau mereka punya pacar. Kawan-kawan saya itu bukan hanya dari Jakarta atau Tangerang, tapi pulau-pulau lain di Indonesia. Saya jadi berpikir, bisakah Indonesia maju kalau remajanya begini?

Berbeda dengan teman-teman SCI yang kebanyakan penjomblo sejati. Tidak pernah pacaran hingga kini. Itu tidak semua, tapi orang-orang yang dekat dengan saya adalah penjomblo sejati. Memang enak berteman dengan orang-orang yang satu pemikiran. Saya juga senang, model bermain kami adalah cewek banyak bukan cewek campur cowok.

Kalau teman-teman SCI memilih untuk tidak pacaran karena takut nilai turun atau kebingungan mencari manfaat pacaran, saudara-saudari pengurus Rohis berbeda. Mereka setia dengan Allah. Mereka secara gagah meninggalkan dia demi Dia. Ah, indahnya. Mereka tidak mau memeberantakkan cinta.

Padahal dua tahun yang lalu, ketika saya masih menjadi siswi SMP yang cupu, seseorang pernah berkata kalau jilbaber 78 (nama SMA saya) banyak yang pacaran. Justru jilbaber-jilbaber yang saya temui adalah muslimah yang setia pada Allah. Ketika orang itu mengatakan hal tersebut, saya tidak percaya. Dia jilbaber. Dia (ternyata) pacaran. Oh, teganya dia mengatakan itu perbuatan orang lain padahal itu perbuatan dia sendiri. Mungkin dia stres tidak diterima di SMA 78. Oh iya, sekarang dia kuliah di mana, ya?

Begitulah, keakraban saya dengan seseorang bisa merapuh hanya karena pacaran. Padahal, dulu kita sahabat, teman begitu hangat. Allah memberikan orang-orang yang kini berada di sekeliling saya hanya orang-orang yang baik. Mulai dari teman-teman SCI hingga saudara-saudari pengurus Rohis. Semua orang-orang baik. Begitu juga dengan lainnya. Hanya orang baik yang berada di dekat saya, meski saya bukan orang baik.

Jadi, gunanya pacaran itu apa? Itu membuat cinta jadi berantakan.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Percakapan Dua Tiang

Di dalam masjid yang terletak di suatu tempat, terdapatlah dua tiang yang suka bercakap-cakap walau penat. Kamu akan mampu mendengar percakapan mereka jika kamu menyandarkan punggungmu pada salah satu dari mereka.

Waktu itu fajar telah terbit. Ayam berkokok bersahutan. Hah? Ayam? Maksud saya suara alarm yang mirip kokok ayam telah berbunyi.
“Tiang 2, di manakah para pemuda yang hatinya terpaut dengan masjid?” tanya Tiang 1.
“Mereka sedang terburu-buru ke sekolah. Katanya sekarang sekolah dimulai pukul enam setengah. Mereka sangat takut terlambat sampai di sekolah,” jawab Tiang 2.
“Bukankah dua rakaat fajar lebih baik daripada dunia seisinya?”
Lalu masjid itu pun sunyi. Hanya ada beberapa orang yang bisa dihitung dengan jari.

Kemudian sinar matahari semakin melebat. Ketika sang matahari telah condong ke barat, kedua tiang tadi kembali bercakap-cakap meski penat.
“Tiang 2, apakah segelintir orang ini dapat disebut sebagai ‘pemuda yang hatinya terpaut dengan masjid’?” tanya Tiang 1.
“Ya, bisa saja. Meski begitu, kebanyakan dari orang-orang ini hanyalah orang-orang yang ingin menggugurkan kewajiban mereka,” jawab Tiang 2.
“Bukankah salat itu kebutuhan?”
Lalu masjid itu pun bising, mirip suara gasing. Orang-orang di dalamnya datang dan pergi begitu saja, takut ketinggalan makan siang katanya.

