Ketika Cinta Berantakan

Saya tak sengaja bertemu dengan kawan-kawan SD saya di Facebook. Saya lihat satu-satu profil mereka, ada yang aneh. Mereka semua sudah punya pacar. Lalu saya melihat status teman-teman SMP saya, ada yang aneh. Statusnya tentang cinta-cintaan tidak jelas. Begitu juga dengan teman-teman saya di semester satu, mereka juga punya pacar.

Saya menulis ini bukan karena iri sama mereka. Bukan, justru saya kasihan dengan mereka. Saya ingat masa-masa sebelum beranjak dewasa. Saya dan teman-teman bersama berikrar untuk tidak pacaran. Aneh, orientasi hidup mereka kini justru untuk pacaran.

Ah, pacaran itu ‘kan biasa. Sekarang juga banyak anak kecil yang udah pacaran. Itu sih kata kamu. Pokoknya saya merasa aneh saja. Pacaran? Gunanya? Itu malah membuat cinta jadi berantakan.

Bukankah kita telah berikrar: sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah—Tuhan Semesta Alam? Kalau merasa ini tidak ada hubungannya, jawab dulu: apa pacaran itu perlu? Jangan sampai kita tidak adil, ketika pacar memanggil, kita dengan cepat datang. Namun, kalau Allah yang memanggil, kamu tahu sendiri.

Saya juga bingung, apakah kalau kita jatuh cinta dengan seseorang, kita harus pacaran dengan dia? Membingungkan. Di SMP saya dulu, banyak yang pemikirannya seperti itu. Di SMA juga begitu. Sebentar, gunanya pacaran itu apaaa? Itu malah membuat cinta jadi berantakan.

Allah terlalu baik dengan saya. Saya dipisahkan dengan kawan-kawan yang belakangan saya tahu kalau mereka punya pacar. Kawan-kawan saya itu bukan hanya dari Jakarta atau Tangerang, tapi pulau-pulau lain di Indonesia. Saya jadi berpikir, bisakah Indonesia maju kalau remajanya begini?

Berbeda dengan teman-teman SCI yang kebanyakan penjomblo sejati. Tidak pernah pacaran hingga kini. Itu tidak semua, tapi orang-orang yang dekat dengan saya adalah penjomblo sejati. Memang enak berteman dengan orang-orang yang satu pemikiran. Saya juga senang, model bermain kami adalah cewek banyak bukan cewek campur cowok.

Kalau teman-teman SCI memilih untuk tidak pacaran karena takut nilai turun atau kebingungan mencari manfaat pacaran, saudara-saudari pengurus Rohis berbeda. Mereka setia dengan Allah. Mereka secara gagah meninggalkan dia demi Dia. Ah, indahnya. Mereka tidak mau memeberantakkan cinta.

Padahal dua tahun yang lalu, ketika saya masih menjadi siswi SMP yang cupu, seseorang pernah berkata kalau jilbaber 78 (nama SMA saya) banyak yang pacaran. Justru jilbaber-jilbaber yang saya temui adalah muslimah yang setia pada Allah. Ketika orang itu mengatakan hal tersebut, saya tidak percaya. Dia jilbaber. Dia (ternyata) pacaran. Oh, teganya dia mengatakan itu perbuatan orang lain padahal itu perbuatan dia sendiri. Mungkin dia stres tidak diterima di SMA 78. Oh iya, sekarang dia kuliah di mana, ya?

Begitulah, keakraban saya dengan seseorang bisa merapuh hanya karena pacaran. Padahal, dulu kita sahabat, teman begitu hangat. Allah memberikan orang-orang yang kini berada di sekeliling saya hanya orang-orang yang baik. Mulai dari teman-teman SCI hingga saudara-saudari pengurus Rohis. Semua orang-orang baik. Begitu juga dengan lainnya. Hanya orang baik yang berada di dekat saya, meski saya bukan orang baik.

Jadi, gunanya pacaran itu apa? Itu membuat cinta jadi berantakan.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s