Buku Tahunan Siswa

“…. Makanya, kamu jangan masuk SCI! Jadinya di angkatan saya kamu nggak diterima, di angkatan kamu nggak diterima juga.”

***
Memang susah menjadi murid dari kelas percepatan. Susah dengan pelajarannya, gurunya, nilainya, IP-nya, sistemnya, bahkan statusnya. Kalau dilihat dari tahun masuk, saya adalah anggota angkatan Saharsa (2009-2012). Namun jika dilihat dari tahun lulus, status saya disamakan dengan Lego (2008-2011).

Tadi siang, teman saya menyeletuk, “Ah, Latansa ini! EC (English Club) nggak ikut foto, Rohis (Rohani Islam) nggak ikut foto. Maunya apa, sih?”
“Nggak diajak, Kak …” jawab saya dengan nada sedih.
“Nggak diajak gimana? Kamunya aja yang nggak mau ikutan.”
“Bukannya gitu. Waktu foto Rohis, ada nggak orang-orang kayak Citra, Faisal, sama Bang Yono? Ada, nggak?” Saya menyebutkan nama-nama pengurus Rohis yang sekelas dengan saya.
“Mmm … nggak ada sih.”
“Nah, itu dia masalahnya! Sebenarnya kami telah menawarkan diri, tapi nggak diajak.”
“Eh, serius nggak diajak?”
“Iya.”
“Aduh, maaf ya. Aku kira kalian tahu. Maaf banget ya.” Saya jadi tidak enak sendiri gara-gara membuatnya kasihan pada kami. Mungkin awalnya dia hanya ingin bermain ledek-ledekan tetapi, ternyata masalahnya sepelik itu.

Beberapa hari sebelumnya, saya menemui pengurus EC angkatan Lego. Saya bertanya, “Kak, saya ikutan foto buat BTS, nggak?”
“Wah, nggak tahu ya. Saya juga bingung. Makanya, kamu jangan masuk SCI! Jadinya di angkatan saya kamu nggak diterima, di angkatan kamu nggak diterima juga,” begitu katanya. Saya langsung terdiam, lalu pamit pergi.
***

Hal yang kurang saya sukai adalah saya masuk di BTS angkatan atas—Lego. Saya harus membeli suatu Buku Tahunan yang di antara lima ratus orang di dalamnya hanya sekitar lima puluhan yang saya kenal. Sisanya? Entahlah.

Oleh sebab itu, seharusnya saya ikut berfoto dengan anggota ekskul dan kerohanian dari angkatan atas. Teman-teman saya di SCI banyak yang sudah foto, baik di ekskulnya maupun kerohanian. Rohani Katolik (Rokat), Rohani Kristen (Rokris), Rohani Buddha (Robud), semuanya sudah. Teman-teman saya bingung karena saya belum bercerita apa-apa tentang sesi pemotretan. “Tanz, lu udah foto bareng anak Rohis?” “Mmm … nggak diajak …” “Lho, kok bisa?” “Mmm … ya gitu deh …”

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s