Setelah itu bayangan tiang-tiang tersebut panjangnya bertambah. Bahkan panjang bayangan mereka dua kali lipat dari tinggi tubuhnya.
“Tiang 2, di manakah para pemuda yang hatinya terpaut dengan masjid?” tanya Tiang 1.
“Mereka sedang syura di sekolahnya. Ya, syura, syura, syura. Mereka membahas suatu agenda baik yang bersifat rutin ataupun insidensial secara langsung di tempat yang telah disepakati sebelumnya. Oh ya, paling-paling sebentar lagi mereka datang. Biasanya mereka menunda-nunda salat karena ada yang belum selesai dibahas,” jawab Tiang 2.
“Seperti banyak saja syura itu. Syura… syura.. syura… Sampai-sampai sesuatu yang penting terabaikan. Seperti halaqah sekolah dan pembinaan anak halaqah. Hingga satu ketika itu sebulan sekali saja datang untuk halaqah. Rasanya, patutkah seperti itu, Saudara? Sistem sangat penting manfaatnya, tapi kalau halaqah sekolah tak jalan, sistem pun tak berguna, bukan? Entah, ada tidak dengar orang bertanya, orang-orang sekolah ini sibuk ya? Bukankah teknologi banyak sekarang ini? Percakapan suara dan video bisa. Kadang-kadang sesuatu sederhana pun mau syura.”
Tiang-tiang itu pun diam. Para manusia syura datang untuk menunaikan salat. Mungkin tiang-tiang itu benar, mungkin juga salah. Kamu dan saya tahu kalau syura itu bukan senang-senang melainkan penyusunan strategi dari sebuah misi mulia.

Pelan-pelan matahari mulai menuruni bukit. Kemudian ia turun menciumi kaki langit. Tiang-tiang itu memulai percakapan lagi.
“Tiang 2, di manakah para pemuda yang hatinya terpaut dengan masjid?” tanya Tiang 1.
“Sebagian dari mereka sedang dalam perjalanan, sedang sebagian lagi sedang kelelahan,” jawab Tiang 2.
“Bukankah dosa-dosa itu akan membakar serta menghancurkan pelakunya dan harus dipadamkan dengan salat?”
Percakapan kembali terhenti. Ada beberapa pemuda yang memasuki masjid. Anak-anak kecil berlari. Orang tua menasehati.

Pada akhirnya, matahari tak tampak sama sekali. Bulan sepotong malu-malu menatap bumi. Seperti biasa, tiang-tiang masjid itu bercakap-cakap.
“Tiang 2, di manakah para pemuda yang hatinya terpaut dengan masjid?” tanya Tiang 1.
“Mereka sednag mengerjakan PR yang kata mereka segunung. Mereka belajar supaya tidak bingung. Mereka terlalu asyik dengan kegiatan mereka hingga tak sadar telah tenggelam ke dasar palung,” jawab Tiang 2.
“Bukankah barangsiapa salat isya secara berjamaah, maka ia bagaikan salat setengah malam?”
Saat itu, masjid kembali hening. Mungkin Tiang 2 telah lelah menjawab pertanyaan-pertanyaan Tiang 1. Sayup-sayup terdengar suara ayat suci dilantunkan imam.

Di tengah malam, Tiang 1 kembali bertanya. Apakah ia tidak tidur? Tentu saja tidak, tiang-tiang itu tidak pernah mengantuk.
“Tiang 2, zaman sekarang ini, masih adakah pemuda yang hatinya terpaut pada masjid?” tanya Tiang 1.
“Aku tidak tahu,” untuk pertama kalinya Tiang 2 tak mampu menjawab.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Cubitable(c) 2

Satu hal yang patut disyukuri saat liburan adalah tidak ada yang memanggil saya Cubitable. Cubitable artinya dapat dicubit. Sejak saya menulis tentang Cubitable di blog saya, orang-orang di sekolah mulai menjuluki saya dengan Cubitable.

