Apa Cita-Citamu, Nak?

di persimpangan aku
berdiri
membisu
harus kuputuskan
ke manakah ku melangkah

Pertanyaan ini sering ditanyakan oleh bapak saya. Mungkin beliau masih kesal mengapa saya dulu memutuskan masuk kelas SCI. Perbuatan-perbuatan saya saat ini memang tidak menggambarkan seorang anak SMA yang akan lulus. Saya kalau di rumah kerjanya malas-malasan. Setiap kali saya mengangkat bahu untuk pertanyaan ini, beliau lalu berkomentar, “Makanya, enak kelas dua aja, kan? Enjoy!” Terbayang masa lalu yang selalu dicekoki kalimat serupa tersebut: ‘Nak, tahun ini kamu tidak usah naik kelas saja ya, nanti papi bilang ke gurumu. Kan enak, bisa enjoy dengan masa kanak-kanak.’

Bahkan Mak pun sering mananyakan ini. Mak itu teman sekelas saya. Bedanya kalau ditanya Mak saya menjawab dengan kata-kata meskipun asal. Sampai-sampai dia pusing, “Aduh ni anak, tiap hari gonta-ganti terus jawabannya.” Kalau Mak saya yang betulan (mama) tidak lagi menanyakan ini. Saya rasa beliau sudah tahu kalau saya akan menjawab belum tahu.

Saya akui, cita-cita bukanlah masalah sepele yang bisa diangap angin lalu. Berbagai motivasi dari banyak orang mendorong saya untuk berusaha meraih cita-cita saya, tapi tidak membantu saya untuk mengetahui apa cita-cita saya.

Sebenarnya di satu setengah dekade umur saya, saya pernah mencoba mencari tahu. Saya melakukan langkah-langkah yang disuruh sebuah buku. ‘Cetak biru’ hidup saya harus dicari tanpa memedulikan tekanan, lingkungan, dan harapan orang lain, begitu saran buku. Proses tersebut tidak memakan waktu banyak. Saya seperti jatuh ke alam bawah sadar. Saya menemukan jawabannya: penulis.

***
Di alam bawah sadar, saya bertemu dengan Latansa-Latansa yang lebih muda. Saya bertemu Latansa lima tahun yang menulis di buku tulisnya. Saya tahu persis apa yang ia lakukan. Ia sedang membuat kamus bahasa bayi. Ia menyuruh adiknya berkata-kata dan ia mencatatnya. Orangtuanya saat itu tidak paham apa yang dikatakan sang adik. Latansa lima tahun bertugas sebagai penerjemah untuk mereka. Namun pekerjaan tersebut terhenti karena sebuah paradigma: anak kecil tidak mungkin membuat kamus, apalagi kamus bahasa bayi.

Lalu saya bertemu dengan Latansa delapan tahun. Saat itu nilainya untuk pelajaran seni selalu kacau. Keajaiban datang ketika tugasnya adalah membuat puisi. Nilainya naik lebih dari dua puluh poin.

Kemudian saya melihat Latansa sepuluh tahun. Saat itu dia menghadiri seminar tentang kepenulisan yang kebanyakan dihadiri oleh remaja. Dia terlihat seperti anak kecil yang habis merengek minta ikut kakaknya. Di akhir acara ada lomba menulis. Saat pengumuman diumumkanlah juara tiga, dua, dan satu. Tidak ada nama Latansa. Namun pembawa acara mengatakan ada satu tulisan yang unik. Dari bicaranya, terkesan bahwa tulisan itu tidak layak menang, tapi sayang kalau dibuat kalah. Para juri (terpaksa) memutuskan untuk menambah kategori tulisan terunik. Ternyata itu punya Latansa sepuluh tahun.

Setelah itu saya bertemu Latansa tiga belas tahun. Seorang anak muda yang saban hari duduk di depan komputernya untuk menulis blog. Orang-orang mengiranya seorang dewasa berumur tiga puluh tahun. Dia tersenyum-senyum sendiri, ‘Mmm… Thirteen going thirty… Sounds cool….’ Seiring berjalannya waktu, ia mulai jujur dengan identitasnya.
***

Latansa yang sekarang Latansa yang bingung. Saya pernah mengatakan ke orangtua saya kalau saya ingin masuk Fakultas Sastra. Saya mengatakannya sambil tertawa-tawa kecil, “Hahaha, kalo gitu, gimana kalo aku masuk sastra? Haha.” Dikira mereka saya sedang melawak. Padahal itulah saat terserius saya ketika ditanya pertanyaan keramat. Ya, seserius saat kita bercanda.

Selanjutnya hari-hari saya diisi dengan kegiatan menghibur diri. ‘Tenanglah sayang, kau tetap akan menjadi penulis apapun pekerjaanmu nanti,’ bisik hati saya. Awalnya saya menjadi tenang, tapi itu tak lama. Lingkungan membuat saya harus berpikir keras. Kuliah apa nanti? Di mana?

Kini kalau ada orang yang bertanya, “Apa cita-citamu, Nak?” Kata penulis tidak lagi memantul-mantul di rongga mulut saya. Kata itu telah disimpan kemabli dalam alam bawah sadar. Akibatnya otak saya bekerja keras memunculkan jawaban yang rasional. Itulah sebabnya saya hanya diam.

jangan lagi
usikku meski aku tak tahu
ke mana lagi aku berlari
kejar harapan
yang sempat mengelam
biarkanlah
kuhidup dengan nafas yang baru
nafas yang menyimpan kedamaian
di persimpangan
aku berdiri

(Di Persimpangan Aku Berdiri–Edcoustic)

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s