Monthly Archives: January 2011

Surat Kecil dari Papi

“Ini,” orang itu memasukkan tangan kirinya ke saku celana lalu mengeluarkan amplop putih, “ada surat dari papanya Latansa.” Teman-teman melirik pada saya. Saya juga heran. Surat? Sudah tahun 2011 masih surat-suratan?

Orang ini bukan pak pos. Tak ada unsur oranye dalam tampilannya. Ia memakai kemeja, kardigan, dan celana bahan. Ia juga tidak membawa papan beserta pulpen untuk meminta tanda tangan saya. Ia hanya berpesan satu hal: jaga baik-baik surat tersebut.

Lalu orang itu melambaikan amplop putih itu. Membolak-balikkan amplop sambil mempertimbangkan sesuatu. “Latansa, boleh saya bacakan di depan teman-teman kamu? Bagaimana? Mengizinkan?” Saya mengangguk tanda setuju. “Mengizinkan? Oke, akan saya bacakan.” Orang itu lalu merobek amplop tersebut.

Orang itu kemudian membuka lipatan kertas. Ia mulai membacanya,

“Latansa Anakku ……

Bacalah surat ini baik-baik, karena Papi mungkin suatu saat tak lagi bersamamu …..

Prestasi demi prestasi kamu raih. Kamu selalu mencoba menjadi yg terbaik.

Banyak orang berkata, bahwa anak perempuan tidak usah berpendidikan tinggi dan berprestasi, karena kata orang anak perempuan dibatasi oleh dirinya sendiri. Tapi kamu tahu, Papi berpandangan lain. Papi selalu ingin anak perempuannyapun bisa meraih prestasi terbaiknya, karena ke depan bagi anak perempuan dunia adalah tidak terbatas.

Seperti pada tiap tulisanmu yg tak terbatas, karena setiap kamu menulis pasti masih ada ruang atau kertas yg tak kan habis untuk ditulis.

Saat ini, waktu-waktu ini adalah saat penting bagimu untuk menulis dg cemerlang masa yg kamu lalui, menulisi kehidupanmu dg cita-cita, dan saat yg penting bagimu untuk meletakkan masa depanmu di tempat yg benar. Maka, raihlah itu semua dg terus belajar, terus bersungguh-sungguh, dan terus berprestasi.

Masa depanmu berada di telapak tanganmu. Mimpi orang tuamu akan masa depanmu adalah sama dengan mimpimu.

Raihlah apapun yg belum bisa diraih oleh orang tuamu.

Dan, lebih dari segalanya, apapun prestasi yang kau raih, Papi ingin kamu tahu bahwa Papi bangga untuk senantiasa mengatakan:
“Kamu Adalah Anak Kebanggaanku”.”

“Boleh saya bacakan lagi bagian terakhirnya?” Saya mengangguk lagi.

“Dan, lebih dari segalanya, apapun prestasi yang kau raih, Papi ingin kamu tahu bahwa Papi bangga untuk senantiasa mengatakan:
“Kamu Adalah Anak Kebanggaanku”.

Jakarta, Desember 2010.

Salam ….”

Orang itu terlihat mengagumi isi surat. Ia melipat lagi lalu memberikan pada saya, “Jaga baik-baik ya, Nak! Saya ingat ketika saya diberi surat oleh ayah saya sebelum SNMPTN. Selama 20 tahun saya simpan. Asalkan saja tidak ada banjir sialan di 2007 itu, sekarang masih ada.”

Terima kasih, Pak! Terima kasih sudah mengantarkan surat kecil dari papi.

1 Comment

Filed under Uncategorized

Hampir dengan Batas Waktu

Ketika kamu tahu kalau kamu hampir dengan batas waktu, apa yang akan kamu lakukan?

Tepat satu tahun yang lalu, saya memulai hidup saya sebagai SCI. Berat juga menyebutnya, Siswa Cerdas Istimewa. Ah, bahkan saya sendiri merasa tidak pantas menyandang nama itu. Berat, berat sekali. Namun ini jalan yang kupilih.