Ada juga yang menulisnya Chubby-table. Tadinya saya pikir artinya meja bundar yang gemuk. Agak membingungkan. “Jadi, Latansa itu pipinya chubby dan bisa dicubit,” jawab sang penulis setelah ditanya. Saya hanya mampu beristigfar.

Saya tidak suka dipanggil Cubitable. Jujur, saya tidak mau pipi saya dicubit. Itu mengingatkan masa kecil saya yang dikejar-kejar kakak-kakak kelas hanya karena ingin mencubit pipi saya. Mereka berteriak, “Latansa comel!” Kalian pikir saya ini apa.

Bukan hanya itu yang membuat saya tidak suka dipanggil Cubitable. Otak saya menerjemahkan kata Cubitable itu dengan arti lain. Mungkin yang terdengar di telinga saya adalah Chew-bit-able.

Padahal, sejak kecil saya selalu diajarkan seperti ini: jangan takut, apapun yang terjadi kamu tidak akan dimakan. Kalimat itu selalu terngiang-ngiang ketika saya akan maju ke depan atau ketika akan memberikan pendapat. “Cubitable, kamu pasti bisa!” ucap salah seorang teman saya. Justru, setelah saya disemangati seperti itu saya jadi takut. Di depan mata saya ada layar yang menampilkan video. Saat saya maju ke depan, ada orang yang menghampiri saya. Dia membuka mulutnya lalu rahangnya seperti melebar. Dia melahap saya dalam sekejap. Ah, untung cuma bayangan.

Anehnya, dampak Cubitable tersebut masih dapat dirasakan meski tak ada yang memanggil saya Cubitable di tempat saya berada. Kemudian saya berdoa meminta kelapangan dada, kemudahan urusan, dan ketidakkakuan lisan. Dampak Cubitable pun seketika menghilang.

________________________________
(c)Copyright by Kaire Takacchi. All rights not reserved.

Baca juga:
Cubitable(c)

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Jadi Cahaya yang Menerangi

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? … ” (Al-An’am: 122)

Mau ngabarin aja, saya udah balik dari Tafakur Alam (TA). Maklumi saja kalau beberapa hari kemarin saya menghilang dari peredaran. Sebenarnya, apa itu Tafakur Alam? Kegiatan ini berupa kegiatan outbound, materi, motivasi, temu alumni, dan pelatihan dalam rangka mengisi liburan akhir semester.

Sebelum keberangkatan, saya berbincang-bincang dengan orangtua murid tentang TA walau sebenarnya lebih banyak mengobrol tentang masa lalunya di 78. Yang paling saya ingat beliau bertanya, “Kok bayarnya cuma seratus ribu, sih? Dikasih makan, nggak? Atau makanannya lain lagi?” Saya jadi tersenyum-senyum sendiri. Beberapa menit sebelumnya, saya bertemu ibu-ibu di tempat jualan nasi uduk. Yang ditanyakan juga sama, kenapa bisa semurah itu padahal tiga hari dua malam. Begitu juga di acaranya, ada peserta yang bertanya, “Kak, vilanya bagus banget tapi kok bayarnya cuma seratus ribu? Jangan-jangan panitianya nombokin, ya?” Dalam hati, ‘nombokin sih nggak, tapi cari donasi ke mana-mana.’

Saya akui, biayanya memang murah bila dibandingkan segala fasilitas yang didapat. Saya pernah survei ke rohani lain. Untuk ziarek (Katolik) dan retret (Kristen), biayanya di atas seratus ribu rupiah. Bahkan PPD (Pekan Penghayatan Darma—Buddha) biayanya dua kali lipat. Padahal TA tahun lalu saya hanya membayar Rp80.000,00 karena diskon kalau mengajak 10 orang teman. Memang benar kata al-Qur’an, menjadi Muslim itu mudah dan murah, masuk surga pula.

