Percakapan Dua Tiang

Di dalam masjid yang terletak di suatu tempat, terdapatlah dua tiang yang suka bercakap-cakap walau penat. Kamu akan mampu mendengar percakapan mereka jika kamu menyandarkan punggungmu pada salah satu dari mereka.

Waktu itu fajar telah terbit. Ayam berkokok bersahutan. Hah? Ayam? Maksud saya suara alarm yang mirip kokok ayam telah berbunyi.
“Tiang 2, di manakah para pemuda yang hatinya terpaut dengan masjid?” tanya Tiang 1.
“Mereka sedang terburu-buru ke sekolah. Katanya sekarang sekolah dimulai pukul enam setengah. Mereka sangat takut terlambat sampai di sekolah,” jawab Tiang 2.
“Bukankah dua rakaat fajar lebih baik daripada dunia seisinya?”
Lalu masjid itu pun sunyi. Hanya ada beberapa orang yang bisa dihitung dengan jari.

Kemudian sinar matahari semakin melebat. Ketika sang matahari telah condong ke barat, kedua tiang tadi kembali bercakap-cakap meski penat.
“Tiang 2, apakah segelintir orang ini dapat disebut sebagai ‘pemuda yang hatinya terpaut dengan masjid’?” tanya Tiang 1.
“Ya, bisa saja. Meski begitu, kebanyakan dari orang-orang ini hanyalah orang-orang yang ingin menggugurkan kewajiban mereka,” jawab Tiang 2.
“Bukankah salat itu kebutuhan?”
Lalu masjid itu pun bising, mirip suara gasing. Orang-orang di dalamnya datang dan pergi begitu saja, takut ketinggalan makan siang katanya.

Setelah itu bayangan tiang-tiang tersebut panjangnya bertambah. Bahkan panjang bayangan mereka dua kali lipat dari tinggi tubuhnya.
“Tiang 2, di manakah para pemuda yang hatinya terpaut dengan masjid?” tanya Tiang 1.
“Mereka sedang syura di sekolahnya. Ya, syura, syura, syura. Mereka membahas suatu agenda baik yang bersifat rutin ataupun insidensial secara langsung di tempat yang telah disepakati sebelumnya. Oh ya, paling-paling sebentar lagi mereka datang. Biasanya mereka menunda-nunda salat karena ada yang belum selesai dibahas,” jawab Tiang 2.
“Seperti banyak saja syura itu. Syura… syura.. syura… Sampai-sampai sesuatu yang penting terabaikan. Seperti halaqah sekolah dan pembinaan anak halaqah. Hingga satu ketika itu sebulan sekali saja datang untuk halaqah. Rasanya, patutkah seperti itu, Saudara? Sistem sangat penting manfaatnya, tapi kalau halaqah sekolah tak jalan, sistem pun tak berguna, bukan? Entah, ada tidak dengar orang bertanya, orang-orang sekolah ini sibuk ya? Bukankah teknologi banyak sekarang ini? Percakapan suara dan video bisa. Kadang-kadang sesuatu sederhana pun mau syura.”
Tiang-tiang itu pun diam. Para manusia syura datang untuk menunaikan salat. Mungkin tiang-tiang itu benar, mungkin juga salah. Kamu dan saya tahu kalau syura itu bukan senang-senang melainkan penyusunan strategi dari sebuah misi mulia.

Pelan-pelan matahari mulai menuruni bukit. Kemudian ia turun menciumi kaki langit. Tiang-tiang itu memulai percakapan lagi.
“Tiang 2, di manakah para pemuda yang hatinya terpaut dengan masjid?” tanya Tiang 1.
“Sebagian dari mereka sedang dalam perjalanan, sedang sebagian lagi sedang kelelahan,” jawab Tiang 2.
“Bukankah dosa-dosa itu akan membakar serta menghancurkan pelakunya dan harus dipadamkan dengan salat?”
Percakapan kembali terhenti. Ada beberapa pemuda yang memasuki masjid. Anak-anak kecil berlari. Orang tua menasehati.

Pada akhirnya, matahari tak tampak sama sekali. Bulan sepotong malu-malu menatap bumi. Seperti biasa, tiang-tiang masjid itu bercakap-cakap.
“Tiang 2, di manakah para pemuda yang hatinya terpaut dengan masjid?” tanya Tiang 1.
“Mereka sednag mengerjakan PR yang kata mereka segunung. Mereka belajar supaya tidak bingung. Mereka terlalu asyik dengan kegiatan mereka hingga tak sadar telah tenggelam ke dasar palung,” jawab Tiang 2.
“Bukankah barangsiapa salat isya secara berjamaah, maka ia bagaikan salat setengah malam?”
Saat itu, masjid kembali hening. Mungkin Tiang 2 telah lelah menjawab pertanyaan-pertanyaan Tiang 1. Sayup-sayup terdengar suara ayat suci dilantunkan imam.

Di tengah malam, Tiang 1 kembali bertanya. Apakah ia tidak tidur? Tentu saja tidak, tiang-tiang itu tidak pernah mengantuk.
“Tiang 2, zaman sekarang ini, masih adakah pemuda yang hatinya terpaut pada masjid?” tanya Tiang 1.
“Aku tidak tahu,” untuk pertama kalinya Tiang 2 tak mampu menjawab.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s