Kemarin saya mengecek siapa saja sang SCI 4, SCI di bawah saya. Tujuh belas orang, kasihan ya sedikit. Saya tak mengerti kenapa syarat untuk menjadi SCI dipersulit. Apa pihak sekolah kecewa dengan kelas SCI yang saya masuk di dalamnya ini? Sistem IPK junior saya sedikit aneh. Skalanya 0-10. Untuk SCI IP minimal 8,5. Nge-cut banyak orang.

Saya baca sekali lagi nama-nama mereka. Kok, namanya familiar ya? Kalau tahun lalu saya merasa familiar dengan nama teman-teman SCI walau belum berkenalan, itu wajar. Di semester awal saya menandai siapa-siapa saja yang ingin masuk kelas SCI. Sebelum takdir berkata, saya sudah memprediksi siapa-siapa yang benar-benar menjadi SCI nantinya dan yang tidak. Berbeda dengan sekarang, saya tidak membuat bayangan sama sekali.

Lho, ini ‘kan nama teman-teman saya? Begitu kata saya dalam hati. Ada enam orang yang saya kenal. Lima orang dari Kalam (semacam halaqah, liqa, atau mentoring). Satu orang lagi saya kenal juga karena dia Rohis Muda (aktivis Rohis kelas X). Oke, berarti saya kenal semua muslimah yang ada di situ. Tapi tapi tapi, kok mereka nggak pernah cerita-cerita sama saya kalau mau jadi SCI?

Ya sudah, biar saja. Saya balas dengan doa.Semoga saja, SCI 4 diberikan jalan yang sulit sehingga mereka menemukan nikmatnya masa SMA, supaya mereka kuat, supaya mereka menjadi pribadi yang tangguh menghadapi persoalan hidup di masa mendatang.

Sekarang, sudah semester akhir buat saya. Beberapa teman saya terserang penyakit mau lulus. Takut UN, takut SIMAK, takut SNMPTN, takut ujian macam-macam. Entah kenapa, saya tidak takut semua itu meski saya tidak mempunyai jaminan apa pun. Saya juga takut, takut meninggalkan Rohis. Padahal dulu saya sering bercanda mengatakan ke pengurus lain kalau di semester akhir saya vakum. ‘Nggaklah, nggak mungkin itu. Emangnya saya sesibuk apa sampai segitunya?’ begitu ujar benak ini.

Satu hari sebelum semester akhir dimulai, teman saya mengirim SMS, “Di semester 4 ini, kita off dari Rohis. Kamu sudah dapat penggantinya?” Off? Pengganti? Jadi dia mengajak untuk vakum? Waktu itu saya mau menangis, tumben. Hanya beberapa karakter tapi itu menohok. Orangtua saya sudah menyuruh saya mengundurkan diri sebelum saya resmi dilantik tapi saya biasa saja. (Belakangan mereka tahu banyak juga SCI yang jadi pengurus Rohis dan mereka baik-baik saja). Bagaimanapun pada akhirnya sekarang saya tetap menjadi pengurus dan (yah) masih pasif dari dulu.

Sempat saya berpikir, coba saja kalau saya bukan SCI, saya:
1. Bisa aktif mengurus Rohis
2. Bisa mengikuti pelajaran yang diinginkan
3. Akan punya teman banyak
4. Bisa ikut organisasi lain di luar sekolah
5. Tidak akan diteror oleh yang namanya UN, SIMAK, SNMPTN, dll