Yang paling top itu muhasabahnya (introspeksi), saya jadi mendapatkan jawaban yang akhir-akhir ini saya bertanya-tanya tentangnya. Cerita nggak ya… Cerita aja deh. Kamu tahu ‘kan kalau orangtua saya tidak setuju saya masuk kelas SCI? Ternyata itu sebabnya pelajaran yang saya pelajari seperti tidak ‘nyangkut’. Percuma saja nilai A atau B di rapor. Setiap memandang rapor, saya berbisik, ‘aku tidak yakin dengan semua ini’. Bahkan beberapa waktu yang lalu, orangtua saya bertanya, “SCI itu apa?” Setelah tahu jawabnya, beliau melanjutkan, “Eldien itu SCI?” Hening sejenak. Wow, beliau tidak sadar. Bagaimana dengan pertengkaran kita saat kutunjukkan paket mana yang ingin kupilih? Bagaimana dengan SMS yang kukirim kalau aku masuk SCI? Bagaimana dengan ribut-ribut kita gara-gara SMS itu? Bagaimana dengan terlalu banyaknya jumlah SKS yang ada di raporku? Bukankah kau menandatanganinya? Bagaimana dengan iuran sekolah yang bertambah? Bagaimana… bagaimana… bagaimana… Sepertinya otak itu tidak menyimpan memori kalau saya SCI. Oke, anggap saja waktu itu beliau lupa. Anggap saja. Cukup sampai di sini.

Saya sangat suka denga tema TA tahun ini: Luminositas. Dalam KBBI artinya kecemerlangan. Di dalam astronomi luminositas berarti jumlah energi yang dipancarkan sebuah benda ke segala arah per satuan waktu. Merujuk pada tujuan diadakannya yaitu agar peserta menjadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi (Al-Ahzab ayat 46). Jadi seharusnya hari ini saya sudah bercahaya. Seharusnya begitu. Bukan, harus begitu.

Sekedar info, tadinya panitia tidak berpikir sejauh itu. Mereka hanya ingin mencari tema yang tidak ada unsur Biologinya karena kebanyakan acara Rohis memakai istilah Biologi. Contohnya Metamorfosis (ini tema TA dari tahun ke tahun yang panitia sekarang tidak mau memakainya lagi), Matriks (Mari Teruskan Generasi Islam Kreatif dan Solid), Ligamen (Liga Mentoring), juga Krenasi (Kreasi Dunia Pengetahuan dan Seni Islam). Panitia sekarang ingin membuat dobrakan dengan bukti tidak adanya acara-acara mereka yang memakai istilah biologi.

Dalam suatu kesempatan, salah seorang panitia menanyakan kepada siswi Kelas Astronomi tentang istilah-istilah yang bagus. Terbersitlah ide untuk menjadikan Luminositas sebagai tema TA tahun ini.

Tunggu saja hingga di penghujung acara TA, seorang alumni SMAN 78 memberikan materi. Isinya tidak jauh-jauh, “Jadilah Cahaya yang Menerangi.” Karena yang berbicara adalah seorang pelatih olimpiade Biologi, coba dengarkan apa yang ia katakan. “Berbicara tentang Luminositas, saya jadi ingat di Biologi itu ada istilah bioluminesensi.” Lalu beliau menjelaskan bagaimana proses terjadinya cahaya pada tubuh kunang-kunang, “… Subhanallah, kunang-kunang ini menghasilkan energi cahaya tanpa energi panas. Coba kalian tafakuri, apakah ada kunang-kunang yang begitu menyalakan cahayanya, tiba-tiba jatuh karena gosong? …” Salah seorang panitia mendesah, “Astaghfirullah…, padahal udah susah-susah cari istilah yang nggak ada Biologi-Biologinya tapi ini malah diserempet-serempetin ke Biologi.” Pembicara tersebut masih berbicara, “… Makanya, setelah kalian mendapatkan energi-energi selama Tafakur Alam, transferlah menjadi cahaya yang menerangi tanpa membakar diri kalian …” Beberapa peserta tidur nyenyak.

