Kelas Sore

Tadi saya ngebolang di situs Google dan tertarik untuk membeca blog yang berjudul Antara SCI 78 dan BC SMAKP. Anehnya, jurnal tersebut tidak bisa dibuka dari Google. Kalau saya klik, yang muncul justru tulisan Firefox can’t find the server at boyyoga.multiply.com. Lalu saya mengganti-ganti kata kunci supaya memunculkan cuplikan-cuplikan yang berbeda. Saya membaca potongan jurnal secara acak. Kemudian saya capek. Capek sekali. Itu adalah blog salah satu kontak saya di Multiply, kenapa tidak buka di situsnya saja?

Isinya tentang obrolan singkat antara siswa dan alumni 78 dengan pengajar BC SMAK. Sebenarnya, saya tahu pembicaraan mereka waktu itu. Kontak saya satu ini menangkap lebih banyak karena beliau mendengar, sedangkan saya mencuri dengar. Di sini saya tidak sedang ingin membahas apa itu SCI 78 atau BC SMAK. Saya hanya ingin berbagi cerita tentang sistem.

Dulu saya ingat, teman-teman kami di aksel seperti ansos, karena mereka harus pulang lebih lama sehingga jarang berganung dengan kami. Namun, kenapa sekarang bisa sama?? Kata narasumber siswa SCI, katanya, “ jadi gini kak, kalo reguler kan 2 jam pelajaran math, berarti 2 SKS, kalo SCI dihitung 4 SKS “, kak Iqbal langsung berseloroh, “that’s not fair”. Ya iyalah, gak adil banget coba.

Ya iyalah, saya sendiri juga mengatakan itu tidak adil. Makanya, ada yang perlu diluruskan. Kenapa SCI jam pulangnya bisa sama dengan reguler? Jadi begini saudara, penjelasan narasumber yang di atas itu kurang tepat, abaikan saja. Kalau di reguler dan SCI, hitung-hitungan SKS-nya sama. Contohnya kalau Fisika 2 itu di SCI 4 SKS, di reguler juga 4 SKS. Kalau Matematika Lanjutan di SCI itu 2 SKS, di reguler juga 2 SKS. Yang membedakan adalah kalau di reguler yang namanya 4 SKS ya empat kali seminggu, tapi kalau di SCI bisa tiga bahkan dua kali seminggu. Yang 2 SKS bagaimana? Otomatis sekali seminggu.

Saya jadi ingat perbincangan saya dengan teman sekelas beberapa hari yang lalu. Saya bercerita kalau ada saat-saat tertentu, berada di antara banyak orang membuat semacam kekagetan tersendiri bagi saya. Contoh keadaan tersebut adalah ketika saya berada di kelas regular. Masuk ke kelas yang tidak seharusnya kita hadiri adalah sesuatu yang disilakan. Toh, tidak ada yang menegur. Paling-paling kalau presensi sampai di meja kita, kita hanya tinggal menyodorkan ke teman yang di sebelah.

Kenapa saya kaget? Karena orangnya banyak. Sistem SKS yang dianut sekolah membuat kelas bisa dihadiri 5-50 orang. Mengambil program SCI membuat saya terbiasa dengan orang yang sedikit, maksimal 26 orang. Tidak ada pelajaran SCI yang digabung dengan siswa regular. Sontak saat saya masuk ke kelas regular, saya kaget.

Kalau kita masuk di kelas reguler saat pagi atau siang, maksimal muridnya 40 orang, biasanya hanya 20-an atau 30-an (relatif tergantung jurusan, daya tampung, dan lain-lain). Itu tidak akan membuat kaget. Coba saja kalau sore. Kursi saja susah didapat. Biasanya siswa mengambil kursi dari ruangan lain atau duduk di lantai.

Ada banyak pelajaran yang hanya ada di kelas sore. Pelajaran ini dibuat sore hari karena terpisah dari paket. Beberapa teman SCI saya juga mengambilnya, seperti pelajaran agama. Namun karena saya mengambil Pendidikan Agama Islam (PAI), entah mengapa itu sudah sepaket dengan Paket SCI. Padahal kalau di kelas reguler PAI juga dibuat di sore hari. Contoh kelas sore: Bahasa Asing, Matematika Lanjutan, Pendidikan Agama, PLHKJ, Sejarah Umum, dan lain-lain.

Saya tahu saya kaget. Namun kegiatan itu saya ulang terus. Biasanya kekagetan memuncak ketika guru datang. Beberapa kejap setelah guru datang, murid-murid berbondong-bondong masuk. Ruangan penuh sesak. Biasanya saya selalu pergi keluar setelah guru datang.

Seumur hidup saya, saya hanya pernah bertahan satu kali dalam keadaan tersebut. ‘Wah, kalau tahu suasananya seperti ini, kenapa nggak dari dulu aja?’ begitu ujar saya dalam hati. Saya menemukan banyak karakter di ruangan tersebut. Usianya juga beragam. Heterogenitas terasa begitu indah. Detik itu juga, saya memutuskan untuk rutin mengikutinya.

Guru yang mengajar telah selesai menerangkan. Beliau duduk di kursi lalu tersenyum, “Anak-anak, ini akhir pertemuan kita di kelas ini. Semoga kalian UAS-nya sukses dan tambah sukses di semester depan.” Seketika saya baru sadar kalau itu pekan terakhir sekolah. Setelah itu sudah ujian. Saya meringis. Ah, mungkin lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Terakkhir saya berkata kepada teman saya, “… Tapi gue bersyukur kok karena tidak pernah mengalami kehabisan kursi trus duduk di lantai. Ya … mungkin itu karena biasanya kelas yang gue ambil hanya diambil segelintir orang.” Saya melihat teman saya. Dia menahan tawa. Saya tersenyum. Tawa kami meledak. “Hahahaha … contohnya agama sama Arab, ya? Hahahaha …” begitu ujarnya.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s