Namun hidup itu indah, yakinlah. Beberapa jenak setelah itu saya malah bersyukur menjadi SCI karena saya:
1. Tetap bisa mengurus Rohis. Saat debat Calon Ketua Rohis, salah satu penonton mengajukan pertanyaan apa SCI bisa dijadikan pengurus sementara mereka sangat sibuk tapi Rohis tidak asyik kalau tidak ada mereka, lagipula jumlah mereka banyak. Justru karena kami SCI, kami memberikan kontribusi walau sedikit. Jika kami bukan SCI kami belum tentu berkontribusi. Kami tahu, tidak selamanya kami berkesempatan untuk berkontribusi jadi kami manfaatkan sebaik-baiknya kesempatan yang ada.
2. Mendapatkan pelajaran yang tak dapat diduga sebelumnya. Saya mendapat pelajaran kasih sayang, persahabatan, persaingan surga, pemberian kekuatan melalui ucapan semangat, dan masih banyak lagi. Mungkin itu bisa saja saya dapatkan di tempat lain, tapi menjadi bagian dari SCI itu adalah sebuah keberuntungan tak ternilai. Sekedar catatan, untuk poin persaingan surga, belum tentu bisa didapat di tempat lain.
3. Mempunyai teman-teman hebat. Kami tahu waktu kami tidak banyak. Kami tahu akan fatal jika kami menyakiti teman. Kami tahu hidup tak bisa sendiri. Maka kami menjaga hubungan sebaik mungkin karena satu hal: perjalanan kita tak mudah, mari lewati bersama. Teman-teman SCI menyadari kalau mereka berbuat salah mereka tidak akan sempat meminta maaf karena kata kelulusan datang begitu cepatnya.
4. Berorganisasi dengan baik. Saya menjadi anggota OSIS saat semester dua. Saya bisa membantu teman-teman organisasi luar sekolah walau jauh dari kata cukup.
5. Menjadi rajin. Coba saja kalau saya kini duduk di kelas reguler, mungkin saya hari ini bersantai-santai ria hingga tak sadar waktu tetap berjalan. Justru karena saya tahu saya banyak materi yang belum saya kuasai dibandingkan anak-anak yang reguler itulah yang membuat saya rajin (anggap saja begitu), dan lain-lain.

Setahun yang indah sudah dilewati. Sekarang waktunya menikmati detik-detik yang tersisa. Baiknya diingat bahwa hal-hal yang patut disyukuri ternyata berasal dari satu alasan: karena kita hampir dengan batas waktu.

Berusahalah untuk duniamu seakan-akan kau hidup abadi, beribadahlah untuk akhiratmu seakan-akan kau mati esok.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Tansa

“Baguskanlah namamu, karena dengan nama itu kamu akan dipanggil pada hari kiamat nanti. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Hiban).”

Saya bukan mau menyalahkan, tapi hanya ingin mengoreksi. Mohon jangan ada yang tersinggung.

Nama depan saya adalah Latansa.

لا تنسى

Dikutip dari Al Qashash 28: 77 dan Al A’la 87: 6. Terdiri dari dua kata.

لا (La) berarti jangan.

تنسى (Tansa) berarti (kamu) lupa.

Jadi, tolong jangan panggil saya Tansa karena itu membuat artinya berbalik 180 derajat. Terima kasih.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Dongeng Anak Terkadang Berbahaya

“Pada suatu ketika …”

Beberapa waktu yang lalu saya main ke kamar adik (12), di sana saya menemukan dua buku cerita yang sangat kontras. Dua buku itu adalah Cerita Al Quran dan Kumpulan Dongeng Dunia Paling Inspiratif untuk Anak. Popularitas ceritanya berbeda sekali.

Coba tanyakan kepada adik-adik atau anak-anak kita tentang kisah yang ia tahu. Bagaimanakah kisah Alexander Agung, Haman, Harut, Namrudz, Balqis, Asiyah, Zulaikha atau 25 nabi? Sekarang, coba kita ganti pertanyaannya. Bagaimanakah kisah Putri Tidur, Jack, Pangeran Kodok, Aladin, Cinderella, Rapunzel, atau Putri Salju? Silakan cari tahu jawabannya.

Hal yang perlu kita cermati, ternyata dongeng anak terkadang berbahaya. Dalam suatu diskusi bersama dua orang saudari, dongeng yang dikisahkan pada anak secara tidak langsung mempengaruhi pola pikir dan tingkah laku mereka. Jadi, jangan kaget kalau perilaku buruk anak-anak dan remaja berasal dari dongeng yang ia dapat.