Masih tentang Luminositas, ada candaan di tengah panitia. ‘Sebenarnya yang sangat butuh cahaya itu justru panitianya, karena nama angkatan Rohis panitianya itu Al-Kahfi (dalam bahasa Arab berarti gua). Di dalam gua itu ‘kan suram dan gelap, lihat saja jaket mereka, warnanya abu-abu. Jaketnya sih bolak-balik, tapi kalau dibalik warnanya hitam. Sama-sama gelap. Makanya mereka bikin acara yang temanya Luminositas supaya mereka nggak gelap-gelapan lagi di dalam gua. ‘

Catatan:
Eldien = nama panggilan saya
Metamorfosis = perubahan bentuk atau susunan; peralihan bentuk (msl dr ulat menjadi kupu-kupu)
Matriks = substansi antarselular pd suatu jaringan, spt pd tulang atau jaringan tempat berkembangnya struktur, spt pd rambut dan kuku
Ligamen = jaringan ikat yg kuat yg mengikat tulang pd persendian
Krenasi = kontraksi atau pembentukan nokta tidak normal di sekitar pinggir sel setelah dimasukkan ke dalam larutan hipertonik, karena kehilangan air melalui osmosis.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Barisan Manusia Setia

Wahai kalian, ini bukan canda

meski terdengar hiperbola.

Tahukah kalian semua?

Kalian adalah laut samudra

dengan bernas petuah,

kaki-kaki yang tak pernah serau, dan

hati yang mengucap eulogi di mana-mana.

Sehingga ketika aku menolehkan wajah,

kutemui barisan manusia setia.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Kelas Sore

Tadi saya ngebolang di situs Google dan tertarik untuk membeca blog yang berjudul Antara SCI 78 dan BC SMAKP. Anehnya, jurnal tersebut tidak bisa dibuka dari Google. Kalau saya klik, yang muncul justru tulisan Firefox can’t find the server at boyyoga.multiply.com. Lalu saya mengganti-ganti kata kunci supaya memunculkan cuplikan-cuplikan yang berbeda. Saya membaca potongan jurnal secara acak. Kemudian saya capek. Capek sekali. Itu adalah blog salah satu kontak saya di Multiply, kenapa tidak buka di situsnya saja?

Isinya tentang obrolan singkat antara siswa dan alumni 78 dengan pengajar BC SMAK. Sebenarnya, saya tahu pembicaraan mereka waktu itu. Kontak saya satu ini menangkap lebih banyak karena beliau mendengar, sedangkan saya mencuri dengar. Di sini saya tidak sedang ingin membahas apa itu SCI 78 atau BC SMAK. Saya hanya ingin berbagi cerita tentang sistem.

Dulu saya ingat, teman-teman kami di aksel seperti ansos, karena mereka harus pulang lebih lama sehingga jarang berganung dengan kami. Namun, kenapa sekarang bisa sama?? Kata narasumber siswa SCI, katanya, “ jadi gini kak, kalo reguler kan 2 jam pelajaran math, berarti 2 SKS, kalo SCI dihitung 4 SKS “, kak Iqbal langsung berseloroh, “that’s not fair”. Ya iyalah, gak adil banget coba.

Ya iyalah, saya sendiri juga mengatakan itu tidak adil. Makanya, ada yang perlu diluruskan. Kenapa SCI jam pulangnya bisa sama dengan reguler? Jadi begini saudara, penjelasan narasumber yang di atas itu kurang tepat, abaikan saja. Kalau di reguler dan SCI, hitung-hitungan SKS-nya sama. Contohnya kalau Fisika 2 itu di SCI 4 SKS, di reguler juga 4 SKS. Kalau Matematika Lanjutan di SCI itu 2 SKS, di reguler juga 2 SKS. Yang membedakan adalah kalau di reguler yang namanya 4 SKS ya empat kali seminggu, tapi kalau di SCI bisa tiga bahkan dua kali seminggu. Yang 2 SKS bagaimana? Otomatis sekali seminggu.