Mengapa bisa berbahaya? Mari kita telisik ceritanya.

Putri Tidur (Grimm Brothers)
Singkat cerita, sang Putri tertidur karena jarinya tertusuk jarum. Kutukannya hilang setelah ada pangeran yang menciumnya. Bayangkan, seorang remaja putra mencium seorang remaja putri (dikisahkan saat itu usia sang Putri 15 tahun) yang sedang tidur. Jangan heran kalau remaja banyak yang berciuman sebelum nikah.

Jack (Flora Annie Steel)
Jack hidup bersama dengan ibunya. Mereka sangatlah miskin dan ibunya yang sudah tua itu menghidupi mereka dengan bekerja sebagai penenun, tetapi Jack sendiri adalah anak yang sangat malas. Ibunya kesal dan menyuruh ia bekerja. Jack tidak menggunakan pikirannya sehingga ketika ia bekerja pada penjaga ternak, ia malah memanggul keledai yang merupakan upahnya ke rumah. Seorang gadis kaya tertawa melihatnya kemudian menjadi bisa berbicara (gadis itu bisu dan baru bisa bicara setelah tertawa dan tak pernah tertawa seumur hidupnya). Akhirnya Jack menikah dengan gadis kaya dan menjadi orang kaya juga. Jangan heran kalau banyak anak yang malas tetapi berharap yang muluk-muluk.

Ada juga kisah Jack dan Pohon Ajaib. Singkat cerita, Jack menukarkan sapi dengan benih pohon (Sapi ditukar kambing ditukar ayam ditukar telur ditukar benih pohon). Waktu itu sistem barter berlaku. Ibu Jack kesal dan membuang benih itu. Ternyata tumbuh pohon yang menjulur ke istana di atas awan. Jangan heran kalau ada anak yang suka membeli barang yang daya gunanya rendah dan tak sebanding dengan harganya.

Pangeran Kodok (Grimm Brothers)
Kodok yang sebenarnya pangeran menolong mengambilkan bola emas putri raja yang terjatuh di sumur setelah putri berjanji akan membiarkan kodok duduk di meja putri, makan dari piring putri, minum dari gelas putri, dan tidur di ranjang putri. Namun pada akhirnya putri tidak menepati janjinya. Ia baru menepati janjinya setelah dimarahi raja. Jangan heran kalau banyak anak yang melanggar janjinya.

Aladin
Aladin punya lampu ajaib yang di dalamnya terdapat jin yang dapat mengabulkan semua permintaannya. Jangan heran kalau banyak anak yang sedikit-sedikit minta ini sedikit-sedikit minta itu, mungkin kita dianggap jin lampu ajaib.

Cinderella (Charles Perrault)
Ini dongeng terkenal, banyak yang sudah tahu ceritanya. Jangan heran kalau ada anak yang secara diam-diam pergi dari rumahnya ke pesta padahal orangtuanya melarang.

Rapunzel
Rapunzel tinggal di menara yang tinggi dan ia tidak bisa ke mana-mana. Ia membiarkan pangeran masuk ke kamarnya dengan cara menurunkan rambutnya yang panjang lalu pangeran menaikinya. Wah, membiarkan seorang laki-laki masuk kamar.

Putri Salju (Hans Christian Andersen)
Ini juga terkenal. Ya, di situ Putri Salju tinggal di rumah kurcaci. Seorang gadis tidur bersama tujuh orang laki-laki. Wew.

Tiba-tiba salah satu saudari menghentikan pembicaraan, “Bentar deh, kok kita kayak orangtua, ya?” Iya ya. Ngapain juga kami ngurusin perkembangan pola pikir dan tingkah laku anak.

.: Jadi, bukankah beralih ke kisah Al Quran adalah pilihan terbaik?

“… akhirnya mereka hidup bahagia selamanya.’

1 Comment

Filed under Uncategorized