Saya jadi ingat perbincangan saya dengan teman sekelas beberapa hari yang lalu. Saya bercerita kalau ada saat-saat tertentu, berada di antara banyak orang membuat semacam kekagetan tersendiri bagi saya. Contoh keadaan tersebut adalah ketika saya berada di kelas regular. Masuk ke kelas yang tidak seharusnya kita hadiri adalah sesuatu yang disilakan. Toh, tidak ada yang menegur. Paling-paling kalau presensi sampai di meja kita, kita hanya tinggal menyodorkan ke teman yang di sebelah.

Kenapa saya kaget? Karena orangnya banyak. Sistem SKS yang dianut sekolah membuat kelas bisa dihadiri 5-50 orang. Mengambil program SCI membuat saya terbiasa dengan orang yang sedikit, maksimal 26 orang. Tidak ada pelajaran SCI yang digabung dengan siswa regular. Sontak saat saya masuk ke kelas regular, saya kaget.

Kalau kita masuk di kelas reguler saat pagi atau siang, maksimal muridnya 40 orang, biasanya hanya 20-an atau 30-an (relatif tergantung jurusan, daya tampung, dan lain-lain). Itu tidak akan membuat kaget. Coba saja kalau sore. Kursi saja susah didapat. Biasanya siswa mengambil kursi dari ruangan lain atau duduk di lantai.

Ada banyak pelajaran yang hanya ada di kelas sore. Pelajaran ini dibuat sore hari karena terpisah dari paket. Beberapa teman SCI saya juga mengambilnya, seperti pelajaran agama. Namun karena saya mengambil Pendidikan Agama Islam (PAI), entah mengapa itu sudah sepaket dengan Paket SCI. Padahal kalau di kelas reguler PAI juga dibuat di sore hari. Contoh kelas sore: Bahasa Asing, Matematika Lanjutan, Pendidikan Agama, PLHKJ, Sejarah Umum, dan lain-lain.

Saya tahu saya kaget. Namun kegiatan itu saya ulang terus. Biasanya kekagetan memuncak ketika guru datang. Beberapa kejap setelah guru datang, murid-murid berbondong-bondong masuk. Ruangan penuh sesak. Biasanya saya selalu pergi keluar setelah guru datang.

Seumur hidup saya, saya hanya pernah bertahan satu kali dalam keadaan tersebut. ‘Wah, kalau tahu suasananya seperti ini, kenapa nggak dari dulu aja?’ begitu ujar saya dalam hati. Saya menemukan banyak karakter di ruangan tersebut. Usianya juga beragam. Heterogenitas terasa begitu indah. Detik itu juga, saya memutuskan untuk rutin mengikutinya.

Guru yang mengajar telah selesai menerangkan. Beliau duduk di kursi lalu tersenyum, “Anak-anak, ini akhir pertemuan kita di kelas ini. Semoga kalian UAS-nya sukses dan tambah sukses di semester depan.” Seketika saya baru sadar kalau itu pekan terakhir sekolah. Setelah itu sudah ujian. Saya meringis. Ah, mungkin lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Terakkhir saya berkata kepada teman saya, “… Tapi gue bersyukur kok karena tidak pernah mengalami kehabisan kursi trus duduk di lantai. Ya … mungkin itu karena biasanya kelas yang gue ambil hanya diambil segelintir orang.” Saya melihat teman saya. Dia menahan tawa. Saya tersenyum. Tawa kami meledak. “Hahahaha … contohnya agama sama Arab, ya? Hahahaha …” begitu ujarnya.

Leave a comment

Filed under Uncategorized